
"Jangan terlalu dipikirkan, Nona ..." Suara deep voice itu terdengar begitu jelas di telinganya. Arita langsung membeku, begitu merasakan pergerakan lembut yang terus mengusap kepalanya.
"Maafkan aku," lanjut pria itu dengan nada penyesalan. Gibran menatap nanar ke arah wanita, yang kini menyembunyikan wajah di lipatan lengannya. Hal tersebut membuat si pria sangat menyesali ucapannya.
Sedangkan Arita, wanita itu langsung menggerakkan kepalanya sedikit menjauh. Hingga ia tak lagi merasakan, sebuah telapak berukuran besar yang menyentuh kepalanya.
"Tolong menjauh dari saya," pinta si wanita dengan mengangkat kepalanya. Hanya raut wajah datar, yang wanita itu tunjukkan pada pria di hadapannya.
Sedangkan Gibran, pria itu menatap wajah si wanita dengan bibir yang terkunci rapat. Wajah yang beberapa saat lalu ia tatap dengan lekat, kini nampak kacau dengan ujung mata yang sedikit basah.
Setelah memastikan semua baik-baik saja, Arita memberanikan diri untuk berdiri dari duduknya. Pandangan wanita itu menyisir ke sekitarnya, dan mendapati ruangan yang kosong.
"Aku tahu, itu hanya lelucon saja. Jangan pedulikan saya," ucapnya singkat dengan beranjak dari meja kerjanya. Namun, dengan cepat Gibran langsung menahan pergelangan tangan si wanita.
__ADS_1
"Saya tidak bercanda, Nona Arita." Mendengar penegasan pria itu, membuat sang wanita menatap pergelangan tangannya yang dicekal oleh telapak tangan si pria. Kemudian tatapan datarnya mengarah pada sang empunya tangan.
Seolah mengerti maksud tatapan itu, Gibran langsung melepaskan tautan tangan keduanya.
Tanpa membuka suaranya lagi, si wanita bergegas menuju ruangan yang berada di belakang. Sedangkan Gibran, pria itu menatap ke arah punggung wanita yang selama ini membuatnya tertarik.
"Gibran ... Kamu pulang ke rumah Kakak," ucap salah seorang wanita dari seberang telepon yang masih tersambung di ponsel milik Gibran. Lamunan si pria langsung buyar, begitu mendengar suara lembut sang kakak.
Setelah menghela napasnya berat, pria itu lantas beranjak keluar menuju pintu utama. Sesuai saran Mona, pria itu benar-benar pergi dari kantor notaris tersebut.
Setelah mendudukkan tubuhnya di dekat jendela, wanita itu lantas menggelengkan kepala disertai senyum tipis.
"Enggak ada apa-apa, Mbak. Semua baik aja kok," sahutnya sembari menerima segelas air mineral yang dibawakan oleh temannya. Setelah mengucapkan terima kasih, wanita itu langsung meneguknya hingga setengah.
__ADS_1
Perbincangan kembali mengalir, dengan Arita yang berusaha menutup semua perasaan kagetnya. Tak munafik, ia benar-benar dibuat terkejut oleh pengakuan Gibran yang terkesan sangat tiba-tiba.
"Ar, tadi ada berkas yang harus direvisi. Nanti, kamu aja yang koreksi, ya?" ucap salah seorang yang paling senior di sana. Usai mendapatkan anggukkan kepala dari pegawai baru itu, si wanita lantas kembali ke ruang kerja mereka semua.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 dimana waktu kerja sudah dimulai kembali. Sebelumnya, Arita kembali mengecek ponselnya untuk melihat isi pesan yang masuk.
"Syukurlah kalau Baron sudah sampai," ucapnya setelah mendapatkan kabar dari tetangga sebelah rumahnya. Entah kebaikan apa yang sudah ia lakukan, hingga dipertemukan oleh orang-orang baik.
Karena jam kerjanya, Arita terpaksa harus menitipkan sang putra kepada tetangga sebelah rumahnya. Beruntungnya, anak sang tetangga merupakan teman sekelas Baron. Sehingga, hal itupun yang membuat sang tetangga bersedia menjemput Baron sekaligus.
"Nanti kirimkan ke e-mailku saja, Mbak," pinta si gadis yang melintasi meja kerja Arita. Setelah mengetahui maksud ucapan gadis itu, Arita pun menganggukkan kepalanya.
Waktu terus bergulir, hingga pada akhirnya Arita sudah menyelesaikan tugasnya. Setelah mengirimkan melalui e-mail, tangan wanita itu tergerak untuk kembali mengecek ponselnya.
__ADS_1
"Loh, ini nomor siapa?" gumam Arita dengan bingung. Lantaran tak ingin rasa penasaran membunuhnya, wanita itupun langsung membuka pesan yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal tersebut.
'Bersiaplah malam ini, Nona ...'