Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 65


__ADS_3

Setelah Gibran berpamitan pada Arita dan Baron, pria itu segera mempersiapkan keberangkatannya untuk mengurus pekerjaan yang harus ia tangani langsung. Mau tak mau, Gibran harus berpisah dengan Arita dan juga Baron.


Sementara Arita, wanita itu mulai menata hatinya sejak menerima lamaran dari Gibran. Meski pada awalnya ia merasa sangat mustahil, namun nyatanya semua berjalan diluar kendalinya. Meski bibirnya berkata tidak, hatinya justru berkata lain.


"Ini isinya apa, ya?" gumam Arita sembari menatap ke arah paper bag berukuran kecil yang ia letakkan diatas nakas.


Setelah diberikan oleh Patricia sejak siang tadi, Arita belum menyentuhnya sama sekali. Dan malam ini lah, wanita itu baru terbesit pikiran untuk membukanya. Sesuai pesan dari wanita itu, Arita diminta untuk menggunakannya.


"I-ini?" ucap Arita dengan terbata-bata ketika melihat benda yang berada di hadapannya.


Kotak perhiasan beludru yang berisikan sebuah kalung, kini terpampang nyata di hadapannya. Material white gold yang sangat ia kenali, membuat penampilan benda dengan harga fantastis itu semakin menawan.


"Atau jangan-jangan, ini salah kasih?" gumam Arita yang justru merasa takut. Memperoleh hal sebesar ini, justru membuat Arita merasa tidak yakin.


Tak ingin membuat isi kepalanya bertanya-tanya, akhirnya Arita memutuskan untuk menghubungi Patricia. Dengan mengirimkan foto benda tersebut, Arita harap ini hanyalah sebuah kesalahan saja. Wanita itu berpikir, mungkin saja ini adalah milik Mona.


"Ini buat aku? Sepertinya terlalu berlebihan," ucapnya yang masih saja tidak percaya. Pasalnya, ini adalah kali pertama bagi Arita untuk menyentuh benda yang belum pernah ia miliki sebelumnya.


Namun, ternyata semua benar. Kalung dengan harga yang tidak murah itu, sengaja Patricia belikan untuk Arita. Alasan yang diberikan oleh Patricia, kalung tersebut sebagai ganti saat Gibran datang melamarnya hanya membawa sebuah cincin saja. Padahal, Arita sama sekali tidak mengharapkannya.

__ADS_1


"Aku nggak pantes dapetin ini," gumam Arita memasukkan kembali benda tersebut kedalam kotaknya.


Usai menyimpan pemberian dari Patricia ke dalam almari, wanita itu keluar dari kamarnya. Menemui Baron yang baru saja pulang dari mushola, ia lantas mendekati putranya tersebut.


"Sayang, setelah langsung makan, ya? Kalau nggak ada tugas, langsung tidur awal aja," ucapnya memandang ke arah sang putra yang sibuk menata buku pelajarannya. "Besok juga upacara, kan? Jangan sampai kesiangan bangunnya."


"Tenang, Baron nggak bakal kesiangan," ucap si kecil.


Arita langsung menyiapkan lauk dan nasi untuk makan malam mereka berdua. Weekend telah usai, esok adalah hari dimana mereka memulai aktifitasnya masing-masing. Maka dari itu, Arita meminta sang putra untuk istirahat lebih awal.


Apalagi si kecil telah menghabiskan banyak energi ketika jalan-jalan dengan Andre dan Patricia seharian tadi.


"Bekalnya sudah dimasukkan?" tanya Arita berusaha memastikan. Begitu mendapatkan anggukkan kepala dari putranya, wanita itu mengacungkan jempolnya dengan senyum cerah.


Jam baru menunjukkan pukul 6 pagi, namun putra kecilnya itu sudah siap dengan seragamnya. Usai sarapan, anak laki-laki itu masih betah duduk di ruang makan, sembari ibunya mencuci piring. Namun, sebuah panggilan video masuk dari kontak milik Gibran.


"Ibu, Om Gibran video call ..." ungkap si kecil.


"Coba diangkat nggak apa-apa," sahut Arita mengizinkan putranya untuk menerima panggilan dari pria itu. Tak lama setelahnya, Arita bisa mendengar suara Gibran yang terdengar sangat girang ketika disapa oleh Baron.

__ADS_1


"Sudah sarapan?" tanya pria di seberang sana.


"Udah dong, tadi ibu masak telur balado sama tumis kangkung. Om Gibran udah sarapan juga?" tanya si kecil sehingga membuat pria tersebut tersenyum lantaran merasakan sudut hatinya menghangat.


"Wah ... itu jauh lebih enak daripada roti sama kopi di bandara," ucap Gibran sembari mengarahkan kameranya pada meja yang berada di hadapannya. Sepagi itu, Gibran sudah berada di bandara.


"Penerbangannya jam berapa, Gib?" tanya Arita dengan berdiri di belakang putranya. Melihat kehadiran wanita itu, membuat wajah Gibran semakin terlihat lebih bahagia.


Ditatapnya pria yang mengenakan air pods dikedua telinganya, kemudian membuat Arita tersenyum tipis. Begitupun dengan Baron, yang menatap wajah Gibran sembari menopang dagunya.


"Jam tujuh nanti. Masih lama, Ar ..." keluh Gibran sembari meletakkan ponselnya di atas meja menghadap ke arahnya. Sontak, Arita terkekeh begitu mendengar hal tersebut.


"Sekarang hampir jam setengah tujuh, Om. Sabar, nunggu sebentar lagi," Arita menunduk begitu putranya membuka suara. Ia mengelus rambut Baron dengan lembut, lantaran melihat betapa tulusnya tatapan anak itu pada Gibran meski melalui layar ponsel.


"Baron berangkatnya jangan siang-siang, okei? Nanti terlambat," peringat Gibran yang diacungi jempol oleh si kecil. Tak lama setelah itu, Baron mulai menyerahkan ponselnya kepada Arita dan bergegas mencari tas dan sepatunya.


"Udah ibu siapin di ruang tamu," ucap Arita.


"Oh iya, lupa hehe ..." wanita itu terkekeh lantaran melihat tingkah menggemaskan putranya yang masih saja kesana kemari. Setelahnya, Arita mulai membantu putranya untuk bersiap-siap.

__ADS_1


"Ya udah


__ADS_2