
"Biarkan aku yang menjadi ayah sambung Baron," ucapnya dengan memandangi kedua netra si wanita. Dapat ia lihat dengan jelas, bahwasannya Arita nampak terkejut karena penuturan yang ia ucapkan barusan.
Tak ada satupun kalimat yang keluar dari bibir Arita. Tubuhnya kaku untuk beberapa saat, dengan kedua matanya yang menyiratkan ketidak-percayaan atas ucapan Gibran. Dirinya benar-benar tidak pernah membayangkan semua ini akan terjadi.
"Arita, kau mendengar ucapanku?" panggil si pria berusaha memastikan bahwa wanita itu dalam keadaan baik.
Tak mendapati respon apapun dari si wanita, membuatnya lantas mendekat ke arah ranjang. Meski Arita sudah terlihat lebih fit, namun ia tetap merasa khawatir jika wanita itu tetap saja diam dan tidak membuka suara.
"Apa yang terjadi padamu, Ar?" tanya Gibran dengan tangan yang berusaha menyentuh kening si wanita, mencoba untuk mengecek apakah sesuatu terjadi padanya.
Namun, Arita langsung menepis telapak tangan besar itu, supaya tak menyentuh kepalanya. Mendapati hal itupun, Gibran menipiskan bibir dengan menarik kembali tangannya. Atensinya tertuju pada Arita, yang terus saja menatap dengan pandangan kosong ke arah depan.
"Apa yang kau katakan tadi, Gib?" tanya Arita dengan nada suara yang rendah. Wanita yang lebih tua 1 tahun dari Gibran itupun, mengalihkan pandangannya dengan ragu berusaha menatap kedua netra si pria.
__ADS_1
"Aku akan menjadi ayah sambung untuk Baron," ucapnya dengan tegas seolah sangat yakin akan hal itu. Gibran mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang, sehingga membuatnya bisa memandang wajah cantik wanita itu lebih dekat.
"Tidak semua hal bisa dibuat bahan candaan," tegas Arita dengan menegakkan punggungnya. Ia menatap Gibran dengan kedua alisnya yang hampir menyatu. Wanita itu benar-benar tidak habis pikir oleh keputusan dangkal yang diambil oleh Gibran.
"Aku tidak bercanda, dan aku serius. Jika kau tidak percaya, aku akan membuktikannya dalam waktu satu bulan," putusnya saat itu juga. Gibran ingin membuktikan keseriusannya, kepada Arita dan sang kakak.
"Jangan berpikir dangkal, Gib. Semua keputusan yang akan kau ambil pasti membawa resiko," peringatnya yang tidak ingin membuat Gibran menyesal dikemudian hari. Namun, pria itu tetap kekeuh dan menatap mata Arita secara lekat.
"Mungkin sebelum-sebelumnya, setiap kali aku mengambil keputusan harus berpikir panjang. Namun kurasa, untuk keputusan kali ini, aku tidak perlu berpikir panjang lagi," jawabnya dengan begitu yakin.
"Kenapa harus aku?" tanya Arita dengan singkat.
"Karena sejak awal aku tahu, jika kau berbeda dari wanita yang lain. Aku hanya mengikuti insting dan perasaanku," ungkap pria itu yang membuat Arita memijat pelipisnya. Entah kenapa pikirannya terdistraksi oleh pengakuan Gibran.
__ADS_1
"Dan sejauh ini ... instingku tidak pernah salah," imbuhnya dengan menatap ke arah Arita.
"Aku yakin, jika ini hanyalah rasa penasaranmu saja, Gib. Selebihnya, setelah kau mengetahui kehidupanku, kau akan melupakan perasaanmu itu," sanggah Arita karena ragu akan semua hal ini.
Lagi pula, pertemuan keduanya bisa dibilang masih sangat singkat. Dan lagi, Arita juga sedang tidak memikirkan mengenai pasangan yang akan menemani kehidupannya lagi. Lantas, hal itulah yang membuat Arita terus-terusan menampik pengakuan Gibran.
"Bukankah kita baru saja kenal?" tutur Arita.
"Aku tidak peduli akan hal itu, Ar. Semua tentangmu aku suka, begitu juga dengan Baron. Waktu tidak bisa menjadi patokan untuk perasaan dan keseriusan, bukan?" jelasnya dengan tegas.
"Masih banyak gadis diluaran sana, sedangkan ak–"
"Aku tidak peduli, sekalipun kau adalah single mother. Justru aku akan melengkapi figur ayah yang dibutuhkan oleh Baron, dan figur suami untukmu," tekadnya yang membuat Arita berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tenang, aku tidak akan menyingkirkan Bayu dari sisi kehidupan kalian. Bagaimanapun nantinya, dia adalah sosok yang berarti untukmu dan Baron. Tapi izinkan aku untuk mengantikan perannya dalam keluarga kecil kalian,"