Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 58


__ADS_3

"Apa maksudnya? Apakah dia seorang janda?" tanya Patricia dengan menunjuk ke arah Arita yang sudah menjauh. Sontak, Andre menatap tajam netra istrinya. Ia sangat membenci ucapan spontan dari wanitanya itu.


"Mama apa-apaan, sih?! Sekiranya nggak bisa jaga ucapan, mama bisa pergi dari sini," sarkas Gibran dengan menatap penuh rasa benci kepada sang mama. Melihat hal itupun, membuat Mona berusaha menenangkan sang adik.


"Mama hanya bertanya," kilahnya sembari menyilangkan kaki serta menegakkan tubuhnya. Melihat hal itu, membuat Gibran berdecih sinis. Sementara Edward, pria itu mengusap wajahnya lantaran tak menyangka akan sikap mertuanya—Patricia.


"Lebih baik tidak usah bicara, daripada ucapanmu menyinggung perasan orang lain." Untuk kali ini, Patricia benar-benar bungkam karena ucapan sang suami.


Tak berselang lama setelah itu, Arita berjalan kearah mereka yang diikuti oleh anak kecil yang terlihat mengulas senyum tipis. Secara spontan, Baron langsung berlari ketika netranya melihat keberadaan Gibran. Sementara Arita, wanita itu menyuguhkan beberapa toples kue kering serta minuman hangat yang telah ia persiapkan.


"Lagi ngapain, hm?" tanya si pria dengan mengelus kepala si bocah, kemudian mendaratkan sebuah kecupan dipipi bulat itu. Keduanya tertawa geli, tatkala Gibran terus menghujami pipinya dengan kecupan manis.


"Baron ada banyak tugas, makanya tadi masih belajar sambil nyanyi-nyanyi sedikit," jawab si kecil dengan gerakan tangan yang sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu.


Dalam diamnya, Andre mengamati interaksi antara putranya dan juga anak kecil yang mengenakan setelan piyama berwarna biru muda polos. Sudut hatinya sedikit menghangat menyaksikan hal tersebut. Seketika dirinya teringat semasa kecil Gibran yang terlihat mirip dengan anak laki-laki itu.


"Good boy," gumam pria itu dengan memangku tubuh Baron. Sementara Arita hanya mengulas senyum canggung tatkala menyaksikan kedekatan putranya yang terlihat sangat lengket pada Gibran.


"Kemari, Nak ..." panggil Andre dengan melambaikan tangannya ke arah Baron. Seolah meminta persetujuan dari ibunya terlebih dulu, Baron menatap ke arah Arita dengan pandangan bingungnya.


"Salim dulu sama yang lainnya," titah sang ibu yang dianggukki oleh putranya.


Baron juga mendapatkan sebuah ciuman hangat dari sepasang suami istri yang telah dikenalnya. Seletah melewati Edward dan Mona, anak laki-laki itu terlihat sedikit ragu ketika di hadapan Andre. Namun, usapan lembut dikepalanya, membuat Baron mulai mengulas senyum kecil.


"Siapa namamu, Nak? Wajahmu sangat mirip dengan Gibran kecilku," tutur pria paruh baya itu dengan nada tenangnya. Meski usianya telah memasuki kepala enam, namun aura berwibawa masih terlihat jelas bagi siapapun yang memandangnya.

__ADS_1


"Namaku Baron, kak-"


"Panggil opa saja," potongnya dengan cepat sembari menuntun tubuh kecil Baron untuk duduk tepat di sebelahnya. Tanpa disangka-sangka, Andre memeluk tubuh kecil itu dengan jeda yang sedikit lebih lama. Menyaksikan hal itu, membuat Patricia diam membisu.


"Apakah opa baik-baik saja?" tanya Baron dengan cara bicara yang kaku, sehingga membuat Edward yang duduk disebelahnya pun mengulas senyum. Ia menepuk singkat punggung papa mertuanya, karena ia tahu benar apa yang dirasakan oleh Andre.


"Tentu saja," jawab si pria dengan mengurai pelukan keduanya. Matanya masih betah menatap setiap inci pahatan wajah kecil itu, kemudian menepuk singkat puncak kepala si kecil. Diarahkannya pandangan pada sang istri, yang terus-terusan memandangi layar ponselnya.


"Hentikan aktifitasmu," bisik Andre dengan tegas.


Patricia meneguk air liurnya dengan susah payah, begitu mendengar ucapan singkat dari suaminya. Dengan buru-buru, wanita itu langsung mematikan ponsel dan segera menyimpannya didalam tas. Pandangannya menatap lekat ke arah anak kecil yang duduk di sebelah suaminya.


"Apakah ini putramu?" tanya Patricia dengan mengarahkan pandangannya pada Arita. Melihat anggukkan kepala dari wanita itu, membuat Patricia kembali menatap anak laki-laki tersebut.


"Ini istrinya opa, Baron bisa memanggilnya oma," ucap Andre sehingga membuat si kecil terlihat sedikit ragu.


"Kami sudah mendengar banyak tentangmu," paparnya sehingga membuat Arita menatap ke arah Andre. Sesekali wanita itu melipat bibirnya kedalam, lantaran merasa gugup sekaligus canggung. "Mona dan Edward sudah menceritakan kepada kami."


Arita menganggukkan kepalanya paham, berusaha menghargai setiap kalimat yang diucapkan oleh pria tersebut. Sesekali dirinya ter-distraksi oleh interaksi antara Gibran dan putranya.


"Kami mengucapkan terima kasih banyak, karena kamu bisa menerima kenyataan yang sebenarnya dengan sangat legowo. Terima kasih juga tidak membenci putri serta menantuku, karena kejadian tiga tahun silam," ucap Andre dengan nada bicara yang semakin melemah.


"Andai saja kejadian itu tidak terjadi ... mungkin suamimu masih ada menemani kalian. Begitupun dengan cucuku, yang mungkin saja sudah bisa memanggilku dengan sebutan opa."


Baik Mona maupun Edward saling menguatkan dengan menyentuh jemari satu sama lainnya. Keduanya teringat kejadian dimana nahas menghampiri mereka, serta Bayu—suami Arita.

__ADS_1


"Semua sudah ada garisnya, kita tidak bisa memprediksinya, bukan?" ucap Arita yang mulai membuka suara. Ia merasa tidak tega, melihat wajah penuh rasa bersalah dari pria itu. Karena Arita pun tahu persis, bahwasannya tidak ada yang bersalah pada kejadian itu.


"Kami benar-benar mengucapkan terima kasih padamu dan mendiang suamimu. Jika tidak ada dirinya, mungkin putriku tidak bisa diselamatkan," Patricia mengimbuhi dengan menatap wajah Arita.


Sebagai responnya, Arita mengulas senyum teduh kemudian menganggukkan kepalanya. Pandangan wanita itu mengarah pada Gibran, berharap pria itu mengerti maksud dari kodenya melalui mata. Namun sayang, pria itu malah sibuk dengan Baron yang berada di pangkuannya.


"Biarkan saja dia melakukan hal yang diinginkan," sela Andre dengan kekehannya ketika melihat Arita yang terus-terusan menatap ke arah sang putra.


"Mereka mudah sekali mengakrabkan diri, bahkan saya pun heran," celetuk Arita yang mengundang tawa pria paruh baya tersebut. Begitupun dengan Edward dan Mona yang mengangguk setuju. Mereka pun heran, mengapa Baron sangat lengket kepada Gibran.


"Putramu terlihat sangat lengket pada putraku," ungkap Patricia dengan nada bicara yang tidak begitu ramah ditelinga Arita. Entah apa maksud tujuan dari ucapan wanita itu. Namun yang pasti, Arita menyimpulkan sebuah pesan tersirat dari penuturan wanita berkulit bersih itu.


"Apakah kau juga menginginkan hal yang sama? Jika iya, katakan saja, tidak perlu gengsi. Bukan begitu, Mon?" sindir Andre dengan menepuk singkat lutut sang putri. Sebuah tawa mulai terdengar dari bibir Mona yang menganggukkan kepalanya.


"Apa-apaan kalian ini ... aku han-"


"Sudahlah tidak usah berkomentar," pangkas Andre tanpa basa-basi. Lagi dan lagi, Edward tertawa menyaksikan sikap Andre yang dinilai terlalu sarkas kepada istrinya. Sontak, tawa dari pria blasteran itu membuat Patricia mencubit kecil pundak menantunya.


"Tidak usah menertawakanku," peringatnya yang membuat Edward justru semakin merasa geli. Sama halnya dengan Mona, yang tertawa puas begitu mendengar ucapan sang papa yang begitu to the point.


"Apakah kalian berniat untuk bercanda? Jika iya, silakan keluar," tegas pria 64 tahun itu sehingga membuat semua orang yang berada disana menutup mulutnya rapat-rapat.


"Gibran, apakah ada yang ingin kau sampaikan?" tanya sang papa yang mengambil alih atensinya. Setelah mendapatkan momen yang ia rasa sangat tepat, Gibran pun menganggukkan kepalanya.


Masih dengan posisi yang memangku tubuh kecil Baron, pria dengan wajah rupawan itu mulai menatap ke arah Arita. Dimana sang wanita tengah duduk dengan jantung yang berdegup lebih cepat, sehingga membuatnya menunduk.

__ADS_1


"Disaksikan oleh papa dan mama, aku ingin menyampaikan niatku sekali lagi. Sebagimana yang telah aku ucapkan beberapa waktu belakangan, aku benar-benar memiliki niat serius untuk kedepannya. Arita ... apakah kau bersedia menjadi istriku?"


__ADS_2