Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 63


__ADS_3

Tepat adzan dzuhur berkumandang, Arita dan Gibran telah tiba dirumah. Setelah menghadiri acara pernikahan Tiffani, keduanya memutuskan untuk langsung pulang usai insiden kecil tadi.


"Kata Bu Mona, sebentar lagi Baron pulang. Aku takut ngerepotin orang tua kamu," ucap Arita merasa tidak enak hati.


Sejak tadi pagi, putranya itu sudah bersama dengan Andre dan Patricia. Maka dari itulah, Arita merasa sangat merepotkan. Sementara Gibran, pria itu tidak merasa hal itu merepotkan bagi papa dan mamanya. Lagipula, dengan adanya Baron justru membuat kedua orang tuanya merasa bahagia.


"Nggak apa-apa, Ar. Justru malah itu yang papa mau," sahut si pria mengingat papanya itu sudah mengatakan ingin menghabiskan banyak waktu dengan Baron semenjak mengenal anak itu.


"Turun dulu, Gib. Sekalian nunggu Baron sampai rumah," tawar si wanita yang disetujui oleh Gibran.


Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Arita, keduanya keluar dari mobil menuju teras. Dengan Gibran yang membantu untuk membawakan paper bag yang berisikan baju-baju milik si wanita.


"Aku nunggu diluar aja, Ar ..." Wanita itu tersenyum lembut ketika memahami maksud dari pria berparas tampan itu. Setelah menganggukkan kepalanya, Arita pun segera masuk meninggalkan Gibran yang duduk di kursi teras.


Sembari menatap ke arah mushola didekat rumah tersebut, Gibran terdiam menatap beberapa orang yang melaksanakan ibadah didalam sana. Hal tersebut mengingatkannya untuk mengurus beberapa berkas yang diperlukan. Maka dari itu, Gibran langsung menghubungi asistennya yang berada di kota.


"Handle beberapa pekerjaan untuk dua minggu kedepan, ya? Besok saya harus ke luar negeri," paparnya mengingatkan sang asisten untuk mem-backup tugasnya di kantor.


"Ini minumnya," ucap si wanita dengan membawakan sebuah mug berukuran besar yang berisikan jus buah yang selalu tersedia di kulkasnya. Gibran menganggukkan kepala, sembari menerimanya.


Baru saja Arita mendudukkan tubuhnya di sebelah Gibran, sebuah mobil hitam mulai memasuki halaman rumahnya. Dengan cepat, Arita berdiri dari duduknya yang disusul oleh Gibran.


"Baron nya ketiduran dimobil," ucap Andre setelah keluar dari dalam. Mendengar hal itu, membuat Gibran dengan cekatan langsung mendekat ke arah pintu belakang.


"Biar Gibran aja yang pindahin ke kamarnya," ucap Gibran mengambil alih tubuh anak laki-laki itu. Setelah berhasil menggendong Baron, pria itu segera membawa masuk si kecil kedalam rumahnya.


"Bapak, Ibu, silakan masuk dulu," tawar Arita yang dianggukki oleh keduanya.


Berjalan mengikuti Arita, pasangan suami istri tersebut mulai memasuki rumah sederhana milik si wanita. Setelah keduanya duduk nyaman di ruang tamu, Arita pamit untuk mengecek putranya yang dibawa oleh Gibran ke kamarnya.


"Udah pules banget?" tanya Arita begitu memasuki kamar dengan ukuran sedang tersebut.

__ADS_1


Sementara Gibran, pria itu berdiri disisi ranjang dengan tatapan yang tertuju pada wajah tenang si kecil saat tertidur. "Nggak usah diganggu, Ar. Udah pules banget tidurnya," ucap Gibran sembari memasangkan selimut ditubuh mungil itu.


"Mungkin dia cape keliling KidsLand," sahutnya dengan kekehan kecil.


Kemudian, Arita bergegas ke arah dapur untuk membuatkan Andre dan Patricia minuman. Sementara Gibran, pria itu tak lupa menutup kembali pintu kamar dan menuju ke arah ruang tamu menemui papa dan mamanya.


"Acaranya udah selesai, Gib?" tanya Andre dengan kerutan herannya lantaran mengingat jadwal yang dikatakan oleh Mona, bahwasannya diacara pernikahan yang mereka datangi, akan selesai pukul 2 siang.


"Jam segini kok udah pulang?" tanya Patricia mengimbuhi.


"Sebenernya belum selesai, tapi karena dress Arita ketumpahan kuah, makanya pulang duluan." Keduanya menganggukkan kepala begitu mendengar penuturan dari sang putra.


"Mama mau ke kamar mandi sebentar," ucap wanita itu yang direspon sebuah anggukkan kepala dari sang suami.


"Jalan lurus aja, nanti ada Arita di dapur," sahut Gibran sembari menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal. Dengan mendudukkan tubuhnya di single sofa, pria itu sedikit merenggangkan tubuhnya dengan mata yang terpejam.


Sementara itu, Patricia berjalan memasuki rumah tersebut semakin dalam. Setelah menemui ruang keluarga, wanita itu sedikit bingung akan berjalan ke arah mana. Ketika melihat pergerakan Arita di area dapur, membuat wanita itu berjalan mendekat.


"Arita, saya mau ke kamar mandi di sebelah mana, ya?" ucapnya dengan sedikit kikuk lantaran teringat oleh sikap buruk yang ia berikan pada wanita muda itu.


Setelah membukakan pintu kamar mandinya, Arita mempersilakan kepada wanita itu. Setelah Patricia masuk, Arita kembali menyelesaikan kegiatannya untuk membuatkan minuman. Tak lupa, ia juga menyiapkan beberapa camilan untuk Gibran dan kedua orang tuanya.


"Disini airnya dingin banget, ya?" ucap Patricia begitu keluar dari kamar mandi. Sontak, Arita tertawa kecil sembari mengiyakan ucapan wanita paruh baya tersebut.


Melihat Arita yang masih sibuk berkutat dengan peralatan dapur, membuat Patricia mendekati wanita tersebut.


"Sini biar saya bantu," tawar si wanita yang membuat Arita merasa tidak enak. Ketika mendapati sebuah tolakan halus dari Arita, membuat Patricia mencoba untuk membujuk calon menantunya tersebut.


"Tidak usah repot-repot, Bu. Sebentar lagi juga selesai," sanggah Arita lantaran tidak ingin merepotkan wanita itu. "Ibu duduk saja disini," ucapnya lagi sembari menarik sebuah kursi yang ada di ruang makan.


Setelah saling bertatapan, akhirnya Patricia menuruti ucapan dari wanita berwajah cantik itu.

__ADS_1


"Tadi saya tanya sesuatu ke Baron," papar si wanita sehingga membuat Arita menghentikan pergerakan tangannya. Dengan wajah penasaran, Arita menatap wajah Patricia untuk mengetahui lebih lanjut.


"Saya tanya, apa alasan dia begitu sayang pada Gibran. Lalu, yang mengejutkan adalah, dia menjawab pertanyaanku menggunakan kata-kata darimu." Patricia menatap salut pada wanita sederhana yang berdiri tak jauh darinya.


"Apa yang dia katakan?" tanya Arita penasaran.


"Dia berkata, jika sayang memiliki alasan, maka itu bukanlah rasa sayang yang sesungguhnya. Itu yang membuat saya semakin kagum padamu," ungkapnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


"Maafkan saya yang bersikap buruk kepadamu," sesal si wanita yang membuat Arita menggelengkan kepalanya. "Maaf sudah men-judge buruk dirimu," lanjutnya dengan rasa penyesalan yang begitu mendalam.


"Sudahlah, jangan membahas hal itu lagi. Lagipula, saya tidak mempermasalahkannya, Bu," ucap Arita dengan mendekat ke arah Patricia. Kemudian, wanita itu mengelus lembut kedua pundak mama dari Gibran tersebut.


"Untuk kali ini, saya benar-benar merestui hubunganmu dengan putraku. Terima kasih sudah menerima niat tulus dari putra kecilku," ungkap wanita itu sehingga membuat Arita tersenyum lembut dengan tatapan tulusnya.


"Terima kasih juga sudah menerima saya dan putra saya," ucapnya lagi sembari menerima rengkuhan hangat dari Patricia.


Sementara itu, secara diam-diam wanita paruh baya itu meneteskan air matanya begitu merasakan lega yang luar biasa setelah menerima kehadiran Arita dengan legowo. Ternyata benar saran dari suaminya. Ketika ia menerima Arita dan Baron sebagai bagian dari takdir putranya, tenyata memberikan ketenangan dalam hatinya.


"Semoga kalian berjodoh, ya ..." harap si wanita dengan menatap kedua netra teduh milik Arita.


"Aamiin, InsyaAllah." Arita mengangguk.


"Sini biar mama bantu bawakan ke kedepan," ucap Patricia dengan membawakan sebuah nampan kaca yang digunakan untuk membawa beberapa toples kecil berisi kue kering. Kemudian, wanita itu mengajak Arita untuk keluar.


"Kamu bawa minumnya aja," titah si wanita yang dianggukki oleh Arita.


Selama keduanya berjalan menuju ruang tamu, Arita masih belum percaya akan perubahan sikap Patricia kepadanya. Bahkan, ia merasakan bahwa wanita itu berusaha mengakrabkan diri kepadanya. Sungguh, ia tidak pernah menyangka.


"Kok malah repot-repot begitu, Nak?" tanya Andre begitu kedua wanita itu keluar sembari membawa nampan di masing-masing tangannya.


"Tidak repot sama sekali," sanggah Arita dengan senyumnya.

__ADS_1


Setelah meletakkannya di atas meja, mereka mendudukkan tubuh lantaran merasa sedikit lelah. Pun lain cerita dengan Gibran, yang kini sudah merebahkan dirinya di double sofa yang semula diduduki oleh Andre.


"Lihatlah tingkahnya, tidak berbeda jauh dengan Baron."


__ADS_2