Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 44


__ADS_3

"Kembaran almarhum suami saya, masih mengincar kami sampai saat ini. Tak hanya terobsesi pada saya, dia juga ingin menyingkirkan Baron dari dunia ini."


Baik Mona maupun Edward sangat terkejut mendengar pernyataan dari wanita berparas anggun itu. Terutama Gibran, yang entah mengapa dapat merasakan takut mengenai keselamatan keduanya.


"Namanya Banu Ekawira, saudara satu-satunya dari Mas Bayu," akunya yang membuat Edward mengepalkan kedua tangan hingga uratnya tercetak jelas. Ia tahu betul, siapa sosok yang membuat kekacauan ini.


"Sebelumnya, apakah dia pernah berbuat sesuatu pada kalian?" tanya Mona berusaha memastikan. Melihat anggukkan kepala dari staffnya, membuat Mona semakin penasaran mengenai hal tersebut.


"Dia pernah mencampurkan obat berdosis tinggi di minuman Baron, dan untungnya aku paham akan hal itu," paparnya yang membuat ketiga orang itu membelalak tak percaya. "Dan juga, dia hampir melecehkanku tepat satu tahun setelah Mas Bayu meninggal."


Sungguh, ketiganya tak habis pikir oleh keadaan yang dialami oleh Arita. Pada awalnya Mona berpikir, bahwasannya Banu mungkin berniat baik untuk menjaga Arita dan Baron, sehingga membuatnya terus mencari ipar dan keponakannya itu.


Namun, dirinya justru dikejutkan oleh tindakan buruk yang telah dilakukan oleh Banu terhadap Arita dan putranya. Tangannya sontak menggenggam jemari sang suami, berusaha memberi tahu reaksinya.


"Kenapa kau tidak melapor ke polisi?" tuding Gibran.


"Aku tidak memiliki bukti yang kuat pada saat itu. Dan lagi, pasti tidak akan ada yang membelaku dan putraku," jawabnya yang membuat Mona menatap iba ke arah wanita itu. Begitupun dengan kedua pria tersebut, entah mengapa turut merasa geram.


"Setidaknya kau perlu melaporkannya ke polisi, supaya dia tertangkap dan tidak berkeliaran. Ingatlah putramu, apakah kau ingin dia celaka atas perbuatan lelaki itu?"


Mendapati Gibran yang berapi-api, membuat Arita menatap wajah tampan itu dengan bibir yang terkatup rapat. Pandangannya tertuju ke arah netra yang menggelap, serta rahang si pria yang nampak mengeras.


"Kau tidak perlu khawatir lagi, Ar. Biar aku dan Edward yang akan membantumu dalam hal ini. Disini ada Gibran, yang bisa menjagamu dan Baron untuk beberapa waktu kedepan."

__ADS_1


Mendengar hal itu, Gibran menganggukkan kepalanya setuju. Usapan lembut yang Mona berikan pada lengannya, membuat Arita merasa beruntung lantaran dipertemukan oleh wanita sebaik Monalisa. Begitupun dengan Edward, yang ternyata berwatak humble seperti istrinya.


"Terima kasih banyak, Bu. Tapi entah mengapa, saya merasa tidak pantas untuk mendapatkan kebaikan ibu sekeluarga," ucapnya tak enak hati.


"Tenanglah Arita, justru kalian sangat layak mendapatkan hal ini. Karena ternyata, kalian adalah orang yang kamu cari sejak 3 tahun silam," Mona memutuskan untuk memberitahukan mengenai rahasianya dan sang suami.


"Maksud ibu? Tiga tahun silam?" tanya Arita beruntun.


...*****...


FLASHBACK 3 TAHUN LALU


"Sayang berhati-hatilah, jalanan ini sangat licin," ucap seorang pria berpostur kekar selayaknya bule spanyol. Tangan yang dihiasi oleh cincin pernikahan itu, menggenggam erat jemari istrinya lantaran merasa sangat khawatir.


Jika bukan karena paksaan dari istri tercintanya itu, mungkin saja Edward tidak akan mengijinkan Mona untuk berjalan di sekitaran taman kota. Entah mengapa, istrinya yang tengah mengandung 5 bulan ini, seketika sangat menginginkan untuk singgah di tempat ini.


"Jangan begitu, kita tidak pernah tau darimana datangnya bahaya. Jika bukan aku yang mengingatkan, lantas siapa yang harus waspada?" tuntutnnya dengan mengelus perut istrinya yang sudah membesar.


"Tenanglah, kau membawa bodyguard itu, Ed."


"Itu tidak menjamin sepenuhnya," pangkas si pria sehingga membuat Mona mengerucutkan bibirnya sebal. Wanita yang berusia 27 tahun itu, menatap antusias ke arah seberang jalan dimana penjual ice cream langganannya membuka lapak.


"Antarkan aku kesana, Ed," pinta si wanita dengan sedikit memaksa. Meskipun sudah ia tawarkan untuk tetap disana saja, Mona tetap tidak mau. Walaupun kedua bodyguard nya telah diperintah oleh Edward untuk membeli, Mona tetap kekeuh ingin mendekati stand tersebut.

__ADS_1


Apalah daya Edward, Mona beralasan jika ia mengidam.


"Ya sudah, pegang tanganku dan perhatikan instruksi dariku." Setelah itu, keduanya berniat untuk menyebrang jalanan kota yang terlihat sedikit lebih ramai dari hari biasanya. Dengan didampingi oleh kedua bodyguard nya, Edward dan Mona mulai melangkah.


Namun nahas, nasib buruk seseorang memang tidak ada yang bisa memprediksi. Meski keduanya telah membawa bodyguard, tak menjamin kemalangan yang sudah ditakdirkan untuk keduanya.


Sebuah mobil berwarna hitam nampak melaju dengan kecepatan tinggi. Dengan posisi Mona yang sudah berjalan lebih dulu saking excitednya, membuat Edward tidak bisa menjangkau hanya sekedar tangannya saja. Hingga, sebuah klakson terdengar nyaring disertai teriakan dari beberapa orang sekitar.


"Lord, help us!" pinta Edward dengan kondisi yang luar biasa paniknya. Pria itu tak sanggup jika harus melihat istrinya mendapat hal buruk, didepan matanya sendiri.


Namun, sepertinya Tuhan masih berbaik hati pada keduanya. Tiba-tiba seseorang asing mendorong tubuh Mona ke tepian jalan, sehingga membuat wanita itu terselamatkan dari tabrakan yang sangat jelas bisa membahayakan nyawanya.


"Selamatkan istriku!" teriak Edward pada bodyguard nya.


Tak berhenti disana kepanikan Edward, pria itu justru menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, seseorang yang berhasil menyelamatkan sang istri tengah meregang nyawa. Tanpa menunggu lama, Edward langsung mendekat dan memprosesnya secepat mungkin.


Jantungnya berdegup kencang, saat melihat seseorang kiriman tuhan yang menjadi penyelamatnya, kini mulai menutup mata dengan perlahan. Matanya dengan jelas melihat sebuah nama, yang tertera di kemeja pria itu.


Bayu Ekawira, nama itulah yang akan dikenangnya.


"Ed, perutku sangat sakit ..." rintih Mona sehingga membuat suaminya bergegas mendekat. Setelah memastikan sosok penyelamatnya berada di tangan yang tepat, Edward memutuskan untuk membawa Mona ke rumah sakit.


Tentunya kedua ambulance itu datang bersamaan, tak lama setelah kecelakaan terjadi. Edward bersama dengan istrinya, sedangkan salah satu bodyguardnya membersamai Bayu ke rumah sakit untuk penanganan terbaik.

__ADS_1


"Aku akan bertanggung jawab atas keluarga pria tadi, aku berhutang budi padanya."


__ADS_2