
"Apakah Kak Mona sedang hamil?" tanya Arita kepada kedua pria itu. Lebih tepatnya, pada Edward yang nampak kebingungan dengan pertanyaannya.
Langsung saja, pria itu menggelengkan kepalanya menyangkal hal tersebut. Pikirannya tertuju, mungkin saja istrinya itu hendak mendapatkan datang bulan, sehingga memiliki emosi yang gampang berubah-ubah.
"Dia sangat sensitif, sama sepertiku saat mengandung Baron dulu," paparnya dengan berspekulasi ke arah sana.
Sontak, kedua pria itu saling berpandangan. Jika Riko mulai melebarkan matanya seolah berharap besar, lain halnya dengan Edward yang kini menundukkan kepala berusaha untuk menepis hal itu.
"Sepertinya ini mendekati jadwal haid nya, mungkin karena hal itulah mood nya sangat mudah berubah-ubah," ucapnya yang tidak ingin terlalu berharap.
Pasalnya, sudah berulang kali baik dirinya maupun sang istri kerap salah tebak. Karena tidak ingin mengalami hal itu lagi, membuat pria itu berusaha untuk tidak menaruh harapan apapun. Meski jika pada akhirnya nanti, istrinya benar-benar tengah mengandung, maka Edward lah orang pertama yang akan menangis bahagia.
"Tidak ada salahnya kita memastikan lebih dulu," saran Arita sembari menyuapkan buburnya kedalam mulut.
Besar harapannya, semoga Mona dikaruniai keturunan lagi setelah 3 tahun belakangan mengalami keguguran. Namun entah mengapa, feeling nya berkata kuat jika ada janin yang berkembang di perut wanita itu.
"Kami tidak ingin terlalu berharap," sanggah Edward yang membuat Riko langsung menatapnya.
"Apakah Tuhan memintamu untuk pesimis seperti itu, Kak?" sindir si pria sehingga membuat Edward terdiam. Dengan menepuk pundak pria itu, Riko berharap kakak iparnya dapat menerima saran dari Arita.
"Kak Mona memiliki emosi yang stabil. Namun entah kenapa, tiba-tiba dia berubah menjadi lebih sensitif. Sangat berbeda dari sebelumnya, bukan?" tanya Arita sehingga membuat pria itu mulai menyadari perbedaan istrinya.
"Tidak perlu munafik, Kak. Aku mengerti betul, jika kau pasti merasa bahagia mendengar kemungkinan ini. Kau tidak perlu menutupinya dengan ucapanmu itu," ucap Riko yang bisa merasakan bahwa ada setitik kebahagiaan bagi Edward.
Telah terjadi saat akhirnya pria berusia 35 tahun itu berusaha meyakini ucapan Arita dan juga Riko. Setlah berpikir, akhirnya dia itu memutuskan akan membujuk istrinya, agar mengecek menggunakan testpack jika keesokan harinya.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semoga saja, Kak Mona benar-benar sedang mengandung," ucap Arita sekali lagi sehingga membuat kedua pria di depannya itu menganggukkan kepala penuh harapan.
"Aku akan menyusul Mona sekarang," ucap Edward memutuskan untuk berdiri dari posisi duduknya dan berjalan keluar untuk menyusul istrinya. Sementara Riko dan Arita yang menyaksikannya pun, mengulas senyum tipis.
"Mereka adalah orang yang baik. Dan aku harap, kebahagiaan segera menjemput mereka," ucap Arita dengan suara lirihnya yang mampu di dengar oleh Riko.
Mendengar secara langsung ucapan dari wanita itu, sontak membuat Riko merasa tersentuh. Ternyata memang benar, sepupunya itu tidak salah memilih calon istri sebaik Arita, sehingga membuatnya turut merasa senang.
__ADS_1
Pada awalnya, ia merasa tak percaya ketika om dan tantenya menceritakan tentang kebaikan Arita. Namun, setelah ia menyaksikan langsung bagaimana luar biasanya sifat wanita itu, membuat Riko benar-benar merasa kagum dibuatnya.
"Kau sangat beruntung, Gib ..." batin pria itu seraya menatap wajah natural si wanita yang masih berada di atas brankar rumah sakit.
"Apakah kau tidak sarapan?" tanya Arita sembari menatap ke arah Riko yang nampak melamun ke arahnya.
Ketika mendapati pertanyaan dari Arita, lantas membuat Riko mengedipkan mata beberapa kali. Pria itu sedikit merasa malu, karena kedapatan tengah menatap Arita dengan lekat.
"Aku sudah sarapan bersama Kak Edward dan Mona," sahut si pria sehingga membuat Arita menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Arita segera menyelesaikan sarapannya tak ingin terlalu lama.
"Kau mengigau," ucap Riko dengan singkat.
"Aku? Mengigau?" tanya si wanita mengulangi penuturan dari pria tersebut. Begitu mendapati anggukkan kepala dari Riko, membuat Arita menggetukkan sendok yang ia pegang ke atas box bubur tersebut.
"Sejak semalam kau menyebut nama Bayu," tuturnya secara jujur tanpa menutupi apapun dari Arita. "Apakah dia adalah mendiang suamimu?" tanya Riko setelah memberanikan dirinya.
Dapat ia saksikan, Arita bergeming untuk beberapa saat. Wanita itu nampak mengambil napas dalam-dalam, dengan kepala yang tertunduk. Sungguh, Riko sedikit menyesal karena menanyakan hal itu.
"Benarkah? Kau sangat merindukannya?" tanya pria itu lagi, sehingga membuat Arita menganggukkan kepala tanpa berpikir lama. Karema sebenarnya pun, Arita sangat-sangat merindukan sosok suaminya itu.
"Luar biasa," ucap Riko yang merasa takjub.
Wanita itu terkekeh ringan, kemudian meletakkan box berwarna putih yang telah kosong itu ke atas nakas. Kemudian, Arita mengambil gelas air mineralnya. Setelah menekuk hingga setengah gelas, wanita itu lantas meletakkannya kembali di tempat semula.
"Ngomong-ngomong, kapan Baron bisa pulang ke rumah?" tanya si wanita lantaran merasa jika dirinya dan sang putra sudah membaik setelah kejadian kemarin.
"Aku belum menanyakannya pada pihak rumah sakit. Semoga saja, secepatnya kalian bisa keluar dari sini," ucap Riko yang diangguki oleh Arita sebagai respon.
Tanpa bantuan dari pria itu, akhirnya Arita pun menuruni brankar dan berniat untuk ke toilet. Sementara pria itu, ini mengangkat panggilan dari sepupunya yang terhitung sudah menghubunginya sebanyak 5 kali sejak pagi tadi.
"Ada apa, Gib? Aku tahu, kau sangat merindukan calon istrimu itu. Tapi setidaknya aku mohon, jangan terlalu berisik mengganggu ponselku," ucap si pria sehingga membuat sepupunya tertawa puas di seberang sana.
Mendapati hal itu pun, membuat Riko berdecak sinis. Andai saja pria itu bukan kerabatnya, mungkin Riko sudah memblokir nomor milik Gibran dari ponselnya. Namun, ia masih berbaik hati dengan membantu sepupunya untuk berkomunikasi dengan Arita.
__ADS_1
"Kira-kira, kapan mereka keluar dari rumah sakit? Feelingku mereka sudah dirumah ketika aku pulang nanti," tanya Gibran berusaha untuk memastikan.
"Pertanyaanmu sangat persis dengan pertanyaan Arita. Sungguh, kalian sangat-sangat unik," sahut Riko yang membuat Gibran mengerutkan keningnya bertanya-tanya.
"Apakah Arita sudah bangun?" tanya pria itu dengan sedikit menuntut. Pasalnya, beberapa saat lalu ketika dirinya menghubungi sang sepupu, wanita itu masih terlelap dalam tidurnya. Ketika menatap jam, kini sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
"Sudah, dia baru selesai sarapan. Dan dia menanyakan hal yang sama denganmu," sahut Riko sembari berjalan mendekati jendela yang ada di ruangan itu.
"Bagaimana dengan Baron? Apakah pemerikasaannya sudah selesai?" tanya pria itu lagi.
"Belum, ada Kak Edward dan Mona yang menemaninya," papar Riko sehingga membuat Gibran merasa lega. Setelah ini, pria itu akan segera ke bandara untuk pulang ke Indonesia dan menemui calon anak dan istrinya.
"Pulang hari ini kan, Gib?" tanya Riko.
"Iya, jam sembilan nanti udah take off," jawab sepupunya sehingga membuat Riko menganggukkan kepala meski tak terlihat oleh Gibran. Setidaknya, Baron akan merasa senang dengan kepulangan pria itu.
"Mau bicara sama Arita?" tawar sepupunya sehingga membuat Gibran langsung mengiyakan. Tumben sekali, pria itu berbaik hati padanya dengan berinisiatif untuk menawarkannya hal seperti ini.
"Ada apa, Rik?" tanya Arita begitu keluar dari toilet.
Saat mendengar pria itu menyebut namanya, membuat Arita berjalan mendekati posisi Riko berdiri. Melihat pria itu menyerahkan ponselnya, Arita menerima benda pipih tersebut.
"Halo?" ucap Arita sebelum melihat layar ponsel.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Gibran dengan nada yang sedikit terdengar gembira di telinga Riko. Sontak, pria itu mencibir perubahan sikap sepupunya yang sangat ketara.
"Aku sudah baik-baik saja, Gib. Tenanglah," sahut wanita itu sehingga membuat Gibran merasa benar-benar lega. "Jaga dirimu baik-baik, oke?" pesan Arita kembali mengingatkan calon suaminya itu.
"Aku udah perjalanan mau ke bandara, sebentar lagi take off," ucap si pria memberitahukannya kepada Arita.
"Bagus kalau gitu, safe flight ya ..." tutur Arita yang tak lama setelah berbincang mengakhiri percakapan keduanya. Karena Gibran harus mengurus perjalanannya, sehingga membuat wanita itu menutup teleponnya.
"Siapa yang mengatakan jika aku hamil?"
__ADS_1