Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 46


__ADS_3

"Baron kemarilah, Nak. Kita makan dulu, ya?" ajak Mona dengan menggandeng tangan kecil itu ke arah dapur. Sejak Arita sadarkan diri beberapa waktu lalu, anak laki-laki itu asyik bermain dengan robot barunya yang dibelikan oleh Edward.


"Bibi, apakah ibu sudah sehat?" tanya si kecil dengan wajah penuh harap sembari mendongakkan kepala.


Mendengar hal itupun, Mona menganggukkan kepalanya dengan semangat. Dielusnya kepala Baron, kemudian tangan lembut wanita itu menoel pipi berisi milik anak itu. "Tenang saja, ibumu sudah pulih."


Tepat pukul 11 tadi, Mona membawa pulang Arita di kediamannya. Setelah diperiksa dan jauh lebih tenang, ibu satu anak itu masih ia minta untuk beristirahat di kamar tamu. Sebelum Arita benar-benar membaik, ia dan suaminya tak akan mengizinkan kedua orang itu pulang.


Begitu keduanya tiba di meja makan, Edward dan Gibran sudah mendudukkan tubuhnya di kursi masing-masing. Sesuai arahan Mona, bocah berusia 7 tahun itu mendudukkan tubuhnya tepat disebelah Gibran.


"Om, ternyata paman dan bibi sangatlah baik. Mereka tidak memarahi Baron karena bermain disini," bisik putra Arita itu dengan memelankan suaranya. Namun sayang, ketiga orang dewasa yang berada disana dapat mendengarnya dengan jelas.


"Iya, dong ... Om bilang apa tadi?" sahutnya dengan menarik kecil hidung mancung milik si bocah.

__ADS_1


"Baron dari siang hanya makan biskuit, kan? Ini sudah sore, sekarang ayo makan dulu," titah Edward dengan memberikan kode pada sang istri untuk mengambilkan nasi serta lauk di piring anak bermata bulat itu.


"Ah tidak paman, aku akan menunggu ibu saja. Baron tidak mau merepotkan paman dan bibi," tolak anak kecil itu sembari menggelengkan kepalanya dengan polos.


"Hei, jangan berkata seperti itu ya sayang? Bibi tidak merasa direpotkan, justru paman yang meminta agar bibi mengambilkan makan untukmu," gugup Mona yang merasa belum terbiasa untuk berkomunikasi dengan anak-anak.


Lain halnya dengan Gibran, yang terlihat sangat santai menyendokkan nasi lengkap dengan lauknya, kemudian menodongkan sendok tersebut tepat di depan bibir Baron. Sontak, Edward dan Mona merasa kikuk satu sama lain.


"Ayo buka mulutnya, aaa ..." tutur Gibran yang terlihat sangat dewasa menurut pandangan Edward dan Mona. Sungguh, keduanya merasa sangat takjub melihat sifat dingin adiknya yang seketika hilang entah kemana.


"Om serius? Terima kasih banyak," sahut si kecil sembari membuka mulutnya. Namun, selisih satu detik, Baron kembali menutup mulut dan mulai berdoa sebelum dirinya makan.


Ketiganya yang melihat hal itupun, semakin tersentuh oleh kepribadian dari anak kecil itu sendiri. Sungguh, mereka sangat salut kepada Arita, yang berhasil mendidik putra satu-satunya meskipun tanpa didampingi oleh seorang suami.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Gibran memastikan.


Setelah mendapatkan anggukkan kepala dari Baron, pria itu mulai memberikan sesuap demi suap nasi ke dalam mulut kecil Baron. Begitupun dengan Edward dan Mona, yang mulai menyantap makanannya sembari menyaksikan momen hangat itu.


"Om, Baron seneng banget hari ini."


"Benarkah? Paman senang mendengarnya," sahut Edward yang entah mengapa langsung antusias begitu mendengar penuturan polos itu. Begitupun dengan Mona, yang ikut memusatkan pandangannya ke arah Baron.


"Untuk pertama kalinya, Baron disuapi selain ibu. Tadinya Baron mau nangis, tapi kata ibu harus jadi anak yang kuat ..." ucap si kecil bernada serak dengan menundukkan kepalanya.


Sungguh, hati mana yang tak teriris begitu mendengar penuturan jujur dari bocah berusia 7 tahun ini. Dengan tubuh yang menegang kaku, Gibran menatap tulus ke arah Baron yang berada di sebelahnya.


"Baron belum pernah disuapi bapak,"

__ADS_1


__ADS_2