
"Apakah kau sudah lama berkecimpung di dunia notaris?" tanya Mona sembari menolehkan kepalanya ke arah kiri, dimana staff barunya itu mendudukkan tubuh.
"Saya sudah bekerja di kantor notaris, sejak usia sembilan belas tahun sampai sekarang," jelasnya yang membuat Mona terperangah. Benar saja, ibu satu orang anak itu telah bekerja di kantor notaris selama 7 tahun lamanya.
"Lalu? Apakah langsung menjadi staff tetap?" tanyanya lagi.
"Sembari bekerja disana, saya melanjutkan kuliah paralel jurusan hukum hingga S1. Setelah lulus, saya baru menjadi staff tetap di kantor notaris milik ibunya Mbak Retno," paparnya lagi sehingga membuat Mona menganggukkan kepalanya paham.
"Oh iya, aku sangat mengenal Bu Ida yang kebetulan notaris besar di ibu kota. Beliau sangat sukses, dan aku menjadikannya role model dalam berkarir." Mengetahui hal itu, Arita menatap tak percaya ke arah wanita berparas cantik itu.
"Benarkah itu, Bu? Pantas saja, sekarang Bu Mona bisa sesukses ini," kagumnya pada sang atasan yang saat ini nampak fokus dengan jalanan yang ada di depannya. Sesuai ucapan Mona pagi tadi, ia mengikuti janji temu dengan klien di luar kantor.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, Ar. Aku masih harus banyak belajar, terutama pada dirimu yang lebih berpengalaman," sahutnya sehingga membuat Arita menggelengkan kepala sungkan. "Makanya tadi aku malah ajak kamu," lanjutnya dengan terkekeh kecil.
"Kliennya tidak bersedia datang ke kantor, Bu?" Mona menggelengkan kepalanya sehingga membuat Arita paham.
Tak terasa, waktu 20 menit sudah mereka tempuh. Mobil pribadi milik Mona pun, mulai mendekat ke arah cafe yang berada di tengah kota tersebut. Sesuai informasi yang disampaikan oleh atasannya itu, klien mereka sudah menunggu di dalam.
"Berkas-berkasnya sudah disiapkan?" tanya wanita 30 tahun itu untuk memastikannya pada Arita. Setelah mengecek beberapa berkas yang ada padanya, ibu dari Baron itu menganggukkan kepalanya mantap.
"Selamat pagi, Pak. Maaf kami membuatmu menunggu terlalu lama," sapa Mona ketika mereka berdua tiba di sebuah meja yang sudah di reservasi oleh sang klien. Sambutan hangat mereka dapatkan dari pria paruh baya tersebut.
"Sepertinya Bu Mona menambah staff lagi, ya?" ucap kliennya yang Arita tahu hanya sekedar basa-basi saja. Namun, Mona menganggukki hal tersebut, sehingga membuat ketiganya terkekeh ringan.
__ADS_1
"Kebetulan tiga staff saya sudah punya tugas masing-masing, dan kebetulan progres pembuatan sertifikat tanahnya lumayan lama, Pak. Maka dari itu saya mengangkat satu staff lagi, untuk mengerjakan kerja sama kita kali ini," paparnya sehingga membuat sang klien tersenyum kagum.
"Perkenalkan, dia adalah Arita. Meskipun Arita masih baru dikantor saya, pengalamannya justru jauh lebih banyak di dunia Notaris dan PPAT. Semoga bapak bisa cocok dengan cara kerjanya," Arita berjabat tangan dengan pria yang nampak berwibawa di usia senjanya.
Setelah perbincangan sejenak, akhirnya Mona mulai menjalankan tugasnya beserta dengan Arita. Benar saja dugaan Mona, ternyata staff barunya itu sangatlah bisa diandalkan.
"Baik, untuk perhitungan pajaknya akan saja cek di kantor. Sesegera mungkin akan saya kirimkan kepada bapak," tandasnya kembali mengulang penjelasan panjangnya pada sang klien.
"Baik, saya rasa untuk proses kali ini akan jauh lebih cepat. Bukan begitu, Bu Mona?" yakinnya dengan mengacungkan jempol kearah ibu satu orang anak itu. Tentu saja, Arita merasa lega karena ini adalah pekerjaan pertamanya di kantor baru.
Lama berbincang, membuat Arita menyadari bahwasannya ia perlu singgah ke toilet. Setelah mendapatkan izin dari keduanya, wanita itu segera berjalan ke arah pojok ruangan. Namun, betapa terkejutnya Arita saat melihat keberadaan Danu di cafe ini.
__ADS_1
"Astaga, bukankah itu Mas Banu? Apa yang dia lakukan di kota ini?" gumamnya dengan hati yang merasa sangat cemas. Namun entah mengapa, feeling-nya mengatakan ada pertanda buruk.