Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 14


__ADS_3

"Allahuakbar, Allahuakbar ..."


Suara adzan begitu terdengar dengan jelas di telinga Arita. Masih dengan kesadaran yang belum terkumpul, dahinya berkerut lantaran merasa bingung. Namun setelahnya, wanita itu mulai mengerjapkan matanya begitu teringat akan kepindahannya.


"Udah subuh ternyata," gumam si wanita yang kini mulai bangkit dari posisi tidurnya. Dengan selimut yang masih menutupi separuh tubuhnya, Arita terduduk dengan posisi bersila. Matanya menyipit, berusaha menatap jam yang berada di dekat almari.


Pandangannya beralih ke arah samping, dimana malaikat kecilnya masih tertidur lelap. Wajah damai si kecil, sempat membuatnya tak tega untuk membangunkan Baron dari tidurnya. Namun, ia tak ingin jika sang putra tidak menjalankan kewajibannya, sebagai seorang muslim.


Belum sempat Arita membangunkannya, si bocah mulai menggeliat dari posisi semula. Wanita tersebut hanya diam menyaksikan, bagaimana tingkah menggemaskan putra tunggalnya itu.


"Ibu, kenapa adzannya sangat keras? Seperti bukan biasanya," tanya si bocah dengan suara yang terdengar serak. Masih dengan mata yang terpejam, bocah itu menghadap ke arah samping dimana ibunya berada.

__ADS_1


"Baron nggak mau bangun, Nak? Ini sudah waktunya subuh," tanya wanita tersebut dengan mengusap lembut surai tebal sang buah hati. Seperti biasa, hanya rengekan manja yang keluar dari bibir mungil si bocah berhidung mancung itu.


Seolah berpikir keras, kedua alis tebal milik bocah itu nampak mengerut. Hening beberapa saat, membuat suara adzan semakin terlihat jelas. Hingga pada akhirnya, bocah itu membuka lebar kedua matanya dan bangkit dari posisi tidurnya.


"Loh ... rumah kita kok jadi beda sih, Bu?" heran si kecil dengan menggaruk pelipisnya lantaran merasa bingung. Rambutnya yang acak-acakan, membuat Arita merasa gemas melihatnya. Ditambah lagi dengan wajah bantal putranya itu, membuat Arita membawa tubuh Baron ke pangkuannya.


Tatapan polos itu seolah menuntut jawaban darinya. Mau tak mau, Arita mulai berdehem sebelum memberikan penjelasan kepada putranya itu.


"Sebelumnya, Baron belum pernah dengar adzan sekeras ini. Tapi, kenapa sekarang rasanya rumah kita dekat dengan masjid. Apakah masjidnya pindah ke samping rumah, Bu?"


"Bukan masjidnya yang pindah, Sayang. Tapi ... Baron yang pindah rumah," tuturnya dengan menatap lembut netra bulat di hadapannya.

__ADS_1


"Apakah rumahnya dekat dengan masjid, Bu?" tanya si kecil dengan alis yang masih menyatu. Jemari kecil itu kembali menggaruk kecil pelipisnya, seolah masih mencerna semua hal yang baru ia lihat di pagi ini.


Melihat anggukkan kepala dari ibunya, membuat Baron lantas berbinar senang. Tanpa diduga, bocah laki-laki itu segera menyingkir dari pangkuan Arita dan beranjak turun dari ranjang. Seolah tak sabaran, jemari mungil itu menggandeng erat jari telunjuk sang ibu.


"Antarkan Baron ke kamar mandi, Bu. Jangan lupa siapkan sarungnya juga," ucap si bocah yang terlihat sangat antusias.


Tanpa menunggu lama lagi, wanita itu mengantarkan sang putra ke arah kamar mandi yang terletak di sebelah dapur. Setelah menggulung lengan serta celana bagian bawah piyama yang dikenakan Baron, wanita itu memberikan tempat untuk putranya bersuci.


Sedangkan dirinya, kembali menuju ke arah kamar dan membuka sebuah koper yang berisikan pakaian sang putra. Setelah mengambil sebuah sarung berwarna hitam polos, wanita itu segera menghampiri si bocah yang sudah menyelesaikan wudhunya.


"Doanya sudah, kan?" Arita berjongkok tepat di hadapan sang putra, kemudian menyodorkan sebuah kain yang biasa dikenakan Baron ketika sholat.

__ADS_1


"Sudah dong," Baron menjawab pertanyaan sang ibu dengan acungan jempol. Dibantu oleh ibunya, bocah menggemaskan itu memasangkan sarung hingga menutupi celana piyamanya.


"Yuk, Ibu antarkan ke musholanya ..."


__ADS_2