Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 54


__ADS_3

"Ar, Baron pulang sekolahnya jam berapa? Nanti biar aku yang jemput dia," tanya si pria sehingga membuat Arita membulatkan matanya. Belum reda kekagetan wanita itu, Gibran semakin membuatnya menggeleng tak percaya.


"Ngagetin aja," gumam Arita dengan singkat.


Tak berniat untuk menjawab pertanyaan itu, Arita melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Gibran seorang diri. Sedangkan pria yang mengenakan kaos polo serta celana hitam itu masih berdiri dengan wajah datarnya.


"Sepertinya memang susah," lirih Gibran dengan menatap punggung si wanita yang mulai menjauh.


Lantaran tidak ingin menganggu aktifitas Arita, akhirnya membuat Gibran memutuskan untuk memasuki ruang kerja sang kakak. Setidaknya dengan hal itu, membuat Gibran bisa fokus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ia dapatkan dari sang sekretaris.


"Ar, nanti jam sepuluh ikut aku ke BPN, ya? Ada berkas yang harus diantar, makanya aku ajak kamu," samar-samar Gibran mendengar suara dari salah satu staff yang mengajak Arita untuk keluar kantor.


"Oh oke, Mbak. Mungkin kerjaan yang ini udah selesai," sahut Arita dengan suara yang terdengar lembut ditelinga Gibran.

__ADS_1


Mengetahui hal itupun, lantas membuat Gibran mengangguk seolah mengerti. Setidaknya, ia memiliki kesempatan untuk menjemput si kecil di sekolahnya siang nanti. Karena ia tahu betul, jika staff kakaknya berada dikantor BPN pasti membutuhkan banyak waktu.


Pendengaran Gibran mampu menangkap beberapa candaan yang berhasil memecahkan kesunyian antar pegawai di luar. Asiknya siklus kerja dengan suasana santai pun, membuat keempat staff notaris tersebut tidak pernah merasa bosan.


"Pagi semua, sudah sarapan?" sapa Monalisa begitu memasuki kantor yang telah ia dirikan sejak 5 tahun terakhir. Suaranya yang tegas namun tetap santun, membuat keempatnya langsung menoleh ke arah pintu masuk.


"Pagi juga, Bu. Kita semua udah sarapan," sahutnya yang dianggukki oleh yang lain.


"Bagus kalau gitu, setidaknya kalian nggak lemes-lemesan," canda wanita 30 tahun itu, sehingga mengundang tawa semua staffnya. Mengenakan pakaian formalnya, membuat Mona terlihat berkelas dimata Arita terutama.


"Ada Gibran di dalam?" tanyanya yang dianggukki Arita.


"Ya sudah kalau gitu. Semangat buat hari ini, ya? Nanti saya orderkan makan siang untuk semuanya," putus Mona sembari berjalan menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Sementara ketiga staff lama kantor tersebut, saling bersitatap seperti biasanya. Kemudian, pandangan mereka bertiga mengarah pada Arita, yang kini kembali fokus pada tugasnya.


"Ta, sini deh ..." ajak si paling senior diantara mereka.


"Kenapa, Mbak?" tanya si wanita begitu tiba didekat rekan-rekan kerjanya. Tiffani langsung merangkul pundak Arita, sehingga membuat wanita itu semakin keheranan. Kemudian, mereka bertiga lantas menatap ke arahnya dengan tatapan menggoda.


"Kamu ada hubungan sama Mas Gibran, ya?" interogasi salah satu diantaranya sembari menatap kedua mata Arita. Sontak, dengan wajah yang sedikit aneh, ibu satu anak itu menggelengkan kepala.


"Nggak usah mikir aneh-aneh deh, Mbak. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia," jawab si wanita tanpa basa-basi. Karena pada dasarnya, sejak awal pun Arita tidak pernah menaruh harapan apapun pada pria itu.


"Ah, yang bener? Buktinya Bu Mona sama Mas Gibran nge-treat kamu berbeda dari kami semua," dukung Tiffani dengan mencolek dagu Arita. Dan kedua wanita lainnya pun, menahan senyumnya ketika melihat wajah Arita yang sedikit berbeda.


"Beneran nggak ada, tanya aja langsung," sanggah si wanita.

__ADS_1


"Bentar lagi juga ada hubungan, tunggu aja,"


__ADS_2