
"Kami cuma mau ngingetin ke kamu, Ta. Walaupun kalian sudah pindah ke luar kota, tidak ada yang tidak mungkin. Siapa tahu, Banu bisa dengan mudah mengetahuinya." Ucapan yang terlontar dari bibir Dendi, membuat Arita kembali menghela napas berat.
"Kamu tahu sendiri, bagaimana sifat pria itu. Seiring berjalannya waktu, semakin terlihat sangat jelas jika Banu mengincarmu. Bukan hanya kamu yang diincar, melainkan putramu juga," imbuhnya yang kini menyenderkan punggungnya di kursi.
Retno yang berada di sebelah Arita pun, berusaha memberikan ketenangan untuk rekan kerjanya itu. Ia sangat tahu, bagaimana gundahnya perasaan Arita saat ini. Banyak hal yang pasti terpikirkan oleh wanita di sampingnya ini.
"Yang jelas, kami akan tutup mulut mengenai kepindahan kalian. Dan kami juga akan menyembunyikan semua informasi mengenai kalian berdua. Fokuslah pada kehidupanmu dan Baron yang sekarang,"
Mendengar hal tersebut, membuat Arita menganggukkan kepalanya patuh. Tak ada yang bisa membantunya, selain Retno dan suaminya. Hal itulah yang membuat Arita, mengikuti semua saran yang diberikan sepasang suami istri tersebut. Setidaknya, itulah yang terbaik untuk dirinya dan juga sang putra.
"Aku harap, semoga pria itu tak mencari kami berdua ..." Dengan suara yang terdengar lirih, wanita itu menundukkan kepala.
Seolah mengerti kegelisahannya, Retno langsung merengkuh tubuh rampingnya dalam dekapan. Sebuah pelukan hangat, yang ia rasakan sebagaimana dari seorang kakak. Tak peduli, walaupun hubungan keduanya hanya sebatas rekan kerja.
__ADS_1
"Kamu tenang aja, Ta. Lingkungan yang sekarang, pasti bisa membuatmu nyaman. Kamu nggak perlu takut, jika suatu saat Banu akan kembali muncul. Karena mungkin, pria itu nggak bakal kepikiran kalau kamu sampai di sini."
Ada benarnya juga, ucapan wanita tersebut. Banu adalah pria yang sangat work a holic, dimana ia akan selalu menomor satukan pekerjaan. Berbeda dengan Bayu, yang justru sangat berkebalikan.
"Jangan khawatir, kamu bisa menghubungi kami jika ada masalah. Jangan sungkan untuk membicarakannya pada kami," ucap Dendi yang dianggukki mantap oleh sang istri. Keduanya memang sepakat, untuk membantu Arita terlepas dari jeratan pria gila itu.
Bibirnya seketika kelu, melihat support yang diberikan oleh sepasang suami istri tersebut untuknya. Matanya berkaca-kaca, dengan tangan yang semakin memegang erat jemari Mbak Retno.
"Arita benar-benar berterima kasih, atas bantuan Mas dan Mbak. Arita nggak bisa bayangin, gimana jadinya kalau ini semua terjadi tanpa adanya kalian berdua. Mungkin-"
"Sekarang, waktunya kamu istirahat. Beres-beresnya dilanjut besok pagi aja, Ta. Yang terpenting, kalian berdua sudah aman."
Menyadari jam yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi, membuat Retno dan suaminya berniat untuk kembali. Setelah tadi membantu Arita membereskan perabotan, keduanya memutuskan untuk pulang ke kota asalnya.
__ADS_1
"Ini nggak papa kan, kami tinggal?" tanya Dendi kembali memastikan.
"Nggak papa Mas, Mbak. Arita bisa handle semuanya," jawab si wanita dengan mantap. Ia sudah sangat terbantu, dengan pertolongan yang diberikan oleh keduanya. Dan kini pun, ia harus rela tinggal berjauhan dengan wanita yang sudah dianggapnya kakak itu.
"Kamu jaga diri baik-baik ya, Ta. Mbak pasti sering-sering kirim pesan," ucap Retno dengan mengulas senyum lembutnya. Setelah memeluk singkat tubuh ramping itu, sang wanita langsung berjalan ke arah pintu mengikuti sang suami.
Dikarenakan tanggungan pekerjaan, membuat mereka berdua harus kembali ke rumahnya. Ditambah lagi, ketiga anak-anaknya juga harus bersekolah di keesokan harinya. Jika saja tidak, pasti Retno akan menginap dan menemani Arita lebih lama lagi.
"Kalian hati-hati di jalan, ya? Terima kasih banyak untuk bantuannya," ucap Arita dengan tulus.
Setelah mendapati anggukkan kepala dari mereka berdua, wanita itu mengantarkan Retno dan Dendi menuju halaman rumahnya. Hingga keduanya masuk ke dalam mobil, Arita masih berdiri dengan pandangan yang terus mengarah pada mereka berdua.
"Kami pamit, Ta ..." Retno melambaikan tangannya, yang disusul oleh suara klakson mobil. Sontak, senyum manis dan anggukkan kepala ia berikan sebagai respon. Lambaian tangan si wanita masih terus terayun, hingga kendaraan itu menghilang di tikungan jalan.
__ADS_1
"Suatu saat, aku akan membalas kebaikan kalian berdua ..."