
"Kenapa dia menundukkan kepalanya seperti itu?" gumam seseorang yang masih teringat akan wanita bergaun putih tulang. Pikirannya masih merekam jelas, semua perilaku si wanita yang tak sengaja ia temui di pinggir jalan.
Kebanyakan, wanita akan menatapnya terang-terangan. Namun, berbeda dengan wanita yang dijumpainya kali ini. Dimana wanita itu justru menundukkan pandangan, seolah enggan bersitatap dengannya.
"Sial, aku belum mengetahui namanya!" geram si pria dengan memukul setir mobilnya. Entah mengapa, ia benar-benar penasaran dengan wanita bermata teduh yang ia jumpai tadi.
Gibran Daniswara. Seorang pria berusia 25 tahun, yang berprofesi sebagai pengusaha muda sekaligus pemilik lahan terluas di desa yang kali ini dikunjunginya. Lengkap dengan setelan formalnya, pria itu mengunjungi sebuah wilayah yang terletak di pinggiran kota.
Tanpa didampingi oleh seorang sopir, pria itu tetap mengendarai mobilnya sendiri meski melewati jalanan yang belum sepenuhnya rata. Selain ada janji dengan seseorang yang dikenalnya, pria itu ingin melakukan survei untuk menambah asetnya.
"Nah, ini dia ..." Tak berselang lama setelah itu, mobil Pajero Sport pria itu berhenti tepat di sebuah bangunan yang didominasi oleh warna putih. Setelah mengenakan kacamata hitamnya, pria itu segera turun dengan ponsel ditangannya.
Di ambang pintu, kedatangannya sudah disambut hangat oleh seorang wanita dengan jas yang hampir serupa. Begitu keduanya saling berhadapan, Gibran langsung memberikan sebuah pelukan hangat. Disusul oleh tawa gembira, dari sang wanita yang berada di rengkuhannya.
"Kangen banget sama kamu," ucap si wanita sembari mengusap lembut rahang tegas pria di hadapannya. Begitu juga dengan Gibran, yang juga menganggukkan kepala seolah menyetujui ucapan wanita itu.
__ADS_1
"Masuk dulu, yuk? Kita ngobrolin banyak hal," ajak si wanita dengan menyeret lengan kekar Gibran yang terbalut oleh jas hitam. Tak menunjukkan penolakan, pria itu hanya menurut sembari melepaskan kacamata hitamnya.
Setelah menyapa beberapa orang yang ada di sana, Gibran dituntun oleh wanita tadi menuju ke suatu ruangan yang nampak privat. Karena terlampau antusias, wanita itu langsung menceritakan banyak hal kepada si pria yang sudah lama tak berjumpa dengannya.
"Maaf, Bu. Ada tamu yang ingin langsung bertemu dengan Ibu," lapor salah seorang wanita dari arah luar.
Sontak, perbincangan mereka berdua pun terhenti lantaran mendengar hal tersebut. Belum ada 15 menit keduanya berbincang, namun ada keperluan yang harus wanita itu laksanakan. Dengan berat hati, ia kembali mengusap lembut lengan kekar itu.
"Tunggu sebentar, ya?" Tanpa menunggu persetujuan dari Gibran, wanita itu lekas beranjak keluar dari ruangan pribadinya. Sedangkan si pria, langsung menyenderkan tubuhnya santai dengan layar ponsel yang mulai menyala.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Begitu si wanita mulai menawarkan bantuan, tamunya itu langsung berbalik badan ke arahnya. Setelah saling melemparkan senyum ramah, keduanya pun duduk dengan posisi berhadapan.
"Sebelumnya ... Perkenalkan, nama saya Arita Samaya. Kedatangan saya kemari untuk menanyakan mengenai tawaran pekerjaan, yang saya dapatkan dari rekan kerja saya. Apakah tawaran tersebut masih berlaku?"
Setelah membersihkan tubuhnya usai tragedi tadi pagi, Arita mengunjungi sebuah kantor notaris yang berada di desa tersebut.
__ADS_1
"Apakah kau rekan kerja dari Retno?" tanya si wanita yang merupakan pimpinan di kantor tersebut. Ia memang diberikan informasi oleh Retno, mengenai temannya yang sedang mencari pekerjaan baru usai resign dari kerjaan sebelumnya.
"Iya, benar sekali. Saya adalah Arita, yang Mbak Retno maksud. Sebelumnya terima kasih banyak, atas tawaran yang langsung Ibu berikan untuk saya." Sebuah senyuman tulus, nampak terukir manis di bibir merah muda milik Arita.
"Iya sama-sama. Lagipula saya langsung tertarik, karena tahu sendiri bagaimana keuletan-mu di tempat kerja sebelumnya. Beruntungnya, pekerjaan di notaris saya ini memang ada korelasinya dengan pekerjaanmu yang sebelumnya."
"Jadi, bagaimana? Apakah Mbak Arita menerima tawaran saya?" tanya wanita berusia 30 tahun itu dengan harapan besar pada Arita. Namun begitu mendapatkan sebuah anggukkan mantap dari ibu satu orang anak itu, membuat si wanita langsung berbinar senang.
"Saya terima tawaran Ibu," jawab Arita.
"Tapi maaf sebelumnya, Bu. Panggil saya Arita saja," pinta wanita ibu satu orang anak itu dengan senyum canggungnya. Ia merasa sungkan, di panggil dengan embel-embel 'mbak' seperti itu oleh orang yang lebih tua 4 tahun darinya.
"Ah baiklah, maafkan saya ..." ralat si wanita dengan tawa kecilnya.
Keduanya tak sadar, jika sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Jangan lupakan sepasang telinga, yang juga merekam jelas pembicaraan mereka. Dengan memasukkan tangan kanannya ke saku celana, pria itu mulai keluar dari ruangan pribadi si wanita.
__ADS_1
"Jadi, namamu adalah Arita?"