
"Arita, apakah kau bisa mendengar suaraku?" ucap Mona dengan sedikit terkejut tatkala ia mendapati kelopak mata milik Arita mulai terbuka. Tangannya dengan sigap menggenggam jemari staffnya, dan mengelusnya perlahan.
"Hei, apakah ada yang sakit?" paniknya dengan spontan saat mendengar ringisan kecil dari bibir si wanita. Wajah pucat ibu satu anak itu, membuat Mona sangat khawatir. Terutama tatapan kosong yang ditunjukkan oleh Arita.
Tak ada satupun jawaban yang terucap dari bibirnya. Arita hanya diam dan menatap langit-langit ruangan itu, tanpa berkedip sekalipun. Tak terasa, sebuah cairan bening mulai menetes dari ujung kelopak matanya.
"Keep calm, okey? Kita semua ada buat kamu," ucapnya berusaha menenangkan perasaan Arita yang sudah sangat ketara, jika wanita itu tengah memikirkan hal yang dijumpainya.
"Baron ..." satu kata yang berhasil membuat Mona merasa sedikit lega. Dengan meletakkan tangan Arita di atas kasur, ia berniat keluar kamar untuk memanggil Baron, suami, serta adik laki-lakinya.
Namun, Arita justru mengeratkan genggamannya pada tangan sang atasan, seolah tak ingin ditinggalkan sendirian di kamar tersebut. Tatapan matanya perlahan beralih pada netra Mona, berusaha menyalurkan perasaannya melalui pandangan mata.
"Its oke, i feel you. Biar suami dan adikku yang ajak Baron kemari," paparnya yang membuat hati Arita sepenuhnya terasa lega.
Lantaran pintu kamar yang tertutup, membuat Mona mengirimkan sebuah pesan teks pada sang suami, memintanya untuk masuk setelah Arita sadarkan diri. Karena ia tahu betul, bahwasannya berteriak sekalipun, tak akan membuat suaranya sampai ke luar.
"Beri tahu padaku, bagian mana yang terasa sakit. Jangan diam saja, oke?" pintanya yang membuat Arita menatapnya penuh rasa haru. Mengerti hal itupun, membuat Mona memeluk singkat tubuh ramping yang terbaring lemas di atas ranjang.
__ADS_1
Tak berselang lama, anak laki-laki yang kini telah berganti pakaian santai, mulai memasuki kamar diikuti oleh kedua orang dewasa yang berada di belakangnya. Wajah antusiasnya, membuat Mona dan Arita tersenyum lega.
"Ibu!" teriaknya dengan senang, saat menyaksikan sang ibu telah membuka matanya. Tak dapat dipungkiri, anak itu sangat khawatir begitu ibunya dibawa kemari dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Hei boy, jangan berlari seperti itu."
Entah mengapa, sejak bertemu dengan Baron pada malam itu, membuat Gibran menjadi lebih peka dan sensitif akan gerak-gerik anak itu. Tentu saja hal itu tak luput dari pengamatan Mona dan Edward.
"Anak ibu hebat, ya?" kekeh si wanita begitu Baron berdiri di samping nakas sebelahnya tidur. Melihat anaknya yang berusaha menaiki ranjang, membuat Arita melarangnya lantaran merasa tak enak hati oleh si pemilik rumah.
"Biarkan saja dia naik, Ar ..." sanggah Mona yang membantu anak laki-laki itu untuk menaiki ranjang. Selain Gibran dan Edward, kini Mona pun dibuat kagum oleh attitude bocah itu saat berterima kasih karena bantuan kecilnya.
"Ibu nggak kenapa-kenapa, sayang. Tadi ibu jatuh, terus ditolong sama Bu Mona," bohongnya yang berharap agar sang putra tidak mengetahui hal yang sesungguhnya.
"Bibi, apakah ibu berbohong?" tanya si kecil yang berusaha meyakinkan bahwa ucapan sang ibu memanglah benar. Sungguh, Edward dibuat tercengang oleh pemikiran anak sekecil Baron, yang dinilainya sangat luar biasa.
"Tidak ... ibumu mengatakan yang sesungguhnya," jawab Mona yang membuat Baron menganggukkan kepalanya paham. Kemudian, anak itu menyentuh kening Arita, sehingga membuat Mona terkekeh kecil dibuatnya.
__ADS_1
"Ibumu hanya syok saja, boy. Tenang saja," papar wanita independen itu dengan mengacak rambut halus milik Baron.
"Den Baron ... itu mainan sudah sampai, yuk kita cek?" atensi anak itu langsung terarah pada ART yang berada di ambang pintu. Tentu saja, Baron membulatkan matanya senang, begitupun dengan Edward dan Mona.
"Coba Baron cek dulu, Nak." sesuai perintah dari Mona, anak laki-laki itu langsung menuruni ranjang dengan antusias penuh. Tentu saja hal itu dikarenakan perintah dari sepasang suami istri pemilik rumah tersebut.
"Baron ..." panggil Arita berusaha menghentikan putranya.
"Sudah, biarkan saja dulu. Ada yang harus kita bicarakan," cegahnya yang membuat Arita pun paham. Setelah memastikan kepalanya tidak lagi terasa pusing, dengan dibantu oleh Mona, wanita itu mulai mendudukkan tubuh dan bersandar di kepala ranjang.
"Semua sudah membaik?" tanya Gibran memastikan, yang langsung dianggukki pelan oleh Arita.
"Sebelumnya baik saya maupun istri saya meminta maaf, tidak ada maksud untuk ikut campur dalam urusanmu. Namun, karena adik kami merasa terikat olehmu, mau tak mau membuat kami juga harus peduli padamu dan Baron."
Dengan mendudukkan tubuhnya di sebelah istrinya, Edward mengucapkan hal serius itu sembari memandang sejenak wajah adik iparnya.
"Dari cerita yang sudah Mona sampaikan pada saya, apakah kau mendapatkan tekanan dari seseorang?" tanyanya dengan mantap, setelah mendapatkan penjelasan dari sang istri. "Tenang saja, saya dan Mona memiliki previllege untuk melindungi kalian."
__ADS_1
Mendengar hal itulah, yang membuat Arita merasakan dadanya terasa sangat lega. Dipandanginya sepasang suami istri di hadapannya, membuat Arita merasa sangat beruntung.
"Kembaran almarhum suami saya, masih mengincar kami sampai saat ini. Tak hanya terobsesi pada saya, dia juga ingin menyingkirkan Baron dari dunia ini."