
"Baron belum pernah disuapi bapak," lirih si kecil dengan menundukkan kepalanya. Dengan memilin tangannya satu sama lain, anak laki-laki itu nampak murung setelah mengucapkan kalimat yang ia lontarkan beberapa saat lalu.
Begitu juga dengan ketiga orang dewasa yang duduk di dekatnya, kini hanya mampu diam membisu, seolah mampu merasakan apa yang dirasakan oleh Baron. Tanpa menunggu lama, Mona langsung berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah anak itu.
"Baron kan anak baik, doakan bapak semoga tenang diatas sana," tenangnya dengan mengusap kepala si kecil, kemudian mengecup keningnya dengan lembut. Dengan hati yang sedikit teriris, wanita itu membawa tubuh mungil Baron ke dalam pelukannya.
Begitu juga dengan Edward dan Gibran, yang kini hanya mampu menatap keduanya dengan pandangan yang berbeda. Entah mengapa Edward merasa sangat menyesal, setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana malangnya nasib Baron.
"Masih ada Om Gibran dan Paman Edward, kan? Sekarang Baron boleh minta suap ke siapapun," dengan senyum tulusnya, Gibran mengusap kembali kepala Baron dan menatap ke arah mata bulat itu.
"Sekarang Baron tidak sendiri lagi, masih ada kami yang sayang sama Baron," entah mengapa Edward merasakan lidahnya menjadi kelu, setelah mengucapkan kalimat barusan. Dipandanginya wajah polos itu, sehingga membuatnya bertekad untuk menjaga Baron sebaik mungkin.
__ADS_1
"Udah yuk, diselesaikan makannya. Setelah itu kita main bareng lagi," ajak Gibran yang berusaha mengalihkan topik karena ia rasa sangat sensitif untuk si kecil.
Dengan melanjutkan untuk menyuapi Baron, Gibran terus memikirkan beberapa hal yang masih saja berputar di kepalanya. Setelah selesai, mereka mulai beranjak dan mengawasi Baron untuk beberapa saat.
"Kak, sepertinya aku sudah yakin dengan keputusanku kemarin. Bagaimana menurutmu?" ucap Gibran kepada Mona, yang saat ini mereka berdua tengah duduk di ruang keluarga, sembari menatap Baron yang asik bercanda dengan Edward.
"Kakak tahu kamu sudah dewasa, dan kakak tidak akan ikut campur dalam keputusan yang akan kau ambil. Hanya saja, jangan sampai salah mengambil keputusan, oke?" peringatnya berusaha bijak untuk menjawab pertanyaan adiknya.
Rasa hangat yang ia dapatkan ketika berdekatan dengan Arita dan juga Baron, membuat Gibran entah mengapa semakin tertarik akan kehidupan dari ibu dan anak itu. Apalagi setelah mengetahui seluk-beluk kehidupan Arita semakin jauh, membuatnya semakin mantap untuk menjaga keduanya dengan sebaik mungkin.
"Kalau memang itu keputusan kamu, kakak tidak punya hak untuk ikut campur. Untuk selanjutnya, kau harus benar-benar membuktikan ucapanmu itu. Karena kakak tidak akan segan-segan untuk menjauhkan Arita, jika kau hanya bermain-main."
__ADS_1
Seolah memiliki tanggung jawab akan staff barunya itu, Mona tidak ingin jika adiknya hanya sekedar bermain-main dengan wanita yang telah ia cari selama ini. Mengingat bahwasanya suami Arita yang telah menyelamatkannya, membuat Mona tidak ingin berbuat buruk sedikitpun pada wanita beranak satu itu.
"Tidak, aku akan membuktikan ucapanku."
Setelah mengucapkan hal itu kepada kakaknya, Gibran mulai beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamar tamu dimana Arita berada. Meninggalkan Baron bersama dengan Edward dan Mona, membuat Gibran berniat untuk menyampaikan hal serius ini kepada Arita.
"Arita?" panggil si pria begitu membuka daun pintu.
Senyumnya mulai terbit, ketika melihat wanita yang ia cari tengah bersandar di kepala ranjang dengan pandangan yang melamun ke arah depan. Sontak, lamunan wanita itu mulai buyar, ketika menyadari kehadiran Gibran.
Setelah berdiri tepat di samping ranjang, pria itu menatapnya dengan lekat. Yang tak disangka-sangka, pria itu mengucapkan hal yang membuat Arita sangat terkejut.
__ADS_1
"Biarkan aku yang menjadi ayah sambung Baron,"