Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 34


__ADS_3

"Ibu, ada yang mencium pipi Baron!" teriak si bocah dengan kedua mata yang membelalak senang. Mendapati hal itupun, membuat Gibran terkekeh geli.


"Hei, kenapa berteriak seperti itu boy?" tanyanya dengan menyentuh hidung kecil milik si bocah yang berada di samping. Tawa geli dari bocah bernama Baron itu kembali terdengar, sehingga membuat Gibran mengacak kecil rambut halus itu.


"Hanya ibu yang mencium pipiku, Om. Makanya tadi Baron kaget," akunya dengan wajah yang terlihat sangat polos. Kedua mata bulat itu, menatap wajah Gibran dengan tatapan kagum.


Seorang anak kecil yang berhasil menarik atensinya itu, ternyata memiliki sikap yang hangat dan manis. Namun mengingat bahwasannya hari mulai petang, membuat Gibran menatap ke arah sekitar rumah Arita.


"Katakan dimana rumahmu, biar om antarkan pulang. Ini sudah malam, ibumu pasti mencari anaknya yang lucu ini."


"Tenang saja om, ibuku tidak akan mencariku. Lagi pula ibu sudah tau jika aku ke mushola," jawab si bocah sembari menunjuk kearah tempat yang dimaksud olehnya. Mendengar hal itupun, membuat Gibran turut menganggukkan kepalanya mengerti.


"Baron umur berapa tahun?" tanya si pria yang membuat mereka berdua lanjut berbincang mengenai banyak hal.

__ADS_1


Sedangkan Arita yang beru saja menyelesaikan kewajibannya, mengerutkan kening saat mendengar sayup-sayup percakapan di teras rumahnya. Begitu mendengar suara sang putra, wanita itu segera menyelesaikan aktivitasnya di dapur.


Semakin dirinya berjalan mendekati pintu utama, semakin jelas pula suara percakapan itu. Benar saja, ketika dirinya berada di ambang pintu, kedua netranya melihat dengan jelas bagaimana sang putra terlihat sangat akrab dengan Gibran.


"Ibu, om ini siapa?" tanya Baron keheranan.


"Ibu?" gumam pria berusia 25 tahun itu, mengulangi ucapan Baron. Dengan senyum manisnya, bocah laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya sembari menatap Gibran penuh antusias.


Lain dengan si pria, yang kini menatap ke arah Arita dengan raut wajah yang tak dapat diartikan. Tatapan heran itu, terekam jelas oleh indra pengelihatan si wanita. Namun, Arita tak menghiraukan hal tersebut.


Tak ada percakapan yang terlontar dari bibir tebal milik pria tersebut. Bungkam untuk beberapa saat, kemudian Gibran mulai berdehem kecil. Tak munafik, ia merasa terkejut saat mengetahui bahwa perempuan yang berhasil menarik perhatiannya, merupakan seorang ibu.


"Oh iya, Baron punya tugas ..." ingat si kecil bak orang dewasa yang menepuk keningnya.

__ADS_1


Seolah tak menganggap kedua orang dewasa yang berada di dekatnya, Baron langsung lari memasuki rumahnya dengan menggerutu kesal. Sedangkan Arita, wanita itu terkekeh singkat melihat tingkah sang putra.


"Oh iya, ada perlu apa kau kemari?" alihnya sembari menatap seorang pria bertubuh kekar yang mendudukkan tubuhnya di kursi berbahan jati itu. Sontak, pandangan Gibran langsung mendongak untuk menatap wajah si wanita.


"Maaf untuk ucapanku beberapa waktu lalu," ucap si pria sembari berdiri dari posisinya. Melihat hal itu, membuat Arita menciptakan sebuah jarak dengan posisi Gibran. Dan hal tersebut pun, tak menciptakan masalah bagi si pria.


"Aku benar-benar tertarik padamu, dan itu terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada yang menginginkan hal itu," lanjutnya dengan menatap tulus kedua bola mata si wanita.


"Tidak usah terlalu di pikirkan, aku sudah melupakannya, Tuan." Keduanya sama-sama berdiri dengan menatap ke arah perkebunan warga, yang berada tepat di hadapan rumah Arita. Sedangkan di sisi kanannya, berdiri sebuah tempat ibadah yang mulai sepi usai maghrib.


"Maaf, aku tidak tahu jika kau sudah memiliki anak. Jika suamimu tahu, mungkin ak–"


"Tidak perlu kau sangkut-pautkan dengan almarhum suamiku," larangnya dengan nada yang terdengar beda dari suara wanita itu. Menyadari hal itu, Gibran hanya terdiam menatap wajah Arita dari arah samping.

__ADS_1


"Banyak gadis yang pantas untukmu, Tuan. Lupakan aku, dan alihkan atensimu dariku,"


__ADS_2