
"Nanti sore kami sudah pulang. Kamu jaga diri baik-baik ya, Ar? Mungkin satu bulan lagi kita baru berkunjung," ucap Andre dengan menatap ke arah Arita.
Mendengar hal itu, membuat si wanita langsung menganggukkan kepalanya. Ternyata benar ucapan Gibran, bahwasannya alasan keduanya mengajak Baron untuk menghabiskan waktu bersama, lantaran mereka harus kembali ke ibu kota di esok hari.
"Kalau ada apa-apa, langsung kabari kami," imbuh Patricia dengan mengelus lengan Arita. Lagi dan lagi, Arita menganggukkan kepala, berusaha membuat kedua paruh baya itu merasa lega.
"Iya, Ma. Nanti Arita kabari kalau ada apa-apa," sahut Arita dengan mengingat bahwasannya ia telah memiliki kontak keduanya. Kemudian, Patricia nampak membuka jok mobil dibagian belakang untuk mengambil sesuatu.
"Ini dari mama buat kamu," ucap Patricia dengan menyerahkan sebuah paper bag berwarna hitam pekat berukuran kecil.
Ketika mendapati Arita hendak menolaknya, wanita itu langsung memaksa calon menantunya untuk menerima pemberian darinya dan Andre. Mengingat Arita telah menerima lamaran dari putranya, membuat Patricia memberikannya.
"Seharusnya nggak usah repot-repot begini, Ma. Tapi ya sudah, Arita terima," ucapnya tak enak hati.
"Itu harus dipakai loh, ya ..." pinta si wanita.
Sementara kedua orang tua Gibran, justru terkekeh ringan melihat sikap Arita yang sangat berbeda jauh dengan kebanyakan wanita diluaran sana. Sungguh, kesederhanaan wanita itulah yang berhasil menarik hati keduanya.
"Kami pamit, ya? Jaga diri baik-baik," pamit Andre sehingga membuat Arita mencium punggung tangan pria tersebut. Kemudian, Arita melakukan hal yang sama kepada Patricia, dan memeluknya untuk beberapa waktu.
"Hati-hati, Ma, Pa ..." ucap Arita setelah mereka berdua memasuki mobilnya.
Setelah kendaraan yang ditumpangi oleh Andre dan Patricia menjauh dari halaman rumahnya, wanita itu lantas berbalik menuju pintu utama. Sementara mobil milik Gibran, masih terparkir lantaran si empunya masih tertidur di ruang tengah.
"Masih belum bangun?" gumam si wanita tatkala mendapati Gibran masih terlihat nyenyak diruang tengah.
Karena tidak ingin menganggu pria itu, akhirnya Andre dan Patricia memutuskan untuk pulang kerumah putrinya terlebih dahulu. Karena jam 4 sore nanti keduanya harus flight, sehingga membuat mereka akan bersiap mulai sekarang.
__ADS_1
Begitupun dengan Arita, yang tidak berniat mengganggu waktu istirahat pria itu. Sembari menyelesaikan pekerjaan rumahnya, wanita itu berkutat dengan peralatan rumah tangga.
Di sore harinya, ketika Baron sudah bangun dari tidurnya, anak laki-laki itu mencari keberadaan Andre dan Patricia. Namun, ketika tak mendapati kedua orang itu di rumahnya, membuat si kecil bertanya pada sang ibu.
"Ibu, opa sama oma udah pulang?" tanya si kecil dengan suara seraknya.
"Iya, jam empat nanti udah terbang ke Jakarta," sahutnya sehingga membuat Baron nampak menunduk. Meski dirinya baru saja kenal dengan keduanya, namun kedekatan yang mereka ciptakan berhasil membuat Baron merasa nyaman.
"Sekarang jam berapa, Bu?" tanya si kecil lagi.
"Udah setengah tiga," jawabnya sembari menunjuk ke arah jam yang menempel didinding rumahnya. "Itu Om Gibran masih tiduran di ruang tengah, coba dibangunin sana. Udah sore," lanjut Arita sembari menatap putranya.
Terhitung, sudah 2 setengah jam pria itu merebahkan tubuhnya di ruang tengah. Oleh karena itu, Arita memikirkan setidaknya agar Gibran memiliki waktu untuk berpamitan dengan kedua orang tuanya. Maka, ia meminta Baron untuk membangunkan Gibran.
"Loh, ada Om Gibran?" monolog si kecil sembari berjalan ke arah ruang tengah.
"Om Gibran, ini udah sore. Ayo bangun," bisik Baron.
Namun, tak ada pergerakan dari pria itu sama sekali. Ketika tangan mungil milik Baron menyentuh lengannya, Gibran mulai menggeliat kecil. Setelah mendengar suara milik si kecil, pria itu langsung membuka matanya.
"Sudah bangun?" Bukannya Baron yang melontarkan pertanyaan itu, justru Gibran lah yang mengucapkan hal tersebut.
Setelahnya, Gibran membuka kedua lengannya meminta Baron untuk mendekat. Tubuh mungil Baron langsung tenggelam di kedua lengan kekar milik calon ayahnya itu. Dengan gemas, Gibran menggelitik perut si kecil.
"Udah-udah, stop ..." teriak anak laki-laki itu lantaran merasa geli.
Sontak, Arita mendekat ke arah ruang tengah lantaran mendengar suara putranya. Namun, ia justru menghentikan langkah begitu melihat aksi Gibran dan Baron. Kedua pria berbeda usia itu, masih asik bergelung diatas sofa.
__ADS_1
"Disuruh bangunin malah ikutan tidur," gumam Arita yang menghentikan gerakan mereka berdua. Dengan berbarengan, Baron dan Gibran menatap ke arah Arita yang kini berdiri dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
"Om Gibran nakal, Bu. Baron nggak bisa gerak ini," keluh si kecil dengan nada yang dilebih-lebihkan.
Sontak, Gibran tidak menyangka akan hal itu. Lantaran merasa gemas, pria itu menghujami wajah si kecil dengan kecupan hangatnya. Setelah itu, Gibran mulai mendudukkan tubuhnya dengan Baron yang berada di pangkuannya.
"Cuci muka dulu gih," titah Arita yang dianggukki oleh si pria.
Bersamaan dengan itu, Baron mengekori dibelakangnya untuk mencuci muka. Lantaran sama-sama baru bangun dari tidurnya, mereka berdua memasuki kamar mandi untuk mencuci mukanya terlebih dahulu.
"Mama sama papa pulang jam berapa tadi?" tanya Gibran setelah menyadari bahwa dirinya merasa sangat mengantuk. Kemudian, ketika dibangunkan oleh Arita, ia hanya berpindah dari ruang tamu dan merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah.
"Jam satu lebih kalau nggak salah," ungkapnya.
"Jam empat mereka flight, kan? Kamu nggak pamitan dulu?" tanya Arita sembari menyerahkan kedua gelas untuk Baron dan Gibran. Lagi dan lagi, keduanya meminumnya hingga habis secara berlomba.
"Baron yang menang," sela si kecil mengundang tawa.
"Sekarang jam berapa?" tanya Gibran tanpa melihat-lihat ke arah sekitar. Sontak, Arita mendelik tak percaya lantaran mendapati perilaku keduanya yang sama persis.
"Jam setengah tiga," sahutnya sembari berbalik menuju teras. Mendengar hal itu, membuat Gibran berniat untuk pulang terlebih dahulu. Selain karena ingin berpamitan dengan orang tuanya, ia juga harus terbang ke luar negeri di keesokan harinya.
"Om Gibran pamit dulu, nggak apa-apa? Mungkin satu Minggu kita nggak ketemu," ucap Gibran kepada Baron yang masih nampak menggemaskan dengan wajah bantalnya.
"Om Gibran mau kemana?" tanya si kecil.
"Om ada kerjaan ke luar negeri. Nanti pulangnya om bawakan oleh-oleh, deh ..." tawar si pria yang membuat Baron menganggukkan kepalanya menurut. Setelah itu, Baron mencium punggung tangan Gibran, sehingga membuat pria itu mengecup kedua pipi si kecil.
__ADS_1
"See you, Boy ..." ucapnya dengan tulus.