Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 37


__ADS_3

"Mbak, apa ndak merepotkan kalau Baron berangkat sekalian?" tanya Arita yang terdengar masih ragu. Sedangkan wanita yang sudah menggandeng tangan Baron dan putranya itu, tertawa geli atas pertanyaan yang diajukan oleh tetangga barunya itu.


"Kamu santai aja, Ta. Jangan dianggap beban, setiap kali aku antar jemput anak-anak. Lagi pula mereka satu kelas, kan?" paparnya yang membuat Arita menganggukkan kepalanya ragu. Tetap saja, istri dari mendiang Bayu itu, merasa sungkan.


"Mbak sudah maklum kalau sikap kamu begini, Ta. Kalian orang kota, yang otomatis apa-apa harus dijalani sendiri," akunya sembari menatap wajah lembut milik Arita.


"Tapi kan, sekarang kalian sudah di kampung. Bantu-membantu sudah hal biasa disini," ucapnya dengan mengelus pundak milik Arita. "Kamu tau sendiri, kan? Orang kampung itu hobinya merecoki tetangganya," lanjut si wanita dengan berbisik kecil.


"Tapi yo tergantung, Mbak ... merecoki dalam hal apa dulu," imbuh Arita yang membuat keduanya tertawa bersamaan. Kini, Arita mulai kembali terbiasa dengan logat jawanya.


"Udah, buruan siap-siap sana. Setengah delapan kamu harus kerja, kan?" usirnya yang terselipkan sebuah candaan untuk tetangga barunya. Usai Arita mengiyakan, wanita yang selalu dipanggil 'bude' oleh Baron itupun segera menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Mbak ... Baron jangan nakal di sekolah, oke?" peringatnya sembari menyalami kedua bocah yang sudah nampak rapi dengan seragamnya.


Arita masih berdiri di pelataran rumahnya, hingga kendaraan milik tetangganya itu mulai menghilang dari pandangannya. Setelahnya, wanita itu memasuki rumah dan bergegas untuk bersiap-siap sebelum dirinya bekerja.


"Arita, tolong sampai kantor sebelum jam setengah delapan ya?" ucapnya sembari membaca sebuah pesan yang masuk di ponselnya. Mendapati hal itupun, membuat Arita terperanjat kaget dibuatnya. Mona baru mengabarinya 5 menit lalu.


Tanpa menunggu lebih lama, setelah membalas pesan dari atasannya, wanita itu segera melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut. Tak butuh waktu lama, Arita sudah siap untuk berangkat ke kantor notaris milik Monalisa.


"Kuncinya aku titip ke Bude Arum aja kali, ya?" gumamnya bertanya pada diri sendiri sembari mengunci pintu rumahnya. Setelah mengeluarkan sepeda vintage-nya dari garasi, wanita itu segera berangkat.


"Iya yaudah, nanti tak bantu," respon Bude Arum begitu Arita meminta tolong padanya. Meski keduanya baru saja kenal, tak membuat Arita dan Arum saling sungkan untuk sekedar meminta bantuan.

__ADS_1


"Rita berangkat dulu ya, Bude?" pamitnya yang dianggukki oleh Arum saat itu juga.


Tanpa menunggu lama, Arita segera mengayuh sepedanya menuju kantor tempatnya bekerja. Beberapa warga setempat menyapa dirinya dengan sangat hangat. Hal itulah yang membuat Arita merasa bersyukur meski kini kehidupannya berubah drastis.


"Jam berapa ini?" monolognya sembari menilik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Begitu waktu masih menunjukkan pukul 07.05 membuat Arita mengembuskan napasnya lega.


Melihat mobil milik Mona yang sudah terparkir rapi, membuat wanita itu segera memasuki bangunan yang nampak elegan dengan dominan berwarna putih. Mungkin karena ini adalah hari pertamanya kerja, sehingga Mona memintanya untuk datang lebih awal.


Benar saja, tak ada satupun staff yang hadir di pagi itu. Mungkin, mereka akan tiba pukul setengah delapan nanti sesuai jam buka kantor. Setelah meletakkan tasnya di meja kerja, Arita menuju ke arah ruangan milik sang atasan sesuai dengan permintaannya.


"Pagi, Arita ..." sapa sang atasan yang sudah nampak segar dengan hem berwarna putih formalnya. Sebuah ikat pinggang dengan merk terkenal, melingkar manis di perut rata wanita itu.

__ADS_1


"Pagi juga, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tawarnya yang disambut senyum kagum dari Mona. Setelahnya, wanita berusia 30 tahun itu menggelangkan kepalanya.


"Tidak ada, hanya saja aku ingin mengajakmu untuk bertemu dengan klien pagi ini. Kita sekalian survei lokasi, ya?"


__ADS_2