
"Suamimu yang sudah menolong saya, Ar. Maka dari itu saya sampaikan, kau sangat-sangat berhak mendapatkan perlindungan dari kami. Saya berhutang budi padanya," jujur Mona yang membuat Arita serta Gibran merasa terkejut.
Dari cerita yang sudah disampaikan oleh wanita berkarir sukses itu, membuat Arita benar-benar tak menyangka bahwa dunia akan sesempit ini. Dia kembali teringat akan sosok suaminya yang telah meninggal 3 tahun silam.
"Terimalah niat baik kami, Arita. Karena dengan ini, mungkin adalah salah satu cara untuk menebus dosa yang kami punya pada suamimu. Saat itu ada satupun dari kami yang bisa mengantarkannya ke rumah sakit, karena keadaan Mona yang sangat tidak mungkinkan."
Sungguh, Arita benar-benar tidak mempercayai hal ini. Namun, tak ada secuilpun rasa benci kepada Mona dan suaminya. Karena Arita tahu betul, jika hal itu memang sudah takdirnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya dan Baron sudah mengikhlaskan kepergian Mas Bayu. Ibu dan Bapak tidak perlu merasa bersalah, karena ini semua diluar kendali kita sebagai manusia," sanggahnya berusaha menepikan rasanya yang campur aduk.
Tak munafik, ada rasa nyeri yang hebat di ulu hatinya, ketika mengetahui penyebab meninggalnya Bayu yang sebenarnya. Namun, setidaknya Arita merasa lega. Karena ternyata, suaminya itu merupakan seorang pria yang berhati mulia.
__ADS_1
"Setiap pertemuan bukanlah sekedar kebetulan. Ternyata Tuhan memang menunjukkan semuanya," ucap Gibran yang turut merasa kaget dan sulit untuk percaya.
"Saya mengucapkan maaf dan terima kasih yang sangat besar. Maaf karena saya yang menyebabkan suamimu tiada, dan terima kasih karena kau telah berbaik hati memaafkan saya."
"Tidak perlu seperti itu, Bu ..." larangnya ketika Mona berniat untuk berlutut di hadapannya, tepat di sebelah ranjang. Dengan cepat, Arita langsung membawa tubuh atasannya ke dalam pelukan.
"Ibu dan Bapak orang yang baik, dan saya yakin Mas Bayu sangat bahagia ketika tahu jika orang yang diselamatkannya berhati baik. Tidak perlu meminta maaf seperti itu, Bu."
"Maaf jika saja lancang, Bu. Tapi bagaimana dengan janinnya setelah kecelakaan itu?" tanya Arita dengan sedikit ragu, namun ia hanya ingin memastikan saja.
Melihat raut wajah Mona yang seketika berubah dan tertunduk, membuat wanita itu menyesali pertanyaan yang ia ajukan. Belum sempat dirinya berujar lagi, Edward langsung merengkuh tubuh istrinya dari samping.
__ADS_1
"Calon anak kami tidak bisa diselamatkan," jawabnya yang membuat Arita benar-benar merutuki pertanyaannya.
Namun, wajah tegar dari Edward lah, yang menguatkan Mona. Keduanya saling menggenggam tangan satu sama lain, seolah memberikan kekuatan pada pasangannya masing-masing. Arita yang menyadari hal itu pun, mengulas senyum kagumnya.
"Program bayi tabung yang selalu kamu rencanakan setiap tahunnya, tidak pernah berhasil. Namun 3 tahun lalu, sepertinya Tuhan menitipkan sebentar rasa bahagia sebagai calon ibu kepada saya ..."
"Tapi, semuanya hanya sementara. Mungkin Tuhan tau, jika aku bukanlah ibu yang baik untuk anakku kelak. Maka dari itu, Tuhan mengambilnya lagi melalui kecelakaan itu. Andai saja suamimu tidak datang menyelamatkan saya, mungkin kita tidak akan pernah bertemu."
Gibran menatap penuh haru ke arah kakak satu-satunya itu. Diumurnya yang ke 30 tahun, serta Edward yang memasuki usia 35 tahun, tak kunjung mendapatkan momongan. Beberapa kali program hamil yang dijalani keduanya, tak pernah berhasil sama sekali.
"Sekarang ada Baron, yang mungkin bisa kami anggap sebagai anak."
__ADS_1