Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 28


__ADS_3

"Arita, kau perhatikan prosedurnya dengan teliti. Karena mungkin, next survei kamu yang akan menangani sendiri," ucap Mona yang saat ini berdiri di sebelah Arita. Atasannya itu menatap singkat ke arah staff barunya, begitupun pada sang adik.


"Pengukuran tanah, nggak serumit yang kita bayangkan. Sudah ada tukang ukur yang memang mengerjakan bidang itu," lanjutnya yang membuat Arita menganggukkan kepala.


Gibran masih menatap kedua perempuan yang berdiri membelakanginya, dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria itu nampak santai, dengan mendudukkan tubuhnya di bagian bagasi mobil yang terbuka.


Mengikuti sang atasan, Arita mulai berjalan ke arah lahan kosong yang sedang diukur. Dihari pertamanya kerja, Arita dibimbing langsung oleh Mona untuk mengawasi proses pengukuran tanah.


"Nanti setelah pengukuran selesai, kita akan buat laporannya." Lagi dan lagi, Arita menganggukkan kepala setelah mengingat baik-baik ucapan wanita itu.


Dari kejauhan, Gibran terus memantau pergerakan wanita yang telah menarik perhatiannya. Sejak awal, ingin rasanya pria itu mengenal sosok Arita lebih jauh lagi. Namun, begitu melihat sifat cuek dan dingin si wanita, membuat Gibran masih menyusun strategi.


Keterlibatan Arita di survei kali ini, tentu saja disebabkan oleh permintaan Gibran kepada sang kakak. Beruntungnya, Mona tengah berbaik hati padanya.

__ADS_1


"Sepulang dari sini, kau bisa berdiskusi dengan staff yang lain. Aku yakin, kau tidak akan membutuhkan waktu lama untuk memahaminya." Mona menepuk singkat bahu Arita, dan tersenyum kecil.


Lahan berukuran besar di hadapannya kini, adalah target sang adik untuk investasi berikutnya. Sudah tak heran lagi, adiknya itu kerap kali membeli tanah di daerah tersebut. Mau tak mau, untuk mengurus surat-suratnya, Gibran menggunakan jasa kantor notaris milik sang kakak.


"Oh iya, Gib. Edward sudah sampai bandara, mungkin Kakak langsung kesana. Kamu sekalian bareng Arita ke kantor, nggak apa-apa, kan?" tanya wanita itu dengan menatap ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sontak, pria berwajah tampan itu langsung memekik senang dalam hati. Meski begitu, wajahnya tetap terlihat datar dengan alis yang terangkat sebelah. Namun tak berselang lama, Gibran pun menganggukkan kepalanya singkat.


"Its okey, no problem ..." Setelah mengatakan hal tersebut, Gibran langsung memasuki mobil berwarna putih miliknya.


"Masuklah, biar adikku yang mengantarmu sampai kantor. Maafkan aku, karena ada agenda dadakan."


"Tidak masalah, Bu. Saya akan ikut dengannya saja," sahut Arita secepat mungkin. Sontak, sebuah senyum tercipta dibibir Mona begitu mendengar sahutan si wanita. Begitu juga dengan Gibran, yang kini berusaha menahan kedutan dibibirnya.

__ADS_1


"Sampai jumpa," pamit sang atasan yang membuat Arita membungkukkan sedikit tubuhnya.


Meski merasa canggung, ibu satu anak itu tetap berjalan ke arah mobil Pajero Sport berwarna putih, yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Masih dengan kepala yang tertunduk, tangan wanita itu mulai meraih handle pintu bagian belakang.


"Kau boleh duduk di sebelahku, Nona." Suara dengan nada rendah itu menarik atensi sang wanita. Gibran membuka kaca di sebelahnya, dan menatap Arita dari spion.


Untuk sejenak, Arita terdiam ditempatnya. Meski merasa ragu, wanita itu tetap berjalan ke sisi kiri untuk melaksanakan perintah pria tersebut. "Maaf jika saya lancang, Tuan. Terima kasih banyak, atas tumpangannya."


Setelah menutup kembali pintu mobil tersebut, Arita mulai duduk dengan tubuh yang sedikit kaku. Kedua tangannya mencengkram erat sebuah berkas yang berada di pangkuannya.


"Santai saja," sahut si pria dengan senyumnya. Tentu saja, Arita tak melihat senyum manisnya itu.


Dengan jantung yang semakin berdegup kencang, Arita menelan ludahnya dengan susah payah. Aroma maskulin seketika menyeruak di indera penciumannya, begitu Gibran semakin mendekatkan tubuhnya.

__ADS_1


Arita sontak panik di tempatnya, begitu merasakan tubuh Gibran yang semakin mendekat ke arahnya. Ketika ingin bersuara, sebuah tangan kekar melintang di bagian depan tubuhnya.


"Kau belum mengenakan safety belt, Nona ..."


__ADS_2