
"Ma, ayo kita masuk," ajak Mona dengan menyentuh bahu milik mamanya. Melihat raut wajah keheranan dari wanita berusia 60 tahun itu, membuat Mona menghela napas panjang.
Sedangkan papanya dan Edward, kini telah berjalan lebih dulu meninggalkan dirinya. Lantaran tak mendapati respon dari mamanya, membuat Mona langsung menyusul suami dan papanya tanpa berpikir panjang.
"Mona, kamu yakin?" tanya wanita itu seraya menyusul putri sulungnya. Begitu berada di sebelah Mona, ia mencekal erat pergelangan tangan putrinya. Ketika putrinya hendak melangkah, wanita itu segera menahannya.
"Mama apa-apaan, sih?! Tolong bersikap sewajarnya," mohon wanita itu yang tidak ingin sang mama melakukan hal-hal diluar nalar. Menepati ucapannya siang tadi, Mona benar-benar membawa kedua orang tuanya untuk mengunjungi rumah Arita.
"Cepatlah, Honey ..." ucap Edward dengan menatap dua perempuan berbeda usia tersebut.
"Tunggu sebentar," tahan si wanita sembari menolehkan kepalanya ke arah Edward. Tatapannya langsung menatap kedua netra sang mama, kemudian Mona menyentuh kedua pundak wanita itu dengan tegas.
"Mona dan Edward minta tolong, berucaplah dengan hati-hati. Jangan sampai kata-kata yang mama ucapkan menyakiti hati orang lain," peringatnya untuk yang kesekian kali, sehingga membuat wanita paruh baya itu menjauhkan tangan sang putri dari pundaknya.
"Mama selalu bicara berdasarkan fakta," kilahnya yang berusaha untuk mencari pembelaan.
"Tolak ukur seseorang akan dihargai atau tidak, berdasarkan dari ucapannya sendiri," ucap notaris berparas cantik itu, seraya menatap lekat kedua mata sang mama. Setelahnya, Mona meninggalkan wanita keras kepala tersebut.
"Entah siapa yang mengajarkannya seperti itu," gumam Patricia Daniswara—ibu kandung dari Mona dan Gibran yang merupakan wanita asal Spanyol.
"Biarkan mama menunggu Gibran. Kita masuk saja dulu," ajak Mona dengan merangkul lengan kekar milik sang papa. Sedangkan Edward, berdiri di sebelah mertuanya dengan santai. Begitu mendapatkan anggukkan kepala dari kedua pria itu, Mona lantas tersenyum.
"Tunggu mama," ucap seseorang dibelakang mereka, yang bisa dipastikan bahwa itu adalah Patricia.
Setelahnya, mereka mulai memasuki teras rumah yang nampak minimalis dengan nuansa putih dan hitamnya. Melihat pintu rumah yang terbuka, membuat Mona mengetuknya pelan. Tak lama setelah itu, seorang wanita dengan dress rumahannya mulai muncul.
__ADS_1
"Hai, Arita ... kami benar-benar datang berkunjung," ucap Monalisa, tatkala wanita itu tiba di hadapan mereka semua. Dengan sangat girang, Mona merengkuh tubuh Arita, selayaknya teman dekat.
"Mari, silakan masuk," tawar sang empunya rumah sembari membuka pintunya lebih lebar.
Tiba disebuah ruang tamu berukuran sedang, keempatnya mendudukkan tubuh disofa empuk berwarna abu-abu. Arita menyalami tamunya dengan sangat sopan, sehingga membuat mereka mengulas senyum hangat. Kecuali Patricia, yang berjabat tangan dengan waktu yang sangat singkat.
"Bagaimana perjalanannya, Pak, Bu? Pasti sangat melelahkan," ucap Arita yang berusaha membuka obrolan, setelah mendudukkan tubuhnya di single sofa yang ada di ruang tamunya.
"Bayangkan saja, kami flight dari luar negeri langsung kemari," sahut Andre yang merupakan pebisnis sukses yang berasal dari kota ini. "Tapi tidak apa-apa, demi menuruti permintaan putriku, aku harus mengorbankan pantatku hingga panas,"
Sontak, penuturan dari pria 64 tahun itu mengundang tawa bagi semuanya. Begitupun dengan sang istri, yang menatap sekilas ke arahnya. Saat netranya menyaksikan tawa natural dari Arita, entah mengapa membuatnya merasa de javu.
"Oh, papa nggak ikhlas? Tau gitu kan, Mona nggak bakal minta ke papa," ucap wanita itu seraya menunjuk papanya.
"Just kidding, girl ..." sanggah pria 2 orang anak itu seraya menepuk singkat puncak kepala Mona. Menyaksikan hal itu, membuat Arita menundukkan kepalanya dengan menahan rasa sesak yang seketika memenuhi rongga dadanya.
"Sudah, dia bilang akan segera tiba," jawab Mona dengan menunjukkan sebuah pesan yang masuk ke ponselnya. Melihat hal itupun, membuat Edward menganggukkan kepala lantaran merasa lega.
"Oh iya, dari cerita yang kudengar, ternyata Arita ini adalah pegawai yang kompeten dalam bidang yang kau ambil. Jujur, kami sangat salut mendengarnya," pujinya setelah mendengar cerita singkat mengenai Arita dari putrinya.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Patricia dengan cepat.
Begitu netranya saling bertatapan dengan wanita itu, Arita langsung menipiskan bibir dan berusaha mengulas senyum meski sangat kecil. Kedua tangannya saling bertaut, dan membuat Arita menarik napas dalam-dalam.
"Saya menekuni dunia per-notarisan sejak tujuh tahun lalu. Dan sekarang, saya menjadi staff di kantor Bu Mona," paparnya sehingga membuat si penanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mendapati tatapan Patricia yang terlibat sangat menelitinya, membuat Arita merasa sedikit tidak nyaman. Menyadari hal itu, Andre lantas menyentuh pundak sang istri dengan lembut sebagai kode untuk menghentikannya.
"Kenapa tidak mendirikan kantor notaris sendiri?" tanya wanita itu, yang lebih tepatnya sebagai sebuah ide bagi Arita.
"Sejauh ini belum kepikiran sampai di tahap itu. Lagipula untuk melanjutkan pendidikannya, butuh waktu dan biaya yang lebih-lebih. Sementara itu, saya lebih fokus mengerjakan tugas-tugas yang menyangkut dengan passion saya."
Lagi dan lagi, Andre dibuat kagum oleh wanita muda di hadapannya ini. Benar kata putrinya, bahwasannya Arita memanglah wanita sederhana. Namun, entah mengapa ia bisa melihat sisi lain dari wanita itu.
"Maaf aku terlambat," seluruh atensi langsung mengarah pada Gibran yang baru saja mengetuk pintu rumah Arita.
Pria yang mengenakan jaket denim sebagai outer serta celana jeans-nya itu, mulai melangkah masuk dengan sopan. Arita berdiri dari duduknya, kemudian mempersilakan Gibran untuk duduk di space yang masih kosong.
"Apakah kau tidak bisa disiplin, Gib? Kau terlambat lima belas menit dari waktu yang kau janjikan," tegas Andre dengan menatap ke arah putranya.
Arita meneguk ludahnya susah payah, ketika mengetahui jika pria humble nan jenaka seperti Andre mampu bersikap tegas pada Gibran. Begitupun dengan putranya, langsung meminta maaf serta mengakui kesalahannya.
"Sudahlah, Pa. Gibran ada keperluan dengan asistennya," ucap Edward berusaha menengahi.
"Usap keringatmu itu, boy ..." titah Patricia seraya memberikan selembar tisu kepada putranya. Dari sinilah Arita mengetahui, jika kedua orang tua memiliki sifat sangat berbeda. Namun, Gibran justru mengacuhkan ucapan sang mama, dan terfokus pada Arita.
"Masih saja begitu," gumam Patricia lantaran mendapati sikap dingin dari sang putra. Tentu saja gumaman wanita itu mampu didengar oleh yang lainnya, sehingga membuat Arita menatap kaget ke arah Gibran.
Sementara Gibran, pria itu tidak merasa bersalah sama sekali. Gibran pikir, mungkin ini adalah balasan yang tepat untuk sang mama. Karena selama masa pertumbuhannya, Patricia tidak pernah memperhatikannya. Mungkin hanya di akhir-akhir ini perhatian dari Patricia mulai tercurah padanya.
"Baron dimana, Ar?" tanya Gibran.
__ADS_1
"Dia sedang mengerjakan tugasnya. Sebentar, biar aku panggilkan," sahut Arita sembari berdiri dari duduknya. Setelah itu, ia segera menuju ke arah kamar, dimana Baron berada.
"Apa maksudnya? Apakah dia seorang janda?"