Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 78


__ADS_3

"Ibu dimana, Bi?" tanya Baron kepada Mona yang duduk disisi ranjangnya sebelah kanan. Wanita yang berperilaku lembut padanya itu, membuat Baron menatap lekat ke arahnya.


"Ibu lagi ngobrol sebentar sama Om Riko," sahutnya sembari membuka sebuah jendela yang menampakkan pemandangan asri di samping rumah ini. "Ditunggu sebentar, ya?"


Mendengar penjelasan dari wanita itupun, membuat Baron menganggukkan kepalanya. Sembari menatap layar iPad yang ia pegang, anak laki-laki itu kembali fokus pada film kartun yang dipilihkan oleh Mona.


"Ini jendelanya dibuka, nggak apa-apa?" tanya si wanita yang berusaha untuk memastikannya.


"Nggak papa, malah sejuk udaranya, Bi ..." kembali pada kegiatannya, Baron fokus menatap ke arah layar persegi panjang yang menyala di depannya. Sementara itu, Mona mendekat ke arah ranjang.


"Masih ada yang sakit?" tanya si wanita yang disambut gelengan kepala oleh si kecil. "Nanti kalau Baron tiba-tiba ngerasa sakit, langsung bilang ke Bi Mona, okey?" pesannya sekali lagi.


"Okey," sahut si kecil dengan acungan jempolnya.


Usai membawa pulang Baron dari rumah sakit, Mona dan Edward langsung menuju ke rumah Arita. Sementara kantor notaris milik wanita itu tetap buka, lantaran ketiga staffnya bekerja seperti biasa.


"Bi Mona tinggal sebentar, ya? Dipanggil Paman Edward soalnya," ucap Mona sehingga membuat Baron menganggukkan kepala lagi.


"Ada apa, Ed?" tanya si wanita begitu tiba diruang tamu. Dipandanginya wajah Riko dan Arita yang sedikit memerah, seolah menahan emosi.


"Duduk dulu," pinta si pria dengan menepuk sisi kosong di sebelahnya. Sesuai permintaan, wanita berparas sempurna itu mendudukkan tubuhnya di samping sang suami.

__ADS_1


"Danu masih berusaha untuk lepas dari hukuman," ucap Riko setelah mendapatkan kabar dari salah satu anak buahnya yang ia perintahkan untuk memantau penanganan kasus Arita dan Baron.


Mendengar hal itu, justru membuat Mona mengulas senyum miring. Wanita itu bertumpang tali untuk mengunci kakinya. Dengan punggung yang bersandar pada sofa, wanita itu menatap santai ke arah Arita.


"Tenang saja, aku dan rekanku yang akan mengurus pria kurang ajar itu. Kau tidak perlu khawatir memikirkan hal ini," sahut Mona seolah membawa kabar yang begitu menyejukkan hati dan pikiran Arita yang semula terasa mendesak.


"Fokus utama kita adalah mengamankan Arita dan Baron dari pria itu," ucap Edward dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Sementara Riko, pria itu menatap serius ke arah Arita dengan tatapan yang sangat lekat. Menyaksikan wajah lelah dari wanita itu, membuat Riko dapat merasakan juga bagaimana perasaan Arita.


"Gibran harus segera menikahimu," tuturnya membuka suara, sehingga membuat ketiga orang yang ada disana merasa terkejut.


Terutama Arita, yang kini menatap tak percaya ke arahnya. Menanggapi semua reaksi dari ketiganya, Riko menganggukkann kepalanya berusaha untuk menguatkan opini yang ia berikan.


"Dengan kau memiliki suami, bisa kupastikan dia tidak akan berani mengganggumu lagi. Aku berani bertaruh akan hal itu," ucap si pria yang terdengar logis di telinga Edward.


Sementara Mona, wanita itu terdiam memikirkan penuturan dari sepupunya itu. Begitupun dengan Arita, yang hanya bisa terdiam mendangar hal tersebut. Karena yang ia tahu, Gibran belum siap untuk hal itu diwaktu dekat.


"Kau benar, Rik. Aku setuju pada ucapanmu," ucap suami dari Mona tersebut, sehingga membuat Riko menatap ke arah Arita.


"Tapi, seharusnya pernikahan mereka digelar dua bulan lagi. Kita harus membicarakan hal ini pada Gibran dan mama papa," ucap Mona yang tidak ingin gegabah.

__ADS_1


"Jika Gibran belum siap, maka aku yang akan mengambil perannya untuk Arita dan Baron ..." Mendengar keberanian dari Riko mengucapkan hal tersebut, sontak membuat Arita benar-benar tak percaya.


Sementara Mona, wanita itu menatap marah kepada sang sepupu yang ia nilai melampaui batas.


"Riko, jangan bermain-main," tegas Mona.


"Aku tidak bercanda, Kak ..." sanggah si pria dengan begitu lugas. Edward dan Mona sangat terkejut, melihat keberanian Riko yang tak pernah mereka duga sebelumnya.


"Aku yang akan menikahi Arita, jika Gibran tidak mengambil langkah cepat. Karena yang aku pentingkan, hanyalah keselamatan Arita dan Baron."


Bohong. Bohong jika dirinya hanya beralasan hal demikian untuk mengambil keputusan sebesar itu. Tentu ada alasan lain, yang membuatnya yakin untuk mengatakan hal tersebut.


Yang ia sadari kini, ia benar-benar jatuh dalam pesona ibu satu anak yang bernama Arita. Kepribadian wanita itu yang sangat menawan, berhasil merebut hati seorang Alriko Daniswara. Ya, Riko yakin akan hal itu.


"Apa yang kau katakan tadi? Ucapkan sekali lagi di hadapanku," interupsi seseorang dengan deep voice-nya, sehingga membuat semua orang menoleh ke arah pintu masuk.


Begitu mendapati visual Gibran yang masih mengenakan pakaian formalnya, membuat semua orang berdiri. Sementara Riko, kini memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berusaha terlihat tenang.


"Jika kau belum siap, maka akulah yang akan mengambil alih peranmu," tegas Riko dengan menatap lekat kedua mata sepupunya.


Mendengar hal itu, lantas membuat Gibran mengepalkan kedua tangannya, sehingga membuat uratnya terlihat sangat jelas. Begitu hendak menjatuhkan pukulan pada sepupunya, Edward dan Mona langsung menahan tubuh kekar Gibran.

__ADS_1


"Stop, jangan ribut! Di dalam ada Baron," ucap Mona dengan sedikit panik. Mau bagaimanapun, ia tak menginginkan adik dan sepupunya saling memberikan bogeman mentah.


"Jangan pernah lancang, mengambil semua hal yang sudah menjadi milikku!"


__ADS_2