
"Ibu, kok sepatu Baron hilang satu?" panik si kecil dengan mendatangi sang ibu. Kedua alis wanita itu sontak mengkerut, lantaran mendapat keluhan dari putranya.
"Dicari dulu, Sayang ..." ucap Arita dengan begitu sabarnya. Namun, ia kembali mendapati gelengan kepala dari Baron, sehingga membuat si wanita meletakkan dua cangkir miliknya dan Baron di atas meja makan.
"Beneran nggak ada, Bu. Baron udah cari-cari sampai ke depan malahan," sahut anak laki-laki itu sembari mengikuti langkah kaki sang ibu menuju ruang tengah. Mendengar alasan sang buah hati pun, membuat Arita menahan rasa gemasnya.
"Ini apa?" tunjuk si wanita ke arah rak sepatu yang berada di urutan paling atas. Benar saja, putra kecilnya itu lantas menyengir lebar tatkala sang ibu berhasil menemukan sepatu miliknya.
"Buruan dipakai, yuk? Udah setengah tujuh," ujarnya yang dianggukki oleh si kecil dengan patuh. Setelah mengambilkan sepatu putih polos itu, Arita kembali ke dapur untuk menyelesaikan sarapan putranya.
"Kalau udah selesai, langsung kesini sayang!" teriak sang ibu dari arah dapur, sehingga membuat tangan mungil Baron mulai menyelesaikan kegiatannya mengenakan sepatu.
Tak tunggu lama, sebelum ibunya mulai mengoceh, Baron segera menyantap sarapan yang telah disiapkan oleh sang ibu. Ditengah kegiatan makan mereka berdua, Arita kembali teringat oleh sesuatu.
"Semalam ngobrol sama Om Gibran sampai jam berapa?" tanya si wanita dengan menatap wajah tampan sang putra.
Mendengar hal itupun, membuat pergerakan Baron yang hendak menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya, terhenti sejenak. Ditatapnya wajah sang ibu, kemudian anak itu menggedikkan bahunya.
"Nggak tau video call-nya mati jam berapa," jawabnya yang membuat Arita sempat tersedak oleh makanan yang sedang ia kunyah. Dengan cepat, wanita itu segera mengambil gelas kemudian meminum airnya hingga tandas.
"Kata Om Gibran sih, nggak usah dimatiin teleponnya," lanjut si kecil yang membuat Arita masih terkejut. Kemudian, ia pun hanya menganggukkan kepalanya singkat.
__ADS_1
"Tapi tadi pagi pas ibu bangun, teleponnya udah mati. Mungkin Om Gibran yang matikan," ucapnya yang diberikan respon anggukkan oleh sang putra. Memang benar adanya, ketika dirinya bangun tadi pagi, tidak ada lagi panggilan yang tersambung.
"Udah ah, Bu. Pasti udah ditungguin sama Bude," ingat si kecil dengan kebiasaan tetangganya itu.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang 20 menit, membuat wanita itu mulai beranjak dan segera mengambilkan tas milik Baron. Setelah memberikannya pada sang putra, wanita itu lantas berjalan keluar dengan menggandeng tangan si kecil.
Benar saja, dari teras rumahnya dapat mereka lihat jika tetangganya itu sudah menunggu Baron di halaman rumahnya sendiri. Tanpa membuang waktu lebih lama, keduanya segera berjalan di tengah kabut-kabut tipis yang masih menyelimuti daerah rumahnya.
"Mbak Arum, maaf jadi nunggu lama," ucap si wanita dengan tak enak hati, yang direspon kekehan ringan oleh wanita dengan tubuh berisi itu. Terlihat begitu santai, wanita yang kerap dipanggil 'bude' oleh Baron itupun menepuk singkat bahu Arita.
"Halah nggak usah berlebihan, Ta. Baron udah tak anggap anak sendiri," tenang si wanita yang membuat Arita tersenyum tulus. Setelah putranya menaiki scoopy cokelat milik tetangganya itu, Arita lantas mencium kedua pipi sang putra.
"Jangan bandel di sekolah, kalau ada apa-apa bilang sama Mas Devan. Oke boy?" ucap Arita berusaha memastikan seperti hari-hari biasanya.
"Berasa kembar mereka ini, Ta. Heran banget sekarang apa-apa harus sama," akunya yang disetujui oleh Arita. Keduanya tertawa geli, kemudian Arita melambaikan tangannya begitu sang tetangga mulai meninggalkan halaman rumah.
"Beruntung banget ketemu orang sebaik dia," gumam Arita sembari meninggalkan pelataran rumah tetangganya.
Meningat jika dirinya harus berangkat kerja, membuat wanita itu memutuskan untuk segera bersiap-siap. Ada beberapa pekerjaan yang sudah menantinya di kantor, sehingga membuat Arita tidak ingin terlambat mengerjakannya.
Tepat pukul setengah delapan, wanita itu telah keluar dari rumahnya. Setelah menitipkan kunci rumahnya kepada Arum, Arita pun bergegas menuju kantor tempatnya bekerja. Paling tidak, ia enggan untuk berangkat terlambat.
__ADS_1
"Wah, kita barengan sampainya," ucap rekan kerjanya ketika Arita mulai memasuki halaman luas kantor notaris tersebut. Sontak, keduanya saling berpandangan dan tertawa lepas.
"Daripada telat, kan?" sahut Arita yang dianggukki oleh staff notaris yang merupakan satu-satunya pegawai paling muda, di antara yang lainnya. Mereka mengisi absen kehadiran, kemudian berjalan ke arah meja kerja masing-masing.
"Kemarin banyak kerjaan?" tanya Arita mengingat bahwa kemarin dirinya harus mendampingi Mona untuk bertemu klien. Dengan melangkahkan kaki mendekati meja kerja rekannya, Arita berhenti tepat di sebelah gadis tersebut.
"Lumayan banyak, Mbak. Apalagi kemarin ada klien langganan Bu Mona mau ngurus tanah lagi," jawab si gadis dengan menunjuk sebuah berkas yang menumpuk di mejanya.
"Benarkah?" tanyanya sekali lagi, sekedar memastikan. Melihat anggukkan kepala dari si gadis, membuat Arita membuka berkas tersebut lantaran hanya ingin mengecek kategori proses yang harus diurus oleh rekan kerjanya itu.
"Nanti setelah beliau berikan SPPT nya, kamu langsung cek besaran pajaknya. Setelah itu, baru konfirmasikan ke beliau," saran si wanita yang membuat gadis tersebut mengangguk patuh. Meski Arita adalah staff baru, namun pengetahuannya jauh lebih baik, dan hal itulah yang membuat staff lainnya merasa kagum.
"Kemarin gimana meetingnya, Mbak? Lancar-lancar aja, kan?" feedback si gadis ketika mendapati kepedulian dari Arita pada orang-orang kantor meski dirinya kemarin tidak berada di kantor. "Soalnya kita tau sendiri ... klien Bu Mona yang itu, susah-susah gampang orangnya."
Dengan sedikit bisik-bisik, gadis itu mengungkapkan hal yang hanya diketahui oleh dirinya dan kedua staff lainnya. Setelah 2 tahun bekerja dibawah pimpinan Mona, membuat gadis itu tahu jika klien yang ditemui oleh Mona dan Arita kemarin memiliki sifat yang unik.
"Syukurlah kemarin berjalan lancar, Tif. Orangnya langsung sat-set juga pas kita diskusi," herannya dengan menatap ke arah Tiffani.
"Wah, berarti Mbak Arita yang hebat. Hal yang mustahil bagi beliau, untuk mempermudah pengurusan tanahnya di notaris Bu Mona. Tapi kali ini, tumben gampang banget," bisiknya lagi.
"Harus banget ngegosip sepagi ini?" nyinyir seseorang.
__ADS_1
"Loh, ngapain kesini Gib?"