Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 32


__ADS_3

Arita berdiri di ambang pintu, dengan tatapan kosongnya. Hari sudah menjelang sore, tapi putranya itu masih terlihat asik dengan teman sebayanya. Lamunan si wanita seketika buyar, begitu mendengar suara sang buah hati.


"Ibu, jangan bengong seperti itu. Ngga baik, tau ..." tuturnya sembari berjalan mendekat.


Kepalanya yang mendongak, membuat Arita harus berjongkok di hadapan tubuh si kecil. Seutas senyum kembali terbit dibibir sang wanita, sembari membelai lembut wajah rupawan tersebut.


"Ibu sedang ada problem?" tanyanya dengan suara yang terdengar khas di telinga Arita.


Bukannya menjawab, wanita itu justru menatap lekat wajah yang berada persis di hadapannya. Wajah tampan, yang sangat persis seperti almarhum suaminya. Tanpa sadar, cairan bening sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Ibu sayang Baron," Sebuah kalimat yang membuat senyum tulus kembali terbit di bibir mungil si bocah. Telapak tangan kecilnya, mengusap pipi Arita yang mulai basah.


"Baron juga sayang Ibu," Setelah berujar demikian, tangan mungil si bocah langsung mendekap erat tubuh ibunya. Dengan bertumpu pada kedua lututnya, Arita dapat merasakan pelukan hangat sang buah hati.


Saat itu juga, Arita tersenyum dengan rasa haru. Tangannya semakin memeluk erat tubuh Baron, seolah enggan untuk melepasnya.

__ADS_1


'Kurasa ... Aku tertarik padamu, Nona'


Sebuah kalimat pengakuan dari Gibran, seketika kembali terputar di benaknya. Dirinya benar-benar tak mengerti, harus berbuat apa untuk selanjutnya. Pria asing itu sungguh membuatnya terkejut.


"Ibu jangan nangis, nanti bapak sedih." Usai melepaskan pelukannya, Arita kembali tertawa kecil. Melihat wajah sang putra, membuat suasana hatinya semakin membaik.


Untuk sejenak, ia dapat melupakan beban berat yang berada di pundaknya. Sebisa mungkin, Arita berusaha mengenyahkan segala hal yang berkaitan dengan pria asing bernama Gibran itu.


"Sudah Maghrib, waktunya anak kecil masuk." Setelah menoel hidung mancung sang buah hati, wanita itu tertawa kecil melihat wajah sang buah hati. Tanpa menunggu lama, Arita menggendong tubuh Baron memasuki rumah.


Seketika itu juga, Arita tertawa lepas. Mendengar pertanyaan itu, membuat si wanita menghujani kecupan diseluruh wajah sang buah hati. Setelah menurunkan di kamar mandi, Arita menepuk sekilas puncak kepala Baron.


"Baron cuci kaki dulu, ya? Ibu siapkan sarungnya," tutur sang ibu yang dianggukki mantap oleh si kecil.


Sepeninggalan Arita dari kamar mandi, tangan mungil Baron langsung mengarahkan selang ke arah kakinya. Dengan sedikit menggosokkan telapak kakinya, bocah itu berharap agar debu yang menempel akan hilang.

__ADS_1


Langkah kaki mungil si bocah berusia 6 tahun itu, mengarah ke kamarnya dan sang ibu. Senyumnya semakin tercetak jelas, begitu melihat sang ibu sudah menyiapkan barang dan dibutuhkannya.


"Nanti sekalian ngaji juga, Nak?" tanya Arita sembari menyerahkan sarung berwarna abu-abu polos, ke tangan kecil Baron. Melihat respon dari putranya, membuat si wanita menganggukkan kepalanya.


"Baron sekalian sholat isya, Bu ..."


Seperti biasa, Arita terdiam dengan menatap lekat setiap inci wajah tampan itu. Dengan cara itu, ia dapat melihat dengan jelas sosok almarhum suaminya.


Setelah mencium tangan sang ibu, bocah dengan tinggi seperut Arita itu mulai berjalan menuju pintu depan. Diikuti oleh sang wanita, yang kini merasa gemas melihat putranya yang semakin bertumbuh besar.


Usai memantau Baron hingga memasuki pelataran mushola, wanita itu menutup kembali pintu rumahnya. Tak berselang lama setelah itu, suara adzan mulai menggema. Begitupun dengan Arita, yang kini berniat untuk segera mengambil wudhu.


Belum sempat dirinya menunaikan sholat, terdengar suara ketukan dari arah luar. Dengan alis yang berkerut, Arita berjalan mendekat ke arah ruang tamu. Benar saja, pintu rumahnya terketuk yang menandakan ada seseorang di luar.


Deg ...

__ADS_1


"Hai Arita, saya benar-benar kemari."


__ADS_2