
"Hei, kenapa wajahnya sangat mirip dengan Bayu?" ucapnya dengan raut terkejut yang sangat ketara. Tubuhnya kaku untuk beberapa saat, kemudian kakinya mulai melangkah mendekati sang adik ipar.
"Apakah kau mengenalnya, Kak?" tanya Gibran yang membuat Edward menghentikan gerakannya.
Pria berusia 35 tahun itu mengamati wajah Baron dengan sangat teliti, mulai dari ujung rambutnya hingga ujung kaki. Entah mengapa, seketika ia teringat oleh seseorang di masa lalu.
Sungguh ketidaksengajaan yang sangat mengejutkan dirinya.
"Kemarilah, Nak ..." aura kebapakan yang dimiliki oleh suami dari Mona itu, berhasil membuat Baron menganggukkan kepalanya patuh. Setelah mendongakkan kepala untuk menatap Gibran, bocah laki-laki itu melepaskan genggaman tangannya dari si pria.
"Salam paman, namaku Baron. Om Gibran yang mengajakku kemari," ucap si kecil dengan mengulurkan sebelah tangan kanannya, seolah meminta untuk bersalaman. Pria itu mulai membungkukkan tubuh, sehingga tubuhnya semakin dekat dengan si kecil.
Dengan penuh rasa kagum, Edward mengulurkan tangan kanannya sehingga bersentuhan langsung dengan tangan mungil itu. Benar saja, anak berusia 7 tahun tersebut langsung mencium punggung tangannya.
Untuk sejenak, tubuh kekar pria itu membeku saat merasakan tubuhnya yang mulai menghangat begitu si bocah mencium tangannya. Selama hidupnya 35 tahun, tak pernah ada satupun yang mencium tangannya seperti ini, kecuali sang istri.
"Kau anak yang cerdas," puji si pria dengan mengusap lembut puncak kepala anak laki-laki itu. Ditatapnya kedua netra yang masih nampak polos, sehingga membuatnya hanyut untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Terima kasih paman, aku memang cerdas."
Sontak, baik Gibran maupun Edward tertawa saat mendengar ucapan narsis anak itu. Meskipun Baron masih kecil, namun keduanya bisa melihat potensi yang dimiliki oleh anak tersebut.
Adik ipar yang berusia 10 tahun dibawahnya itu, mulai mendekat dengan tas sekolah berukuran kecil, yang Edward tebak tentu saja milik Baron. Keduanya berjalan menuju gazebo tepat di sebelah kolam, diikuti oleh langkah kaki kecil berbalutkan sepatu putih polos.
"Nama siapa yang kau sebut tadi, Kak?" tanya Gibran dengan alis yang nyaris bersatu, lantaran mengingat ucapan Edward beberapa saat lalu.
"Bayu–"
Entah mengapa, dada Gibran seketika merasa panas tatkala bibir kecil Baron menyebutkan kata 'bapak'.
"Katakan padaku, siapa nama ayahmu." Edward semakin yakin dengan tebakannya, ketika dia sendiri mendengar penuturan dari anak itu. Dengan wajah yang terlihat serius, pria itu memperhatikan kedua mata bulat di hadapannya.
"Ibu pernah bilang, nama bapak adalah Bayu Ekawira," jawab Baron yang membuat Edward menatapnya tak percaya.
Kedua tangan pria itu, memegang bahu mungil milik si kecil dan mengusapnya lembut. Matanya berkaca-kaca, kemudian hal yang tak pernah Gibran sangka-sangka, kakak iparnya itu menarik tubuh mungil Baron kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Thank you, Lord. You have helped me to atone for my sins," ucapnya penuh syukur, seolah memiliki dosa yang harus dia tebus. Direngkuhnya tubuh mungil itu semakin dalam, dan Edward pun mendaratkan beberapa kecupan di kening Baron.
"Hei, Kak ... apa yang kau lakukan?" heran adik iparnya.
Untuk beberapa saat, Gibran tak mendapati jawaban dari suami kakaknya itu. Ia hanya diam membisu, menyaksikan sikap dingin Edward yang seketika luntur saat di dekat Baron.
"Kenapa dia bisa bersamamu, Gib?" tuntut Edward seolah membutuhkan jawaban dari adik iparnya itu. Baru saja kemarin ia tiba dirumahnya dan sang istri, tiba-tiba sebuah kebetulan membawanya pada keberuntungan untuk bertemu dengan Baron secara tidak sengaja.
"Dia adalah anak dari staff notaris Kak Mona," paparnya sehingga membuat Edward kembali tidak menyangka.
"Staff? Yang mana?" cicitnya bingung. 8 tahun dirinya menikah dengan Mona, yang ia tahu bahwa staff yang ada di kantor notaris istrinya hanya berjumlah 3 orang. Tak sedikit pula ia mengenal mereka, karena cerita dari sang istri.
"Kak Mona menambah satu staff baru, dan dia adalah ibu dari Baron. Ada apa memangnya?" jelas Gibran yang membuat Edward menganggukkan kepalanya paham. "Apakah kau mengenal mereka?" tanyanya lagi seolah membutuhkan penjelasan.
"Aku hanya mengenal Bayu saja ... Dia adalah pria yang menolongku saat kecelakaan 3 tahun lalu," akunya yang membuat Gibran terkejut bukan main. Begitupun dengan Baron, yang mencoba untuk mengerti perbincangan kedua orang dewasa itu.
"Ed, Gib, tolong bantu aku!" teriak Mona dari arah luar.
__ADS_1