Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 7


__ADS_3

"Cukup! Hanya karena kau saudara kembar suamiku, bukan berarti kau bisa masuk ke hidup kami dengan seenaknya!" sentak Arita dengan amarah yang memuncak.


Kedua tangannya masih terkepal kuat disisi tubuh, dengan tatapan tajam.


Sedangkan pria di hadapannya itu, masih berdiri tanpa pergerakan sedikitpun. Kedua mata yang mengingatkan Arita pada sang suami pun, terus menatap lekat netranya. Sembari berdecih sinis, ia mulai mengalihkan pandangan tak ingin bersitatap dengan pria tersebut.


"Silakan Anda pergi dari sini, sebelum saya teriak!" Tanpa mempedulikan perasaan pria itu, Arita berujar dengan sarkas.


Banu. Pria yang berstatus sebagai saudara iparnya itu, masih saja bergeming dengan tatapan santai. Melihat amarah wanita tersebut, membuatnya mengulas senyum licik. Menggunakan jari telunjuknya, ia mengusap dagunya sendiri dengan tatapan penuh nafsu.


Saat tatapan pria itu menelisik tubuhnya dari atas hingga bawah, membuat Arita mencengkram erat sisi dress yang dikenakannya.


Tanpa menunggu lama, wanita itu segera berbalik badan, berniat untuk masuk ke dalam rumahnya. Namun siapa sangka, tangannya lebih dulu dicekal oleh pria tak bermoral itu.

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat sempurna dipipi Banu, setelah Arita menghempaskan tangan itu dengan kasar. Saking kerasnya tamparan yang ia dapatkan, darah sedikit keluar dari sisi bibirnya.


Tawa remeh langsung keluar dari bibir si pria.


"Hm, menarik juga. Pantas saja, kembaranku itu tergila-gila oleh pesonamu." Lagi dan lagi, darah wanita itu kembali mendidih oleh ucapan menjijikan dari pria di hadapannya kini.


"Hentikan omong kosong yang keluar dari bibir kotormu itu! Dimana sopan santun Anda?!"


Lantaran suara Arita yang bernada tinggi, membuat beberapa tetangga melihat ke arah mereka berdua. Wanita itu berharap, drama yang diciptakan oleh pria ini akan segera usai. Ia benar-benar lelah, menghadapi sikap Banu yang semakin menjadi.


"Pergi! Jangan pernah muncul dihadapanku lagi!" Kini, Arita tak main-main. Wanita itu meminta bantuan dari beberapa tetangga laki-lakinya, untuk mengusir pria kurang ajar tersebut.


Benar saja, beberapa orang menyeret tubuh Banu menjauh dari pintu rumah Arita. Karena sudah dipermalukan hingga didorong mendekat ke mobilnya, Banu terpaksa meninggalkan rumah sang ipar.

__ADS_1


"Kita lihat saja," ucap si pria sebelum menjalankan mobil hitamnya menjauhi pekarangan rumah tersebut.


Tak terasa, sebuah cairan bening menetes begitu saja dari pelupuk mata sang wanita. Hatinya benar-benar hancur, mendapatkan perilaku tak lazim dari pria yang tak lain adalah kembaran sang suami.


Saat tatapan mata dari semua tetangga mengarah padanya, dengan cepat ia menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya. Setelah mengucapkan terima kasih untuk bantuan mereka, Arita mulai berbalik badan memasuki rumah.


"Ya Tuhan ..."


Begitu daun pintu tertutup sempurna, tubuh wanita itu langsung luruh diatas dinginnya lantai. Air mata yang sejak tadi tertahan, kini merembes keluar dengan begitu deras. Perasaannya bercampur aduk, membuat wanita itu memukul dadanya yang terasa sesak.


Hari yang ia lalui tanpa kehadiran sang suami, benar-benar terasa berat. Kini, karena hadirnya pria tak bermoral itu, membuat Arita merasakan cobaan yang begitu besar.


"Ibu kenapa nangis?"

__ADS_1


Mendengar suara lirih itu, membuatnya mendongakkan pandangan. Tepat dibalik tembok pembatas ruangan, ia melihat Baron yang menatapnya polos. Ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil itu, namun keadaan hatinya tengah kacau.


"Ibu sudah bilang berapa kali? Kalau orang itu datang, jangan dekati dia! Tapi kenapa Baron nggak dengerin ucapan Ibu, Nak?"


__ADS_2