Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 49


__ADS_3

"Kau yakin bisa menghandle semuanya?" tanya Mona entah yang keberapa kalinya. Dengan mengulas senyum lembutnya, Arita menganggukkan kepala sembari menatap kedua mata atasannya itu.


Setelah turun dari mobil, Mona menggandeng tangan Arita beriringan menuju pintu rumah yang ditempati bersama dengan Baron. Melihat kondisi rumah tersebut yang nampak sederhana, membuat Mona menipiskan bibirnya sejenak.


"Bukan begitu cara bukanya," atensi keduanya terfokus pada Gibran dan Baron yang sudah turun lebih dulu. Kedua pria berbeda usia itu tengah berusaha membuka kunci pintu, yang entah kenapa sedikit sulit untuk diputar.


"Bisa bukanya, nggak?" tanya Arita setelah keduanya tiba di belakang tubuh Gibran. Melihat anggukkan kepala dari pria itu, membuat Arita pun memperhatikan cara Gibran memutar kuncinya. "Sini biar aku yang buk–"


"Nah, udah bisa ..." ucapan Arita terpotong oleh ujaran Gibran yang terdengar sangat bangga.


Mengikuti langkah kaki Baron yang sudah masuk ke dalam, membuat Gibran pun melakukan hal yang sama. Sontak, hal itu membuat Mona mendelik tak percaya akan sikap sang adik yang terlihat sangat tidak sopan.

__ADS_1


"Eh, izin dulu sama yang punya rumah. Main nyelonong gitu aja," sindir Mona yang mulai berbicara dengan santai ketika di dekat Arita. Sangat berbeda dengan saat-saat pertama keduanya bertemu, dimana wanita yang berprofesi sebagai notaris itu selalu berbicara dengan tegas dan sangat berhati-hati.


"Tidak apa-apa, Bu. Mari silakan masuk," sahut Arita dengan berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Mona di belakangnya. Meski ragu, akhirnya wanita berusia 30 tahun itu mulai memasuki rumah satu lantai yang terlihat sangat nyaman baginya.


"Maaf jika rumah saya sedikit berantakan," ucap Arita dengan tak enak hati pada sang atasan. Pasalnya, sebelum ia pergi kerja tadi pagi, ada beberapa kekacauan yang dibuat oleh sang putra, namun belum sempat ia bereskan.


"Ah tidak apa-apa, Ar. Justru hal ini membuktikan jika putramu adalah anak yang aktif," canda si wanita yang sangat memaklumi hal ini. Bahkan, sejauh ini Mona pun belum pernah melihat rumahnya yang dibuat berantakan oleh anak kecil, meskipun ia sangat menginginkannya.


"Wah, benarkah?" tanya Mona berusaha ingin memastikan. Melihat anggukkan kepala dari Arita, membuat wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah Baron, yang kini tengah asyik bercanda dengan sang adik, Gibran.


"Kau beruntung memiliki putra sepertinya," akunya sembari mengelus punggung tangan milik staffnya itu. Ternyata benar kata Gibran, semakin mengenal Arita, maka semakin banyak pula hal luar biasa yang bisa ia temukan.

__ADS_1


Pribadi sederhana sepertinya, ternyata mampu membuat takjub beberapa orang yang berusaha mengenal sosoknya. Arita, berhasil membuat Mona merasa kagum, akan kepribadian dan karakter yang dimiliki olehnya.


"Saya akui, memang suatu keberuntungan bisa memiliki putra sehebat dirinya. Anak yang bisa tumbuh dengan baik, meski lingkungannya tidak mendukung sepenuhnya. Maka saya rela, jika dunia saya hancur sekalipun, asalkan jangan dia yang hancur,"


Tanpa sepengetahuan Arita, diam-diam Mona menghapus sebuah cairan bening yang menetes dari pelupuk matanya. Dengan mengalihkan pandangannya, Mona berharap agar wanita itu tak mengetahui jika dirinya tengah meneteskan air mata. Sungguh, Mona juga ingin merasakan hal yang sama dengan Arita.


"Mungkin saya tidak beruntung, karena suami saya pergi lebih dulu. Namun, sepertinya Tuhan memang adil. Tuhan mengirimkan Baron, sebagai ganti dari mendiang bapaknya," sambung Arita yang dianggukki setuju oleh Mona.


"Mengenai keputusan Gibran, sepertinya aku dan Edward akan mendukungnya. Kami sangat berharap, kau bisa menerima niat baik adikku," ucapnya yang membuat Arita memandang sekilas ke arah dapur, dimana Gibran tengah membuat minum dengan putranya.


"Saya tidak bisa menentukannya untuk saat ini. Biarkan waktu yang menunjukkan akhirnya nanti," sahut Arita dengan tersenyum lembut ke arah Mona.

__ADS_1


"Aku akan membantumu untuk akrab dengan mamaku,"


__ADS_2