Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 8


__ADS_3

"Ibu sudah bilang berapa kali? Kalau orang itu datang, jangan dekati dia! Tapi kenapa Baron nggak dengerin ucapan Ibu, Nak?"


Pertanyaan yang diucapkan oleh sang ibu, membuat bocah laki-laki itu menundukkan kepala. Kedua tangannya saling bertaut, tanpa berani menatap ke arah pintu utama. Mendengar tangisan ibunya, membuat Baron ingin mendekat. Namun, ia tak memiliki keberanian yang cukup.


"Ibu capek, Nak ... Kalau kamu masih ngeyel, Ibu nggak akan bicara lagi sama kamu!" tegas Arita dengan memberikan sebuah ancaman untuk sang putra. Hal tersebut ia lakukan, semata-mata untuk menjauhkan putranya dari jangkauan Banu.


Secara spontan, bocah itu langsung menatap kaget kearah ibunya. Gelengan kepala berulang kali ia tunjukkan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kaki mungilnya mulai melangkah ke arah sang ibu, dengan perasaan takut.


"Sekarang terserah sama Baron ... Kalau kamu mau ikut sama orang itu, silakan. Ibu bakal pergi sejauh mungkin,"


Mendengar ucapan sang ibu, tangisan si bocah tak terbendung. Tubuhnya langsung menubruk Arita, yang masih bersimpuh diatas lantai. Kedua tangannya memeluk erat sang ibu, seolah tak mengijinkan wanita itu benar-benar pergi.


"Ta-tapi ... Om Banu baik, Bu."


"Dia bukan orang baik, karena dia penjahat. Ibu sudah ngomong berulang kali," tegas Arita ditengah-tengah tangisannya. Karena ingin memberikan pelajaran untuk sang putra, ia menjauhkan tubuh mungil bocah laki-laki itu. Dengan lembut, ia memegang kedua lengan kecil itu disertai tatapan serius.

__ADS_1


Benar saja, tangisan Baron semakin menjadi saat ibunya menjauhkan tubuh mereka berdua. Begitu akan memeluk kembali tubuh sang ibu, dengan cepat Arita mencegahnya.


"Om Banu bukan penjahat, Bu! Dia janji, bakal temuin Baron sama Bapak!"


Bak tersambar petir, tubuh Arita seketika membeku di tempatnya. Mata wanita itu terlihat kosong, dengan air mata yang seolah berhenti mengalir. Untuk sekejap, napasnya tercekat dikerongkongan begitu mendengar ucapan sang putra.


Arita sangat mengerti, apa maksud pria itu berjanji demikian pada putranya. Secara tak langsung, ia memberikan makna tersirat dalam ucapannya pada Baron. Tentu saja putranya itu tak paham, sehingga membuat si bocah sangat antusias bertemu dengan pamannya itu.


"Itu nggak mungkin, Nak. Bapak udah pergi jauh," bantah wanita tersebut dengan memegangi pundak rapuh sang putra.


Arita benar-benar dibuat lelah akan semua ini. Ia tahu betul, putranya masih cukup dini untuk mengetahui semua permasalahan ini. Ditambah lagi, pria itu pasti sudah mempengaruhi isi pikiran sang putra.


"Dia ngomong apa aja sama kamu, setiap pulang sekolah? Bilang sama Ibu," titah wanita tersebut dengan sedikit paksaan.


Setelah mengetahui dari guru yang memantau putranya, wanita itu terkejut saat diberi kabar jika Banu kerap menemui Baron, setiap bocah itu menunggu jemputan darinya sepulang sekolah.

__ADS_1


Meski awalnya tak ingin bersuara, akhirnya bocah itu berani membuka mulut saat diperintahkan oleh sang ibu. "Om Banu bilang, bakal jagain Ibu kalau Baron udah ketemu sama Bapak." Akunya dengan menatap penuh harap kearah netra sang ibu.


Arita merasakan sebuah belati tajam, yang menancap tepat dijantungnya. Ia benar-benar tak menyangka, betapa gilanya pria itu. Sadisnya, putra kecilnya itu tak memahami ucapan Banu yang bertujuan sangat licik.


Bocah seusia Baron, mungkin belum mengerti maksud ucapan itu. Oleh karena itu, si bocah nampak sangat percaya pada omongan kosong yang ia terima. Hal itu yang membuat Arita merasa takut, jika terjadi hal buruk pada sang putra.


"Baron jadi nggak sabar, mau ketemu sama Bapak. Nanti ... Ibu bareng sama Om Banu dulu, ya?" ucap si bocah dengan wajah yang terlihat sangat polos.


Tak ingin semua kekacauan ini terus berlanjut, Arita menggelengkan kepala dengan tegas. Setelah menghapus sisa-sisa air mata yang ada diwajahnya dan sang putra, wanita itu segera mengangkat tubuh mungil si bocah dan beranjak meninggalkan ruang tamu.


Tanpa membuka suara, ia menurunkan tubuh sang putra setelah tiba di kamar mandi. Dengan cekatan, wanita itu menyiapkan air hangat yang dialirkan ke dalam ember berukuran sedang.


"Tunggu sebentar, Ibu ambilkan baju ganti dulu." Begitu mendapatkan anggukkan kepala dari Baron, wanita itu segera kembali menuju kamar si bocah. Saat dirasa sudah mulai jauh dari kamar mandi, ia mengeluarkan ponsel dan mendial nomor seseorang.


"Halo, Mbak. Sepertinya, aku dan Baron harus pindah dari rumah ini."

__ADS_1


__ADS_2