
"Kamu yakin mau pindah dari sini, Ta?" tanya seorang wanita yang membantu Arita mengemasi beberapa baju milik putranya. Keadaan yang hening, membuat keduanya menghentikan pergerakan.
Tatapan Arita langsung mengarah pada sang putra yang masih tertidur nyenyak. Helaan napas berat, membuat wanita yang merupakan rekan kerjanya itu mengelus lembut pundaknya.
"Maaf kalau pertanyaanku buat kamu nggak nyaman," sesal wanita yang masih mengenakan pakaian kerjanya.
Tak bermaksud demikian, ibu satu orang anak itu menggelengkan kepalanya. Masih dengan tatapan yang mengedar ke seluruh ruangan, Arita menggenggam tangan wanita di hadapannya.
"Mau gimana lagi, Mbak? Mas Banu mulai datangi rumah ini lagi ..." papar Arita yang membuat rekan kerjanya itu langsung paham. "Dia mulai bicara neko-neko di depanku dan Baron." Imbuhnya dengan kepala yang mulai tertunduk.
"Maksud kamu?" tanyanya yang membuat Arita bergeming untuk sesaat.
Hening kembali menyapa ruangan tersebut. Suara jarum jam yang terus bergerak, memecah keheningan yang ada. Saat sebuah tepukan ringan mendarat dipundaknya, membuat Arita langsung tersadar dari lamunan.
"Dengan lancang dia bilang, ingin menjadikanku sebagai miliknya setelah Mas Bayu meninggal tiga tahun silam." Ucapan yang terlontar dari bibir Arita, seketika membuat darah wanita di hadapannya mendidih.
"Benar tebakanku, Ta ... Dia sudah mengincarmu sejak lama," paparnya dengan mengusap wajah frustasi. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya ke belakang, bersandar pada sofa yang ditempatinya saat ini.
Sedangkan Arita, ia hanya bisa menghembuskan napas kasar dengan pandangan yang kosong.
__ADS_1
"Terus, dia ngomong apa lagi?" tanya si wanita dengan menegakkan kembali tubuhnya. Ia menatap serius kearah wajah Arita yang terlihat sangat lelah dan sayu. Saat melihat keraguan diwajah rekan kerjanya, dengan cepat wanita itu meyakinkan Arita untuk bercerita.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Arita lebih dulu menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan wanita yang masih duduk terdiam di hadapannya itu, hanya bisa mengerutkan alisnya bingung.
Tak berselang lama setelah itu, Arita berdiri untuk meletakkan koper yang berisikan baju sang putra dipojok ruangan. Tepat di sebelah pintu masuk, wanita itu terus memandangi pigura yang berisikan foto keluarga kecilnya.
"Dia juga ngasih janji ke anakku, Mbak ... Dia janji bakal temuin Baron ke Bapaknya," ucap Arita yang membuat detak jantung wanita yang masih duduk itu, semakin berdegup kencang. Kedua matanya langsung berkilat amarah, dengan tangan yang terkepal kuat.
"Gila! Dia pasti udah nggak waras, Ta!" murka si wanita dengan wajah yang merah padam.
Ia sangat mengenal kehidupan Arita, dan putra kecilnya. Ia juga tau persis, berapa banyak rintangan yang telah dihadapi rekan kerjanya itu setelah kepergian Bayu. Perjuangan Arita membesarkan Baron seorang diri, benar-benar membuatnya kagum.
"Aku tau, banyak kenangan yang diciptakan Mas Bayu untuk kami berdua. Dari awal, aku nggak pernah kepikiran buat pindah dari sini. Tapi, semua kejadian ini diluar kendaliku. Aku juga nggak mungkin, biarin hal ini terjadi terus-terusan."
Lagi dan lagi, Arita menghela napasnya berat. Sebuah usapan lembut kembali ia dapatkan, dari seseorang yang lebih tua tiga tahun darinya. Tak bisa berbuat lebih, Arita hanya mengulas senyum getirnya.
"Sekarang kita beres-beres, okey? Sebentar lagi mobil pick up-nya udah sampai," ajak sang wanita yang dianggukki mantap oleh ibu satu orang anak itu. Tak ingin membuang waktu lagi, mereka berdua segera membereskan beberapa benda penting lainnya.
Meski terasa berat, Arita tetap memantapkan hatinya untuk segera pindah dari rumah ini. Semua kenangan cukup ia simpan dalam benak dan hati, agar tak membatalkan semua rencananya.
__ADS_1
"Jujur aku khawatir, Mbak ... Kalau Mas Banu, bawa pergi Baron dari aku. Dan yang paling parah, jika pria itu benar-benar menepati janjinya pada Baron."
Ia sangat memahami maksud ucapan Arita. Dengan cepat, wanita yang merupakan ibu tiga anak itu langsung menggelengkan kepala tak setuju. "Percaya sama Mbak, itu semua nggak akan terjadi. Kamu yang tenang ya, Ta?"
Hanya anggukkan kepala yang bisa ia tunjukkan sebagai respon. Mbak Retno, sapaan yang kerap kali Arita berikan untuk wanita berhati mulia itu. Keduanya adalah rekan kerja, dan bersahabat sejak beberapa tahun silam.
Tak berselang lama setelah itu, terdengar suara mobil yang mulai memasuki pekarangan rumahnya. Setelah diintip, ternyata itu adalah mobil pick up yang sudah mereka pesan untuk mengangkat semua barang-barang miliknya.
Tanpa membuang waktu lebih banyak, mereka berdua langsung meminta dua orang pria di depan sana untuk mengangkut semua barang-barang milik Arita.
"Kamu cepet gendong Baron, Ta. Jangan sampai dia kebangun, biar nggak rewel pas dijalan nanti." Titahan dari wanita itu, langsung dianggukki oleh Arita. Sebelum menuju kamar sang putra, ia mengambil tas selempang dan juga ponsel miliknya.
Sesuai pesan rekan kerjanya, Arita mengangkat tubuh mungil sang putra dengan sangat hati-hati. Berulang kali mendengar rengekan Baron, membuat Arita menghentikan kegiatannya.
"Ssttt ... Yang nyenyak, Sayang." Entah sudah berapa kali, wanita itu berbisik pelan didekat telinga sang putra. Disertai usapan-usapan lembut, ia berusaha menidurkan lagi putra tampannya itu.
Setelah hampir berusaha selama sepuluh menit, akhirnya Arita berhasil mengangkat tubuh mungil sang putra. Tanpa merasa kesulitan sama sekali, wanita itu membopong tubuh si kecil bak anak koala. Dengan begitu nyamannya, Baron menyandarkan kepalanya dileher sang ibu.
"Maaf Mas, tapi aku dan Baron harus pergi dari sini. Terima kasih untuk semua kenangan yang sudah kau berikan untuk kita."
__ADS_1