
"Baron dimana, Rik?!" teriak Arita ditengah rasa takutnya. Tubuh wanita itu bergetar hebat, usai mendapati perbuatan Danu. Sementara pria yang menggendong tubuhnya pun, sama sekali tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Beberapa kali, terdengar suara tembakan yang dilakukan oleh anak buah Riko, berusaha untuk mengelabuhi Danu. Suasana semakin menegangkan, ketika Arita mendengar suara Danu yang menjerit kesakitan.
"Riko–"
"Pejamkan matamu, dan jangan bicara," tegas si pria dengan menundukkan kepalanya. Begitu merasakan Arita semakin kuat mengalungkan lengan dilehernya, membuat Riko mengeratkan gendongannya pada si wanita.
"Tenanglah, Baron sudah diamankan," imbuhnya dengan setengah berbisik di telinga Arita.
Mengikuti saran dari Riko, wanita itu hanya bisa memejamkan mata sembari berpegangan pada tubuh si pria. Sesekali ia merasakan langkah kaki Riko yang tersandung oleh sesuatu, sehingga membuat Arita cemas.
"Saya akan menyusulnya setelah ini," ucap Riko kepada petugas kantor kepolisian yang ia kenali.
Melihat mobilnya terparkir di dekat tembok pembatas, Riko segera membawa tubuh Arita memasukinya. Setelah mendudukkan wanita itu, Riko kembali memastikan bahwa keadaan Arita baik-baik saja.
"Ada yang luka?" tanya pria itu.
__ADS_1
Yang ia dapati, justru wajah pucat Arita dengan beberapa luka gores dipipinya. Kemudian, ibu satu anak itu nampak menggelengkan kepalanya. Namun, Riko tak bodoh. Pria itu mengangkat dagu Arita menggunakan jari telunjuknya.
"Kau berbohong, hm?" tanyanya sekali lagi.
"Katakan dimana Baron," ucap Arita berusaha mengalihkan perhatian pria itu. Ketika dirinya hendak bergerak, Riko langsung menahan tubuhnya dan sedikit menunduk. "Aku baik-baik saja, tenanglah."
"Aku membenci seorang pendusta," tuturnya pelan.
Arita meneguk ludahnya susah payah, begitu tatapan tajam dari Riko menembus netranya. Jantungnya berdegup kencang, merasa terintimidasi oleh aura pekat itu. "Tidak banyak, hanya dibeberapa bagian kecil saja."
"Ikuti ambulannya!" Sesuai arahan Riko, anak buahnya pun mengikuti sebuah ambulan yang membawa Baron di depan mereka. Dengan kecepatan tinggi, mobil hitam itu segera melesat menuju rumah sakit terdekat.
"Tidak usah membahas mereka, kalian jauh lebih penting!" peringat si pria sehingga membuat Arita terdiam. Secara diam-diam, Arita menatap wajah pria itu dari samping. Datar dan judes, itulah kata yang identik dari tampang si pria berwajah tampan di sebelahnya.
Beruntungnya, strategi yang dirancang oleh Riko tepat sasaran. Ketika Arita memasuki gedung itu sendiri, ia mengupayakan dengan anak buahnya untuk mengambil langkah yang aman. Sehingga, dengan menghubungi relasinya, ia mampu membawa Arita dan Baron dalam keadaan aman.
"Pegang pundakku," ucap Riko yang bersiap untuk keluar dari mobil.
__ADS_1
"Nggak usah, aku bisa sendiri," tolak Arita merasa sungkan. Wanita itu merasa, jika dirinya bisa berjalan sendiri tanpa bantuan dari pria itu. Namun, Riko tetaplah Riko. Pria itu langsung mengangkat tubuh Arita tanpa menunggu lama.
"Sok kuat," sindir pria itu sembari melangkah masuk, mengikuti brankar yang membawa tubuh Baron.
"Baron," panggil Arita dengan nada lirih. Hatinya terasa ngilu, ketika melihat tubuh putranya terbaring lemah diatas brankar itu. Sungguh, Arita tidak bisa menahan tangisannya.
"Tidak perlu menangis, kau harus kuat untuknya."
Beberapa pandangan langsung terarah pada keduanya, yang diikuti oleh dua orang berbaju hitam dibelakang Riko. Namun, baik pria itu maupun Arita berusaha untuk tidak mempedulikannya. Tatapan mereka tertuju pada Baron, yang kini tergeletak disebuah brankar.
"Sediakan satu kamar perawatan untuk dua orang," ucap Riko kepada seorang perawat yang ia lewati di koridor tadi. Setelah mendapatkan respon, pria itu menganggukkan kepalanya singkat.
"Kalian pantau kondisi Baron di IGD. Setelah Arita mendapatkan penanganan, aku akan menyusul kesana."
Setelahnya, Riko membawa Arita memasuki sebuah ruang perawatan yang telah disediakan oleh suster tadi. Beruntungnya, kondisi rumah sakit swasta di kota ini, tidak begitu banyak pasien. Sehingga, Arita dan Baron mendapatkan penanganan tercepat.
"Terima kasih banyak untuk semuanya," ucap Arita dengan tatapan tulusnya. "Jika tidak ada kau, entah bagaimana nasibku dan juga putraku."
__ADS_1
"Itu semua tidak gratis, Nyonya. Ada yang harus kau bayarkan kepadaku,"