Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 15


__ADS_3

"Yuk, Ibu antarkan ke musholanya ..." ucap sang wanita sembari berjalan menuju pintu. Begitu daun pintu mulai terbuka, hawa dingin khas pedesaan langsung menyapa permukaan kulit keduanya.


"Tuh, udah ramai jamaahnya. Baron jangan usil ya, Nak?" peringat sang ibu yang lagi dan lagi hanya ditanggapi acungan jempol oleh si kecil. Usai menganggukkan kepalanya, Baron mulai melangkahkan kaki mungilnya ke arah pelataran mushola.


Tak sampai lima belas langkah, bocah laki-laki itu sudah menampakkan cengiran ke arah sang ibu. Ya, memang sedekat itu jarak rumahnya dengan pelataran mushola. Tempat ibadah, yang tidak terlalu besar, namun juga tidak berukuran terlalu kecil.


Begitu melihat putra kecilnya sudah berbaur dengan warga sekitar yang hendak melaksanakan ibadah, Arita kembali memasuki rumah. Melihat keadaan rumahnya yang belum tertata sepenuhnya, membuat wanita itu mengikat rambutnya menjadi satu.


"Mulai dari dapur aja kali, ya?" ucapnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Semalam, begitu mengetahui jika dirinya tengah berhalangan, membuat Arita sedikit santai pagi ini. Rencananya untuk beres-beres rumah, sepertinya akan terlaksana sebagaimana mestinya.


Setelah mengambil sapu yang tergantung di pojok ruangan, wanita itu langsung membersihkan lantai dan juga mengepelnya. Mulai dari area dapur, hingga seluruh ruangan ia bersihkan secepat mungkin. Sembari menunggu lantainya mengering, wanita itu mengecek beberapa bahan di dapur yang sempat ia bawa dari rumah sebelumnya.


Langkah kaki si wanita kemudian berjalan ke arah ruang tengah, dimana beberapa barangnya sudah mulai tertata. Untuk sejenak, wanita itu terduduk dengan pandangan yang mengedar ke seluruh penjuru ruangan.


"Setidaknya, ini tidak jauh berbeda dengan rumah kita sebelumnya. Aku harap, semoga kamu nggak kecewa ..." Ucapan yang ia tujukan untuk almarhum suaminya itu, membuat dadanya sedikit terasa sesak.


Selain karena tak nyaman dengan keberadaan Banu, ia juga takut akan terjadi hal yang tak dinginkan kepada sang putra. Hal itulah, yang membuat Arita, akhirnya memutuskan untuk pindah dari rumah sebelumnya. Setidaknya, ia merasa jauh lebih aman di tempat barunya sekarang.

__ADS_1


"Ibu ..." Lamunan wanita tersebut seketika buyar, begitu mendengar suara sang putra. Tatapannya teralih ke arah pintu, dimana sang putra melangkah masuk dengan wajah menggemaskan itu.


"Kenapa, hm?" tanya Arita begitu Baron telah berdiri di hadapannya. Dengan tubuh yang menyender di lengan sang ibu, bocah laki-laki itu kembali mencebikkan bibirnya. Melihat hal itupun, membuat Arita mencubit pipi bulat si bocah yang terlihat sangat menggemaskan.


"Ibu, kenapa kita pindah? Apakah rumah yang lama, tergenang banjir? Atau roboh karena badai topan?" tanya si bocah dengan berjalan mengelilingi meja yang terletak di tengah ruangan. Kaki mungil itu, terus bergerak kesana-kemari, enggan berdiri anteng.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Baron, wanita itu lebih dulu menangkap tubuh mungil tersebut. Jika saja ia menjawab namun si bocah masih usil, maka itu akan percuma. Karena Baron pasti akan memintanya untuk menjelaskan kembali.


"Kita pindah rumah, bukan karena rumahnya terkena musibah. Hanya saja ... Ibu ada pekerjaan yang mengharuskan kita pindah ke rumah ini, Sayang. Baron tidak keberatan, kan?" sahut sang wanita yang berusaha mencari alasan.

__ADS_1


Setelah terdiam beberapa saat, bocah laki-laki dengan pemikiran cerdas itu pun menggelengkan kepalanya paham. Tak disangka, telapak tangan mungil itu menyentuh permukaan pipi sang ibu dan mengusapnya lembut.


"Tapi, bagaimana dengan sekolah Baron? Terus, siapa yang bakal jenguk bapak?"


__ADS_2