Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 18


__ADS_3

Arita melangkah masuk, diikuti oleh sang putra yang asyik bersenandung ringan. Masih dengan piyama berwarna biru muda yang melekat di tubuh mungilnya, Baron menyanyikan sebuah lagu anak-anak favoritnya. Meskipun dengan nada yang tak beraturan, hal itu sudah cukup menghibur Arita.


"Baron, siap-siap mandi dulu. Tadi katanya mau lihat sekolah baru," ujar si wanita sembari membawa beberapa kantung belanjaannya.


Usai belanja di depan rumah tadi, wanita itu mengajak sang putra memasuki rumah. Tentu setelah beberapa perdebatan kecil, ketika si bocah masih kekeuh ingin menghafalkan nama si penjual sayur tadi.


"Oh iya, Baron ke sekolahnya sama Ibu juga, kan?" Putra kecilnya itu menyahuti sembari berjalan santai ke arah kamar yang ditempati olehnya dan juga sang ibu. Tak berselang lama setelah itu, Baron keluar dengan membawa tas sekolahnya.


"Lah ... Kalau Ibu nggak nganterin kamu ke sekolah, terus mau berangkat sendiri?" sahut sang wanita sembari tergelak. Netranya menatap ke arah sang buah hati, yang kini malah terduduk di atas dinginnya lantai tanpa terlapis apapun.


Baron meresponnya hanya dengan menganggukkan kepala. Bocah laki-laki itu, nampak asyik mengeluarkan perlengkapan sekolahnya dari dalam tas.


"Kalau Ibu tega, sih, nggak papa. Nanti palingan Ibu juga seneng, kalau anaknya nyasar-nyasar." Tawa si wanita pun semakin meledak. Putra kecilnya itu sangat pintar, mengeluarkan perkataan yang kadang membuatnya ketar-ketir.

__ADS_1


"Lagian mana ada, ibu-ibu yang tega biarin anaknya pergi sendiri? Cuma ibu yang satu ini, nih ..." tuding si anak, dengan menatap ibunya disertai bibir yang mengerucut sebal. Ia mengira, bahwa sang ibu benar-benar tidak akan mengantarnya.


Melihat wajah tertekuk sang buah hati, membuat Arita melangkah ke arah si kecil. Setelah berjongkok tepat di hadapan bocah itu, Arita terkekeh kecil sembari mengusap surai lembut itu.


"Aduh aduh, anak Ibu marah nih ceritanya?" goda wanita tersebut dengan mencolek lengan si bocah. Begitu mendapati tatapan malas dari sang putra, membuat Arita menarik gemas kedua pipi bulat itu.


"Anak kecil nggak boleh ngambek," tutur Arita yang disambut tatapan tak terima oleh si anak. "Beneran, nanti jadi cepet tua." Sambungnya yang membuat Baron memukul kecil lengan sang ibu.


"Halah, mana ada teori begitu ..." Kilah si bocah sembari membalas tatapan geli dari sang ibu.


"Udah, Ibu jangan bengong di situ. Mending bantuin Baron siap-siap ke sekolah baru," pintanya dengan wajah yang terlihat sedikit judes. Seperti itulah Baron, ia akan bersikap sedikit dewasa jika sang ibu mulai berulah untuk menjahilinya.


"Siap komandan," sahut si wanita dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


Setelah melihat putra kecilnya memasuki kamar mandi, Arita segera menyusul bocah menggemaskan itu. "Sini, biar Ibu siapkan air hangatnya." Tanpa menunggu lama, wanita itu mengalirkan air panas ke dalam ember, dan menambahkan air dingin hingga menghangat.


"Thanks, Mom ..." Baron tersenyum dengan acungan jempol yang ia berikan untuk ibunya.


Lagi dan lagi, Arita menganggukkan kepala. Setelah mengecup singkat pipi kanan sang buah hati, ia bergegas keluar untuk menyiapkan pakaian ganti. Untung saja, putra kecilnya itu sudah belajar mandi dengan sendirinya, sejak beberapa tahun lalu.


Tentu di awal-awal Baron ingin mulai mandiri, Arita masih tetap mendampinginya. Namun seiring berjalannya waktu, bocah itu sendiri yang memintanya untuk tidak memandikannya lagi. Mau tak mau, Arita pun menurutinya dan berkelanjutan hingga saat ini.


"Untung berkas pindahan Baron udah siap," gumam si wanita begitu mengecek sebuah pesan yang masuk di ponselnya. Ia benar-benar terbantu oleh sikap Mbak Retno yang begitu cekatan mengurus surat pindah sang putra.


Setelah mengambil pakaian ganti milik Baron, Arita bergegas untuk bersiap-siap juga. Ia berniat untuk memindahkan sang putra ke sekolah dasar yang berada di sekitar rumahnya. Tak apa sedikit repot, asalkan putranya bisa mendapatkan yang terbaik.


"Ibu, Baron sudah selesai. Dimana baju gantinya?" tanya si kecil dengan berjalan ke arah ruang tengah dimana ibunya berada. Tubuh mungil putranya itu hanya terbalut handuk, sebatas perut yang membuatnya sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Itu, di sana. Biar Ibu bantu, yuk ..." Tanpa menunggu lama, si bocah pun telah rapi dengan seragam dari sekolah lamanya. Setelah memastikan semuanya siap, Arita dengan cepat segera menyelesaikan ritualnya.


"Ibu, ayo kita berangkat. Nggak usah dandan cantik-cantik, Ibu udah cantik dari sananya."


__ADS_2