Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 62


__ADS_3

"Apakah kau ingin ice cream disana?" tanya pria yang disapa 'opa' oleh Baron tersebut. Kemudian, tatapan mata si kecil justru tertuju pada Patricia yang berdiri di samping Andre.


Seolah mengerti arti tatapan anak kecil itu, Patricia langsung berjongkok tepat di hadapan Baron dengan seutas senyum tipisnya. Tatapan mata wanita paruh baya itu, berhasil membuat Baron sedikit bersembunyi di belakang kaki Andre.


"Apakah kau mau? Jika iya, biar Oma yang mengantarmu. Ayo?" ajak wanita tersebut sembari mengulurkan tangannya.


"Ya sudah, biar dia bersamaku. Kau tunggulah disini," putus Andre ketika melihat raut wajah ketakutan dari calon cucunya itu. Benar saja, Patricia langsung menyetujui keputusan dari suaminya.


Meninggalkan wanitanya, Andre lantas berjalan ke arah stand yang menjual ice cream ditengah tempat bermain tersebut. Sembari menggandeng tangan kecil Baron, keduanya berjalan dengan diselingi oleh canda dan tawa.


Sementara di belakangnya, Patricia mengulas senyum kesedihan. Wanita itu sangat menyadari perubahan dari sikap suami serta putranya. Dan ia tidak ingin kedua pria dihidupnya semakin menjauh, sehingga membuat Patricia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.


"Dia memang anak yang sangat manis," gumam si wanita sembari menatap tubuh kecil Baron yang sebatas pinggang suaminya.


Sementara Andre, suaminya itu masih terlihat bugar diusianya yang sudah tidak lagi muda. Selain karena memiliki hobi olahraga, pria itu selalu menerapkan hidup disiplin dengan pola makan yang sehat. Maka tak heran, suaminya yang berusia 64 tahun itu, tidak terlihat selayaknya kakek-kakek diusianya.


"Ini untuk Oma," lamunan Patricia dibuyarkan oleh suara kecil yang terdengar menggemaskan ditelinganya.


Melihat sebuah tangan kecil yang menyodorkan cup ice cream kepadanya, membuat Patricia terkekeh geli. Kemudian, wanita itu menerima dengan ucapan terima kasih kepada Baron.


"Opa tidak dibelikan?" tanya si wanita dengan menatap singkat ke arah sang suami yang sibuk berbincang oleh seseorang yang tidak mereka kenali. Melihat hal itu, membuat Patricia membantu Baron untuk mendudukkan tubuh di bangku sebelahnya.


"Tidak, katanya untuk Oma saja." Baron tersenyum kecil.


Untuk beberapa saat, keduanya hening lantaran tak ada pembicaraan sama sekali. Baron sesekali tertawa geli, ketika melihat suasana di sekitar mereka yang masih ramai oleh pengunjung. Sementara Patricia, wanita itu menatap ke arah Baron dalam diamnya.


"Baron sayang sama Om Gibran?" tanya wanita di sebelahnya, sehingga membuat anak laki-laki itu menoleh.


"Sayang banget," sahut Baron dengan binar dimatanya.


"Iya, kah? Kenapa bisa sayang sama Om Gibran?" tanya Patricia lagi, sehingga membuat Baron nampak berpikir bak orang dewasa. Melihat Baron uang mengetukkan jari telunjuk didagunya, membuat wanita itu benar-benar merasa gemas.

__ADS_1


"Tidak ada alasannya, Oma ..." sahut Baron dengan tatapan polosnya. Tangan kecilnya kembali menyuapkan beberapa sendok ice cream kedalam mulutnya. Kemudian, anak laki-laki itu kembali berujar.


"Kata ibu ... kalau kita sayang sama orang lain dan itu ada alasannya, maka itu bukan rasa sayang yang sesungguhnya. Benar kan, Oma?" ucapnya dengan menirukan penuturan sang ibu. Lagi dan lagi, ia dibuat takjub oleh anak dari Arita tersebut.


"Iya, ibumu benar." Patricia menyetujuinya.


Pandangan keduanya tertuju pada Andre yang berjalan ke arah mereka. Setelah mendudukkan tubuhnya di sebelah Patricia, pria itu mulai membuka ponsel sembari menunggu Baron menghabiskan ice cream yang telah mereka beli.


"Opa, terima kasih untuk ice cream nya," ucap anak itu sehingga membuat Andre menolehkan kepalanya.


"Sama-sama, Boy. Cepat habiskan sebelum cair," imbau pria tersebut uang dianggukki oleh Baron. Sesekali, Patricia mengusap sisi bibir sosok kecil di sebelahnya menggunakan tisu.


"Baron mau kemana lagi setelah ini?" tanya Patricia berusaha mendekatkan dirinya pada Baron. Melihat usaha yang dilakukan oleh istrinya, membuat Andre mengulas senyumnya. Kemudian, pria itu mulai memasukkan ponselnya pada saku celana.


"Baron sudah puas bermainnya," aku si bocah sehingga membuat sepasang suami istri di dekatnya itu tertawa geli.


"Mau makan dulu? Ini sudah siang," tawar Patricia dengan meminggirkan cup ice cream-nya yang sudah kosong. "Kita makan siang dulu, ya? Nanti perut Baron sakit kalau nggak makan," imbuhnya sehingga membuat Baron menganggukkan kepalanya.


Dengan tangan yang digandeng oleh Patricia, Baron mulai beranjak dari duduknya. Diikuti oleh Andre, yang kini berjalan di belakang istrinya dan Baron.


Banyaknya pengunjung KidsLand di akhir pekan seperti ini, membuat Patricia ingin segera keluar dari tempat tersebut. Setelah berada di lobi, wanita itu menatap ke arah suaminya.


"Sopirnya parkir dimana, Pa?" tanya si wanita dengan membopong tubuh Baron di gendongannya. Tak ingin anak laki-laki itu tersenggol oleh banyaknya pengunjung yang berlalu lalang, membuat Patricia memilih untuk menggendongnya saja.


"Sebentar lagi datang," jawabnya setelah menghubungi sopir pribadi yang bekerja pada Mona.


Benar saja, sebuah mobil berwarna hitam langsung berhenti tepat di hadapan mereka. Setelah dibukakan pintu oleh sopirnya, Patricia segera masuk di jok belakang. Pun hal yang sama dilakukan oleh Andre.


"Kita cari tempat makan di daerah sini ya, Pak?" ucap Patricia yang dianggukki oleh sang sopir.


Setelah mobil yang mereka tumpangi mulai menjauh dari area parkir, Baron turun dari pangkuan Patricia dan mendudukkan tubuhnya di antara keduanya. Melihat hal itu, membuat Andre berbincang kecil dengan Baron.

__ADS_1


Sementara itu, Patricia mengirimkan kabar pada putrinya, bahwasannya mereka sudah keluar dari KidsLand. Tak berselang lama, mobil mulai memasuki area restoran siap saji lantaran permintaan dari Baron kepada Andre.


"Mari makan siang sekalian, Pak. Sudah jamnya istirahat," ajak Andre sembari menggandeng Baron untuk menuruni mobil.


Mendapati tawaran tersebut dari orang tua majikannya, membuat sang sopir merasa setengah tidak percaya. Namun, setelah diyakinkan oleh Andre, membuat pria dengan setelan hitamnya itu turut keluar dan mengikuti sepasang suami istri di depannya.


"Mau ayam goreng? Minumnya apa?" tanya Andre setelah mereka mendapatkan meja.


Mengikuti keinginan dari Baron, Andre langsung memanggil waiters untuk mencatat semua pesanannya. Untuk pertama kalinya, Patricia bisa menyaksikan kehangatan sifat suaminya dengan hati yang sangat tulus.


Selama hampir 35 tahun hidup bersama dengan suaminya itu, baru kali ini juga bisa menyaksikan Andre dan laki-laki yang semula tidak mereka kenal, dan memperlakukannya seperti seorang cucu.


"Terima kasih Opa," ucap Baron tersenyum senang.


"Makan yang banyak, ya? Biar cepet gendutnya nanti," titah pria tersebut sehingga membuat Baron tertawa lepas. Begitupun dengan Patricia yang menyetujui ucapan suaminya.


"Besok kita belikan suplemen penambah nafsu makan aja, Pa. Biar berat badannya naik," usul si wanita mengingat produk penambah berat badan buatan Spanyol yang sejak dulu ia gunakan pada Mona dan Gibran. Dan hal itulah, yang membuat Patricia ingin memberikannya pada Baron juga.


"Selamat menikmati," ucap sang waiters dengan mengantarkan pesanan Andre dan Patricia. Begitupun dengan pesanan untuk sopirnya, yang kini duduk terpisah dari mereka.


"Baron makan sendiri aja," sahut si kecil begitu Patricia menawarkan untuk menyuapinya. Mendengar hal itu, membuat keduanya pun menganggukkan kepalanya sembari mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh anak itu.


Setelah ketiganya menyelesaikan makan siangnya, Patricia segera menuju ke arah meja kasir untuk membayarnya. Sembari menunggu istrinya kembali, Andre mengajak Baron untuk berjalan keluar dari restoran tersebut.


"Sudah," ucap Patricia menyusul sang suami.


"Oma ..." panggil si kecil sehingga membuat wanita berambut cokelat dengan kulit cerah itu langsung menundukkan kepalanya. "Baron sudah mengantuk, mau pulang saja."


Sontak, ketika mendengar pengakuan dari anak laki-laki itu membuat keduanya tertawa singkat. Tak ingin membuat Baron kelelahan di esok hari, akhirnya membuat mereka berdua mengiyakan permintaan dari si kecil.


"Boleh dong, sayang. Ya sudah, kita pulang," putusnya dengan menggagalkan rencananya untuk mengajak Baron ke semua mall.

__ADS_1


Setelahnya, mereka bertiga mulai menempuh perjalanan sekitar setengah jam untuk tiba dirumah. Benar saja, ditengah perjalanan, Baron sudah tertidur lelap dengan posisi berbaring berbantalkan paha Patricia.


"Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya. Ternyata, putraku mendapatkan anak dari calon istrinya.


__ADS_2