
"Halo, Mbak. Sepertinya, aku dan Baron harus pindah dari rumah ini." Begitu panggilan tersambung, Arita langsung mengatakan maksudnya.
Sedangkan seseorang diseberang sana, terkejut bukan main saat mendengar penuturannya. Karena belum paham akan maksud rekan kerjanya, membuat wanita tersebut menanyakan ulang maksud ucapan Arita.
"Orang itu balik lagi, Mbak. Aku nggak mau terjadi sesuatu sama Baron," lanjutnya dengan nada suara yang mulai bergetar. Karena tak ingin membuat rekan kerjanya itu kembali bersedih, akhirnya wanita diseberang sana pun, langsung menenangkan.
"Ibu, udah belum? Baron kedinginan, nih ..."
Begitu mendengar pekikan sang putra, ia segera mematikan sambungan telepon setelah berpamitan. "Tunggu sebentar, okey? Ibu ambilkan bajunya." Setelah memastikan sambungannya terputus, ia meletakkan ponselnya di atas meja begitu saja.
"Nggak usah, Bu. Nanti ganti bajunya di kamar aja," pekik si bocah untuk yang kedua kalinya.
Mendengar hal tersebut, ia tak jadi melanjutkan langkahnya. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, wanita itu menyambar sebuah handuk yang bertuliskan nama sang putra.
Benar saja, putra tampannya itu baru saja selesai mandi. Terbukti dari rambutnya yang basah, membuat Arita secepat mungkin membalut tubuh Baron menggunakan handuk. Beruntungnya, bocah itu sudah terbiasa mandi sendiri sejak masuk sekolah dasar.
"Sini, Ibu gendong." Ujarnya sembari mengangkat tubuh sang putra yang sudah terbalut handuk.
Sebelum meninggalkan kamar mandi, wanita itu mematikan saklar lampu terlebih dahulu. Setelahnya, ia menggendong tubuh Baron menuju kamar si bocah. Ocehan sang putra, tak terlalu ditanggapi oleh Arita teringat kejadian sore tadi.
"Ibu masih marah, ya? Kenapa pas Baron ngomong, Ibu nggak jawab?"
__ADS_1
Ia mendengar dengan jelas pertanyaan sang putra. Namun, wanita itu memilih untuk diam. Setelah menurunkan si bocah di atas sofa, ia segera berbalik menghadap kearah lemari. Tatapan bingung bocah laki-laki itu, terus tertuju pada sang ibu.
"Ibu, Baron minta maaf." Penuturan tulus sang buah hati, membuat Arita menghentikan pergerakannya untuk sejenak. Ia masih bergeming diposisinya, belum berniat untuk berbalik arah.
Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat. Hembusan napas yang terdengar sangat berat, membuat manik mata Baron menatap sedih ke arah punggung yang membelakanginya.
Begitu melihat pergerakan dari tubuh sang ibu, ia langsung mengalihkan pandangannya. Saat langkah kaki itu mulai mendekat, secara perlahan, si bocah mulai mendongakkan kepalanya.
"Sekarang, ganti baju dulu."
Masih dalam keadaan bungkam, wanita itu dengan telaten mulai mengeringkan tubuh sang putra. Minyak telon dan bedak bayi, senantiasa ia gunakan setiap kali putranya usai mandi. Entah mengapa, Arita tak bisa melewatkan kebiasaan tersebut.
"Ibu nggak suka, ada anak yang bandel. Dibilangin berulang-ulang kali, tapi tetep nggak mau dengerin."
"Ibu, Baron benar-benar minta maaf. Baron nggak akan ulangi itu lagi," ucap si bocah dengan suara yang terdengar sangat menyesal.
Saat wanita itu telah berbalik untuk meninggalkan kamar sang putra, ia berhenti kala suara serak si bocah yang memasuki telinganya. Untuk sejenak, wanita itu menghela napasnya berat.
Beberapa saat, tubuh wanita itu berdiri tegak tanpa adanya pergerakan sama sekali. Begitu juga dengan si kecil, yang menatap sang ibu disertai isakan kecil yang lolos dari bibirnya.
"Ibu ..." Baron kembali berucap dengan getaran yang semakin terdengar jelas. Untuk kali ini, Arita membalikkan tubuhnya saat mendengar isak tangis sang putra. Bocah itu tak lagi menahan tangisnya seperti beberapa saat lalu.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, wanita itu melangkahkan kaki mendekati ranjang. Begitu dirinya melihat keadaan sang putra, Arita berjongkok dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Baron janji?" Wanita itu menyodorkan jari kelingkingnya, tepat di hadapan wajah si tampan.
Sontak, si bocah langsung mendongakkan kepala saat mendengar suara sang ibu. Nampak sangat jelas, mata sembab dan hidung si kecil yang mulai memerah. Untuk sejenak, Arita menatap lekat wajah sang putra yang selalu mengingatkannya pada sang suami.
Belum sempat membuka suara, wanita itu mendapatkan sebuah pelukan erat dari Baron. Kedua tangan mungil si bocah, melingkar kuat di leher sang ibu disertai isakan yang semakin terdengar jelas.
"Ibu sudah maafin Baron, kan?" tanya Baron ditengah-tengah tangisannya.
Seutas senyum langsung terbit dibibir Arita. Wanita itu mengelus lembut punggung mungil sang putra, dengan mendaratkan beberapa kecupan dipipi gembul si bocah.
"Ibu sudah maafkan. Jadi, stop nangisnya, okey?" pinta wanita berparas ayu itu, yang dianggukki oleh Baron dengan patuh.
"Okey, I promise Mom ..." Sebuah kecupan kembali Arita berikan untuk sang putra. Begitu juga dengan si bocah yang selalu melabuhkan sebuah ciuman manis diseluruh wajah cantik sang ibu.
Seolah lupa akan kejadian yang mereka alami sore hari tadi, tawa keduanya kembali terdengar. Saat tangan sang ibu menggelitik bagian perutnya, Baron semakin tertawa lepas. Hal itulah yang membuat Arita mengulas senyum bahagianya.
"Ibu sayang banget sama Baron," ucap wanita tersebut dengan memeluk tubuh sang putra.
Penuturan Arita, membuat bocah laki-laki di hadapannya itu menghentikan tawa. Sebuah usapan dari tangan mungil, kembali terasa ditubuhnya. Untuk sejenak, Arita memejamkan mata saat atmosfer kamar putranya semakin terasa nyaman.
__ADS_1
"Coba aja, ada bapak disini ... pasti Baron jauh lebih bahagia."