Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 6


__ADS_3

"Biarkan dia pulang sama aku," ucapnya yang tak ditanggapi oleh Arita.


Tatapan mata dengan sorot tajam itu, terfokus pada tubuh mungil sang putra yang bersembunyi dibalik kaki si pria. "Baron, Ibu bicara sama kamu, Nak. Angkat kepalanya," tegas Arita yang tak menyukai sikap putranya. Sebelum-sebelumnya, ia tak pernah mendapati sikap seperti demikian dari sang putra.


Meski merasa takut, bocah itu tetap mengangkat kepalanya. Begitu melihat raut marah sang ibu, nampak jelas jika bocah itu merasa bersalah. Disatu sisi, ia juga merindukan sosok pria yang menggandeng tangannya saat ini.


"Pamit sama Nenek, terus cium tangannya." Tatapan mata wanita itu mengarah pada seseorang yang berada didekatnya.


Tautan tangannya terlepas begitu saja, saat Baron kembali melangkah naik menuju teras rumah si paruh baya. Sesuai perintah sang ibu, ia berpamitan dan tak lupa mencium punggung tangan keduanya.


"Baron pamit dulu, Nek. Sampai jumpa," ucap si bocah dengan manis sembari melambaikan tangan kecilnya.


Senyum hangat kedua wanita dengan usia yang tak lagi muda itu, kembali terbit. Usapan lembut ia berikan, dipuncak kepala si bocah dengan sikap menggemaskan itu.


Melihat sang putra yang berjalan lebih dulu dengan pria itu, membuat Arita menghembuskan napas beratnya. Untuk sejenak, ia mengusap wajah dengan frustasi. Wanita itu benar-benar merasa bingung, menghadapi sikap sang putra yang selalu berubah jika bertemu dengan pria itu.


"Kalau kamu nggak suka kehadirannya, hati-hatilah. Karena kita nggak tau, apa yang akan diperbuat olehnya dalam keluarga kecilmu."


Kepala yang semua tertunduk kini terangkat sempurna. Bagaimana bisa, wanita paruh baya itu mengerti perasaannya terhadap pria tadi? Dengan dahi yang berkerut, Arita menatap ke arah lawan bicaranya.


"Cepat susul putramu, Nak. Jangan biarkan dia sendirian dengan pria itu," titahnya dengan mengamati dua orang yang sudah mulai berjalan, meninggalkan pelataran rumahnya.

__ADS_1


Tak ingin membuang waktunya, Arita segera berpamitan dengan dua wanita yang sudah dikenalnya itu. Saat kepalanya tertunduk untuk bersalaman, ia kembali mendengar suara sang paruh baya.


"Meski dia bukan pria asing bagimu, kau harus tetap waspada. Jaga baik-baik putramu." Wanita berusia hampir tujuh puluh tahun itu, mengusap lembut kepala Arita. Tak menampik, ada rasa mengganjal juga di dalam hatinya melihat kondisi wanita muda di hadapannya ini.


"Baik, Nek. Terima kasih banyak untuk semuanya," sahutnya sembari menganggukkan kepala.


Setelah itu, wanita yang dibalut dress putih tersebut segera melangkah cepat menyusul Baron. Jaraknya tak terpaut jauh, sehingga dirinya masih bisa memantau keadaan sang putra dari posisinya saat ini.


Langkah kakinya terhenti untuk sejenak, saat melihat senyum yang ditunjukkan oleh sang putra untuk pria itu. Hatinya seolah tak rela, melihat canda tawa yang tercipta diantara mereka berdua.


"Harusnya kamu, yang ada diposisi itu, Mas ..." tuturnya dengan memegangi dada yang terasa sesak.


Sekelebat bayangan almarhum suaminya, kembali melintas dibenak. Tanpa sadar, cairan bening mulai menetes saat hatinya merasa tak rela. Batinnya bergejolak, saat berandai sang suami yang asyik bercanda gurau dengan buah hati mereka.


Saat tiba dihalaman rumahnya, Baron menatap kearah wanita yang senantiasa berjalan di belakangnya. Dengan tangan yang menegadah, bocah itu seolah meminta kunci rumah dari sang ibu.


"Ibu, ayo buka pintunya. Baron mau main bareng sam-"


"Stop, Baron! Sekarang, kamu masuk ke dalam!" tegas wanita itu dengan mata yang sedikit memerah. Ia mencoba untuk tetap tegar, meski keadaan hatinya tengah kacau.


Melihat keadaan sang ibu yang tak baik-baik saja, membuat si bocah terdiam untuk beberapa saat. Ia sudah cukup besar, untuk mengerti perasaan sang ibu hanya dari raut wajahnya. Diusianya yang masih dini, Baron hanya terdiam tak bisa berkutik.

__ADS_1


Pria yang masih berdiri tegap itu, tak bereaksi sama sekali. Saat ia berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan si bocah, Arita langsung menarik putranya untuk mendekat.


"Jangan dekati anak saya lagi! Silakan Anda pergi dari rumah saya!" usir wanita itu tanpa basa-basi.


Tak main-main, ia langsung menggandeng tangan sang putra menuju pintu rumah. Arita tak peduli, apakah ucapannya menyinggung atau tidak. Yang pasti, ia tak ingin melihat perawakan pria itu lagi di sekitar rumahnya.


"Saya juga berhak atas dia!"


Sontak, langkah kaki Arita terhenti seketika. Dadanya kembali memanas, saat pria asing itu berujar demikian. Sedangkan Baron, bocah menggemaskan itu menatap ke arah sang ibu dengan tatapan bingungnya.


"Jadi, tidak ada yang bisa melarangku untuk bertemu dengan Baron!" Ucapan selanjutnya pria itu, membuat Arita kehabisan rasa sabarnya.


Tak ingin buah hatinya mendengar hal yang aneh-aneh, wanita itu segera membuka pintu rumah. Setelah memerintahkan sang putra untuk masuk, Arita kembali membalikkan tubuhnya dan menutup pintu. Ia harap, semoga putra kecilnya itu tak mendengar percakapan mereka.


"Kau berhak atas putraku?" tanya wanita itu mengulang ucapan pria asing dihadapannya. Dengan sebelah alis yang terangkat, ia melipat kedua tangannya disertai tatapan penuh rasa benci.


"Tentunya ... Karena setelah Bayu meninggal, aku yang berhak atas dia!"


Tangan yang semula terlipat didepan dada, kini mulai terkepal disisi tubuhnya. Ucapan pria itu, tepat mengenai ulu hatinya. Selain tubuh yang membeku ditempat, mata wanita itu mulai memanas seiring jantungnya yang berdegup kencang.


"Mungkin saja, kau juga bisa menjadi milikku setelah meninggalnya Bayu tiga tahun silam."

__ADS_1


"Cukup! Hanya karena kau saudara kembar suamiku, bukan berarti kau bisa masuk ke hidup kami dengan seenaknya!"


__ADS_2