
"Tapi, bagaimana dengan sekolah Baron? Terus, siapa yang bakal jenguk bapak?" Serentetan kalimat yang terucap lancar dari bibir si kecil, membuat Arita mengulas senyum tipisnya. Setelah mengangkat tubuh sang buah hati, wanita itu memangkunya dengan wajah yang teduh.
Begitupun dengan Baron, bocah itu menyenderkan kepalanya di dada sang ibu dengan nyaman. Jemari mungilnya, memainkan baju yang dikenakan oleh ibunya. Kepalanya mendongak, seolah menunggu jawaban dari sang ibu.
"Bapak selalu ada disini, kan?" tanya si wanita sembari menunjuk kearah dada mungil sang buah hati. Melihat anggukkan kepala dari si anak, Arita tersenyum lembut sembari mengusap surai tebal berwarna hitam legam itu.
"Itu berarti, bapak selalu ada disisi Baron dan juga Ibu. Suatu saat nanti, Baron sama Ibu bisa ziarah lagi ke makam bapak. Tapi untuk saat ini, rindunya ditahan dulu ya, Nak."
Dengan lembut, Arita membawa tubuh putranya semakin mendekat. Dalam rengkuhan hangat sang ibu, bocah laki-laki itu hanya terdiam dengan mata yang terpejam. Sedangkan wanita itu mengelus lengan kecil sang buah hati, sesekali menghirup rambut Baron yang beraroma jeruk.
"Oh iya, Baron sudah do'a kan bapak?" tanya si wanita yang berusaha mengalihkan topik.
Benar saja, trik yang dilakukan oleh seorang ibu itu nampaknya berhasil. Bocah berusia enam tahun di pangkuannya itu, langsung menganggukkan kepala dengan antusias. Kedua bola matanya berbinar, menatap wajah sang ibu dengan lekat.
__ADS_1
"Sudah, seperti biasanya. Tadi juga Baron tambahin, semoga bapak nggak marah karena kita pindah rumah." Cengiran yang terbit dibibir tipis bocah itu, membuat Arita mencubit gemas pipi bulat milik Baron.
"Ibu semua demi kebaikan kita berdua, Sayang ..." imbuh sang wanita dengan menggesekkan hidung mancung keduanya. Sontak, Baron tertawa renyah begitu tangan sang ibu menggelitiki perutnya.
Setelah puas bermain dengan putra tunggalnya itu, Arita mulai bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Baron, yang melepaskan sarung dan berjalan ke arah kamar untuk meletakkannya di tempat semula.
"Ibu dimana, sih?" tanya si bocah pada dirinya sendiri, saat tak melihat keberadaan sang ibu di ruang tengah. Namun, begitu memasuki area dapur, Baron mendapati sang ibu yang berada di ambang pintu belakang rumah.
"Ibu, ih! Nanti kalau jantungnya Baron turun ke lambung, gimana coba? Siapa yang mau tanggung jawab?" kesal si kecil dengan bibir yang mengerucut sebal.
Sedangkan Arita terpingkal-pingkal begitu mendengar ucapan si kecil. Melihat wajah menggemaskan itu, membuatnya tak tahan untuk tidak mencubit kedua pipi gembul itu. Setelahnya, ia berlalu menuju meja dapur meninggalkan si kecil yang berada di dekat pintu belakang.
"Ya ampun, amit-amit jabang bayi. Kamu ini, kalau ngomong suka ngawur aja. Jangan diulangi lagi," sanggah si ibu yang menatap sekilas putra kecilnya. "Lagian nggak mungkin juga, jantung kok merosot sampai lambung. Kamu ini aneh-aneh aja, Nak ..."
__ADS_1
Bukannya menghiraukan ucapan sang ibu, bocah berpiyama itu justru anteng menatap ke arah halaman belakang rumahnya. Selain terdapat kolam ikan, pagar pembatas rumahnya pun, langsung berbatasan langsung dengan hamparan sawah milik warga setempat.
"Oh iya, Bu. Berarti Baron juga pindah sekolah, dong?" tanya si kecil sembari mendekat ke arah meja makan.
Arita menganggukkan kepalanya, dengan kedua tangan yang masih sibuk membereskan meja makan dan kitchen set. Setelah menatanya sedemikian rupa, wanita itu teringat untuk mengambil stok makanan yang masih berada di ruang tengah.
"Besok pagi, kita urus pindahan sekolahmu."
Sekembalinya Arita dari ruangan sebelah, ia bisa menyaksikan sang putra yang duduk di salah satu kursi dengan kepala yang tergeletak di atas meja makan. Setelah meletakkan kaleng susu, roti-rotian, selai, dan beberapa camilan ke atas meja, wanita itu mengusap lembut kepala sang buah hati.
"Kamu kenapa, Nak? Kalau masih ngantuk, tidur lagi sana. Nanti Ibu bangunkan," tawar si wanita yang disambut gelengan oleh Baron. "Atau mau sarapan aja? Tapi, ini baru jam setengah enam loh ..."
"Nggak papa, Bu. Baron mau roti tawar sama susu putih aja,"
__ADS_1