Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 67


__ADS_3

"Baron, ibu pulang," ucap Arita begitu dirinya memasuki rumah usai pulang dari tempat kerjanya. Namun, ia tak mendapati keberadaan putranya dimanapun. Meski keheranan, Arita mencoba untuk mencari si kecil.


"Nak, kamu di kamar?" ucap Arita sembari membuka pintu kamarnya. Ia mengira, mungkin saja putranya itu tengah tertidur siang maupun bermain sendiri. Namun, yang ia dapati justru kamarnya yang nampak kosong.


"Atau di belakang?" gumamnya lagi mencoba untuk menerka-nerka. Namun, usahanya nihil. Ia tak menemui batang hidung putranya sekalipun.


Keningnya berkerut, ketika tak menjumpai Baron diseluruh rumah. Perasaannya mulai tidak nyaman, ketika pikirannya langsung tertuju pada hal yang tidak diinginkannya selama ini. Berusaha menampik rasa khawatirnya, Arita kembali berjalan ke arah luar.


"Baron, kamu dimana, Nak?" teriak si wanita sembari melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah. Sunyi, hal itulah yang Arita dapati.


Jam masih menunjukkan pukul 4 sore, namun keadaan disekitar rumahnya benar-benar sepi. Bahkan rumah tetangganya pun nampak kosong, sehingga menimbulkan pertanyaan dibenak si wanita.


"Mbak Arum," panggil Arita tatkala mendapati keberadaan tetangganya yang baru saja pulang entah dari mana. Melihat Arita yang berlari kecil ke arahnya, membuat Arum mengerutkan keningnya bingung.


"Kenapa, Ta? Kok pucet begitu mukanya," heran si wanita sembari memarkirkan motornya di halaman rumah. Dengan mengatur napasnya, Arita berdiri sembari menekan dadanya.


"Sini masuk dulu," tawarnya yang ditolak oleh Arita. Masih mengenakan baju kerjanya, Arita nampak terburu-buru oleh sesuatu, sehingga membuat Arum turut kebingungan.


"Ini Mbak, aku mau nanya sebentar. Tadi, Baron pulangnya bareng Mbak Arum, nggak?" ucap Arita dengan menatap kedua mata tetangganya itu. Besar harapan Arita, semoga wanita itu mengetahui keberadaan putranya.


"Loh, tak kira udah dijemput kamu. Beberapa hari lalu, Baron dijemput adik laki-laki yang punya kantor notaris itu, kan?" ucap Arum dengan terheran-heran.


Pasalnya memang benar. Beberapa hari terakhir, ia tidak membersamai Baron ketika menjemput anaknya pulang sekolah. Dan yang ia ketahui, Baron dijemput oleh Gibran. Hal itulah yang membuat Arum merasa aman meninggalkan Baron, lantaran telah mengenal Gibran melalui penjelasan Arita.


"Tadi Mbak Arum liat Baron dijemput dia?" tanya Arita dengan hati yang semakin merasa was-was. Kedua tangannya mulai terkepal erat, dengan keringat yang mulai membasahi pelipisnya.


"Enggak, Ar. Tadi siang aku dikasih tahu sama wali murid, katanya Baron udah dijemput masuk ke mobil hitam. Aku pikir, Baron sekalian dijemput sama kalian," ungkap si wanita sehingga membuat Arita merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari semula. Pikirannya mulai kalut, ditambah karena hari yang semakin sore.


"Aku sama sekali nggak jemput dia, Mbak. Apalagi Gibran juga ke luar negeri, nggak mungkin dia yang jemput Baron." Arita mulai panik, sehingga membuatnya langsung mengusap wajah dengan kasar.


"Loh, terus sekarang gimana? Baron nggak ada dirumah, Ar?" panik Arum sembari mendekat ke arah Arita. Dipeganginya pundak sang tetangga, berusaha menanyakan kebenarannya.

__ADS_1


"Nggak ada, Mbak. Aku udah cari di rumah, Baron tetep nggak ada," lirih wanita itu dengan tubuhnya yang semakin terasa lemas. Tanpa bisa dicegah, Arita terduduk di atas tanah dengan tatapan yang terlihat kosong.


"Baron, kamu dimana sayang?" lirih Arita.


"Ar, aku minta maaf. Aku nggak tahu kalau bukan kamu yang jemput Baron," sesal Arum lantaran merasa begitu bodoh dengan mempercayai ucapan wanita yang berkata padanya di siang hari tadi. Baron sudah menjadi tanggung jawabnya, dan sekarang dialah yang menjadi penyebabnya.


"Nggak ... Mbak Arum nggak salah. Mbak nggak perlu minta maaf begitu," ucap Arita dengan menghapus cairan bening yang mulai membasahi kedua pipinya.


Mau bagaimanapun, Arum tidak bersalah dalam hal ini. Justru ia sudah sangat terbantu, dengan adanya Arum yang membantunya ketika ia harus bekerja. Dan kini, ia tidak akan menyalahkan Arum sedikitpun. Karena ia tahu, ini merupakan keteledorannya sebagai ibu.


"Sekarang bantu cari Baron ya, Mbak? Arita nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi," pinta Arita dengan otak yang seketika merasa blank untuk beberapa saat.


Keduanya kembali menyusuri sepanjang perjalanan menuju sekolah dasar yang berada di desa tersebut. Namun, ketika tiba disana, tidak ada hasil yang mereka dapatkan. Selain sudah sepi, tidak ada seorang pun yang bisa mereka tanyai mengenai hal ini.


"Mobil hitam? Kurasa itu bukan Gibran apalagi Bu Mona," risau si wanita mengingat orang-orang terdekatnya tidak memiliki mobil berwarna hitam.


"Meskipun kita lapor ke kantor polisi, ini belum ada dua puluh empat jam. Dia pasti diculik," ucap Arum yang dianggukki lemah oleh ibu satu anak tersebut.


"Baron?" panggil Arum berusaha memastikan.


Namun ternyata benar, anak laki-laki itu tidak berada di rumah. Bahkan, tas dan sepatu yang selalu digunakan oleh Baron ketika sekolah, tidak ada sama sekali di seluruh penjuru ruangan. Hal itulah yang membuat kedua wanita tersebut merasa semakin khawatir.


"Mbak, aku harus gimana? Aku nggak punya siapa-siapa disini," ucap Arita dengan menangkup wajahnya menggunakan telapak tangan.


Sementara Arum, yang menyaksikan hal itupun merasakan hatinya turut teriris tatkala Arita semakin berputus asa. Selain karena seorang janda, Arita juga tidak memiliki keluarga yang berada di sana. Ditambah lagi, Arita seorang anak yatim piatu sekaligus anak tunggal.


"Kita harus minta bantuan, Ta ..." putus Arum lantaran tak ingin hal-hal buruk terjadi pada Baron. "Aku bakal minta tolong sama suamiku," lanjut Arum dengan bersiap untuk pulang terlebih dahulu. Sementara Arita, wanita itu mengangguk mengiyakan.


Setelah kepergian Arum, Arita berusaha untuk memecahkan masalahnya ini. Yang ada dipikirannya, hanyalah Baron Baron dan Baron. Ia benar-benar tidak menyangka, jika hal seperti ini akan terjadi kepadanya. Dalam batinnya, Arita selalu berdoa agar putranya dilindungi dimanapun keberadaannya.


"Gibran," satu kata yang langsung terlintas dibenak Arita adalah nama pria itu. Seolah mendapatkan secercah harapan, wanita itu langsung mencari keberadaan ponselnya yang masih berada didalam tas.

__ADS_1


"Semoga diangkat," gumam Arita berharap besar supaya panggilannya dijawab oleh Gibran. Namun, setelah 2 kali panggilan tidak dijawab oleh pria itu, membuat Arita melipat bibirnya ke dalam.


"Dia pasti sibuk," lirih Arita dengan mematikan ponselnya.


Dalam keadaan seperti ini, hanya Mona orang terdekat yang merupakan satu-satunya harapan untuk membantunya. Namun, wanita itu sudah berangkat dengan Edward ke Palembang. Mau tak mau, Arita harus memutar otaknya untuk keluar dari situasi ini.


"Pak Andre," seketika hatinya kembali merasakan pasokan udara, tatkala dirinya kembali mengingat Andre dan Patricia. Tanpa menunggu lama, Arita langsung menghubungi salah satu diantara keduanya.


"Halo, Ma?" ucap Arita dengan bibir yang bergetar.


"Iya, Ar? Ada apa?" tanya Patricia dengan nada yang terdengar kebingungan. "Arita, kamu dengar suara mama, kan?" ulang si wanita sehingga membuyarkan lamunan Arita.


"Ma, Baron nggak ada dirumah ..." ucap Arita dengan tubuh yang semakin bergetar. Entah mengapa, hanya hal inilah yang Arita percayai bisa membantunya.


"Kamu nggak bercanda kan, Ar? Ini nggak lucu," kaget wanita di seberang sana, lantaran masih tidak mempercayai ucapan Arita.


"Enggak, Ma. Baron nggak ada dirumah," Arita berusaha meyakinkan Patricia bahwasannya putranya itu benar-benar tidak ada dijangkauannya untuk saat ini.


"Astaga ... sejak kapan?" tanya Patricia dengan tidak sabaran. Wanita itu langsung mencari keberadaan suaminya, lantaran merasa takut akan terjadi hal buruk pada Baron.


"Pa, Baron hilang."


Arita mendengar penuturan calon mertuanya itu dengan sangat jelas. Kemudian, Arita mendengar kepanikan dari Andre, yang langsung memanggil entah siapa. Hal itulah yang membuat Arita menunggu dengan rasa cemas.


"Ar, kamu ceritain ke papa langsung aja, ya?" ucap Patricia sembari memberikan ponselnya kepada Andre.


"Halo, Pa? Arita minta tolong untuk kali ini," pinta Arita dengan isak tangis yang tidak bisa ia tahan lagi. Entah mengapa, begitu mendengar kesigapan dari keduanya, mengingatkannya pada orang tuanya.


"Kamu jangan panik dulu ya, Nak. Papa akan usahakan semaksimal mungkin," ucap Andre berusaha menenangkan calon menantunya itu. "Cerita ke papa," titah si pria sehingga membuat Arita menceritakan semuanya.


"Arita yang teledor, Pa. Semua salah Arita," sesal Arita sehingga membuat Andre mengusap wajahnya dengan frustasi. Karena pekerjaannya, ia tidak bisa datang langsung untuk menangani hal tersebut.

__ADS_1


"Kamu nggak usah khawatir, Ar. Papa akan mengirimkan orang suruhan untuk membantumu. Ingat baik-baik, namanya adalah Riko,"


__ADS_2