
"Bu, kok Baron udah ada di kasur?" tanya si kecil dengan suara yang serak ketika baru saja membuka mata. Melihat sang ibu masih tertidur lelap, membuat anak laki-laki itu menggoyangkan lengan ibunya dengan pelan.
"Ibu, Baron mau pipis," bisiknya karena sang ibu tak kunjung membuka mata. Dengan mengulangi gerakannya, Baron berusaha untuk membangunkan sang ibu. Lampu kamar yang sudah dimatikan, membuat Baron tidak bisa melihat jam yang menempel di dinding.
"Ada apa, sayang?" tanya Arita dengan membuka matanya, tatkala merasakan sebuah pergerakan dari sisi kanannya. Tangan kiri wanita itu menekan sebuah tombol, sehingga lampu yang terletak di atas nakas mulai menyala.
"Baron mau pipis, udah kebelet banget soalnya," keluh anak itu sehingga membuat Arita tertawa singkat. Setelah mengusap wajahnya, wanita itu mulai terbangun dari posisi tidurnya.
"Yaudah, ayo ibu antar," ajaknya dengan menuntun sang buah hati menuruni ranjang. Setelah mengikat rambut sebahunya, wanita itu lantas mengikuti langkah kecil putranya. Melihat jam yang menunjukkan pukul 4 pagi, membuat Arita menguap sejenak.
"Berani, kan?" tanya si wanita yang membuat Baron menggelengkan kepalanya. Hal tersebut mengundang kerutan didahi sang ibu, yang merasa heran pada putranya. "Kok tumben, biasanya kan berani."
Namun tak ayal, wanita itu tetap berdiri menunggu Baron di depan pintu kamar mandi. Setelah putranya selesai, keduanya kembali ke arah kamar usai mematikan lampunya.
"Bukannya semalam Baron minta pangku Om Gibran ya, Bu? Kok tiba-tiba udah pindah ke kasur?" ucap si kecil yang kembali mengulangi pertanyaannya tadi. Setelah menaiki kasur, Baron memerhatikan sang ibu yang masih berdiri di dekat nakas.
"Sebelum Om Gibran pulang, Baron dipindah dulu ke kamar. Habisnya kamu udah pules, nggak bisa dibangunin sih ..." goda sang ibu yang membuat Baron cekikikan.
Arita menyaksikan tangan mungil itu kembali memasang selimut di tubuhnya sendiri, kemudian Baron berniat untuk kembali tidur. Namun, ketika Arita mengecek ponsel miliknya ia terkejut ketika mendapati pesan dadi Gibran yang masuk sejak pukul 11 malam.
"Istirahat yang cukup, Ar. Masalah Banu, tidak usah terlalu dipikirkan. Ada aku dan Kak Edward yang akan mengurusnya," monolog Arita saat membacakan sebuah pesan yang dikirimkan oleh pria itu.
Entah mengapa, ia merasakan sebuah ketenangan setelah membaca pesan tersebut. Pada awalnya ia merasa ragu, namun setelah menyaksikan kebaikan Gibran dan Mona, membuat Arita tersadar bahwasannya sosok berhati mulia benarlah ada di dunia ini.
__ADS_1
"Ibu nggak tidur?" tanya si kecil dengan membuka kembali kedua matanya yang sudah terpejam.
"Tidur kok, sebentar ibu balas chat dari Om Gibran dulu," sahutnya dengan menggerakkan jemarinya di atas layar. Setelah mengirimkan jawabannya, Arita meletakkan kembali benda tersebut di atas nakas. Kakinya mulai beranjak naik, dengan melepaskan ikatan rambutnya.
Namun, belum sempat wanita itu merebahkan tubuhnya, ponsel miliknya seketika berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Begitu melihat kontak nama Gibran, membuat Arita mengerutkan keningnya bingung. Setelah mengambil ponselnya, wanita itu lantas menggeser tombol berwarna hijau.
"Ada apa, Gib?" tanya Arita yang membuat Baron menoleh.
"Apakah kau belum tidur?" bukannya menjawab pertanyaan darinya, seseorang diseberang sana justru mengajukan pertanyaan yang sangat to the point.
"Ah tidak, aku terbangun karena Baron ingin buang air kecil," jawab Arita seadanya sehingga membuat Gibran pun menganggukkan kepalanya di sana. Mendengar suara anak kecil, sontak membuat Gibran merasa antusias.
"Apakah dia belum tidur?" tanya Gibran lagi, yang membuat Arita menyahut sembari menatap ke arah putranya yang berbaring santai dengan mata segarnya. "Berikan padanya, aku akan berbicara sebentar."
"Hei boy, apakah kau tidak mengantuk?" terdengar jelas suara Gibran di telinga Arita, karena putranya itu menekan tombol loudspeaker. Dengan menjejeri sang putra, wanita itu merebahkan tubuhnya di sebelah Baron setelah memasang selimutnya.
"Tadi mengantuk, tapi sekarang sudah tidak hehe ..." sahut si kecil dengan cengiran khasnya. Sontak, penuturan anak laki-laki itu mengundang tawa dari Gibran.
"Ibu kalau ngantuk tidur saja, nanti biar Baron yang matikan teleponnya," ucap si kecil dengan begitu dewasanya, sehingga membuat Arita terkekeh kecil. Begitu juga dengan pria di seberang sana, yang turut gemas oleh penuturan anak itu.
"Oke, ibu tinggal tidur ya?" putus Arita lantaran merasa sangat lelah. Lagipula, ia tahu betul bagaimana Gibran kepada putranya. Sehingga, wanita itu mengiyakan ucapan Baron.
"Hei, besok kau harus sekolah. Bagaimana jika mengantuk, hm?" tanya Gibran setelah menyesap kopinya.
__ADS_1
"Tidak akan mengantuk, Om Gibran tenang saja. Mungkin habis ini Baron langsung tidur lagi," sahut si kecil yang membuat pria itu menahan rasa gemasnya pada anak yang berhasil menarik perhatiannya.
"Bagaimana dengan ibumu, apakah dia sudah tidur?" tanya Gibran dengan iseng lantaran ia sudah tidak mendengar suara si wanita. Begitu mendengar jawaban Baron, membuat Gibran ingin memastikan bahwa keduanya dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Hai om," sapa si kecil dengan girang tatkala sebuah panggilan video masuk dari Gibran.
Kedua mata bulat itu menatap ke arah layar dengan senang, ketika melihat wajah tampan Gibran terpampang jelas. Begitupun dengan si pria, yang tertawa geli melihat wajah ngantuk si kecil yang tersorot oleh cahaya dari layar ponsel.
"Sekarang tidur, ya? Ponselnya tidak usah dimatikan," ucap si pria yang tidak ingin jika anak laki-laki itu terlambat bangun di esok hari. Mengingat, jika Baron harus berangkat ke sekolah.
"Om Gibran mau lihat tidurnya ibu, nggak? Cantik banget tau," tawar si kecil dengan terkikik geli, sehingga membuat Gibran tertawa singkat. Mendapati anggukkan kepala dari seseorang itu, membuat Gibran mengarahkan kameranya pada Arita.
Untuk sejenak, Gibran terpaku pada layar ponselnya yang menampakkan bagaimana tenangnya wajah Arita saat tertidur. Dengan posisi miring menghadap ke arah Baron, membuat Gibran bisa melihat jelas wajah cantik wanita itu.
"Sudah, sekarang Baron tidur. Ibu sudah tidur, kan?" ucapnya lagi yang membuat si kecil menganggukkan kepalanya patuh.
"Ay-ay captain," ucapnya dengan lucu.
Sesuai perintah dari Om Gibrannya, anak laki-laki itu mulai memposisikan tubuhnya di dekat sang ibu. Dengan posisi telepon yang masih tersambung, Gibran dapat melihat gerak-gerik Baron yang berusaha mencari posisi nyamannya.
"Belum bisa tidur, hm? Coba peluk ibu," saran Gibran yang berusaha memberikan arahan pada si kecil.
Benar saja, ketika ponselnya berada di tengah tubuh Arita dan Baron, ia bisa melihat bahwa tidak ada lagi pergerakan dari si kecil. Melihat hal itu, membuat Gibran tersenyum lega. Tak ada ruginya ia langsung menelepon Arita begitu mendapatkan balasan pesan dari si wanita.
__ADS_1
"Aku akan berusaha sebaik mungkin hingga aku juga berada disana,"