Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 23


__ADS_3

"Kau tidak usah berlebihan, Kak. Mobilku tak sengaja melintasi jalanan berlubang," bela si pria dengan mengeluarkan sebatang rokok dan membakar ujungnya.


Mona yang mendengar hal itupun, lantas menghembuskan napas lega. Tubuh yang semula nampak kaku itu, kembali rileks dengan senyum kecil yang terbit dibibirnya. Netranya menatap santai ke arah Gibran, yang merokok dengan tubuh yang membelakanginya dan Arita.


Melihat wajah bingung dari wanita di hadapannya, membuat Mona terkekeh ringan.


"Sepertinya aku belum memberi tahu, jika pria menyebalkan ini adalah adikku satu-satunya. Kami tinggal berjauhan, karena dia masih tinggal dengan orang tua kami. Sedangkan aku, memilih tinggal disini karena pekerjaan."


Arita yang mendapatkan informasi itupun, lantas menganggukkan kepala. Awalnya ia mengira jika Mona adalah sosok wanita yang sangat serius, tergambar jelas di wajahnya yang selalu terlihat judes.


Namun siapa sangka, bahkan wanita itu nampak asyik dengan bicaranya yang terdengar ringan. Dan uniknya, wanita itu menceritakan sosok adiknya tanpa ia minta. Hal tersebut yang justru membuat dirinya merasa canggung.

__ADS_1


"Namanya, Gibran Daniswara. Pengusaha yang jauh lebih sukses daripada kakaknya," bisik Mona dengan menutup kecil bibirnya ke arah Arita. Sedangkan ucapan itu, jelas terdengar di telinga Gibran meski posisinya membelakangi mereka berdua.


"Perhatikan ucapanmu, Kak. Ucapan adalah doa," sindir si pria dengan memasukkan tangan ke saku celananya.


Lagi dan lagi, Mona terkekeh ringan mendengar ucapan singkat adiknya itu. Begitu juga dengan Arita, yang merasa sedikit terhibur dengan percakapan kakak beradik tersebut.


"Abaikan bocah nakal itu, kita kembali ke topik awal." Arita semakin menahan tawanya supaya tak meledak saat itu juga, begitu mendengar ucapan wanita tersebut. Lain halnya dengan Gibran, yang sudah terbiasa dengan ucapan menyebalkan dari sang kakak.


Dengan lugas, Arita menggelengkan kepalanya. Beberapa ketentuan dan peraturan di kantor ini, sudah dikirimkan oleh Mbak Retno melalui email. Setidaknya, ia bisa memahaminya sendiri.


"Selamat datang di kantor ini, semoga betah dengan kami semua." Sembari mengulas senyumnya, wanita dengan rambut sebahu itu mengulurkan tangannya tepat di hadapan Arita. Dengan senang hati, ia membalas uluran tangan sang atasan disertai senyum lembut.

__ADS_1


"Terima kasih atas kerja samanya," Mona lantas menganggukkan kepala saat mendengar ucapan Arita.


Menatap wajah teduh itu, entah mengapa membuat hati Mona merasa damai. Bahkan suaranya yang terdengar sangat lembut, membuatnya merasa senang ketika Arita mengucapkan sesuatu.


"Kalau begitu, saya boleh izin pamit, Bu? Ada kewajiban yang harus saya lakukan," pinta si wanita dengan sedikit tak enak hati. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah waktunya Baron pulang sekolah, dan itulah yang membuat Arita harus segera pamit.


"Oh tentu saja, terima kasih banyak atas konfirmasinya. Senang bertemu denganmu, Arita ..." Keduanya kembali berjabat tangan, dan saling melemparkan senyum hangat.


Mona lantas mulai beranjak, berniat untuk mengantarkan Arita ke adah depan. Mengikuti sang atasan yang berdiri dari duduknya, Arita berniat untuk langsung melangkah keluar ruangan. Namun, sebuah deep voice menghentikan langkah kaki keduanya.


"Biarkan aku yang mengantarmu kembali, Nona. Anggap saja sebagai permintaan maaf,"

__ADS_1


__ADS_2