
"Perempuan emang gitu, ya? Baperan," cibir si pria dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Kedua tangannya terlipat didepan dada, sembari menatap Arita melalui ekor matanya.
"Nggak usah banyak omong," sahutnya lantaran tak terima akan penuturan Gibran. Ketika Arita hendak mengangkat nampan di hadapannya, dengan cepat Gibran langsung mengambil alih.
"Kebiasaan, apa-apa seenaknya," sindirnya lagi sehingga membuat tawa si pria mulai terdengar. Keduanya berjalan beriringan dari arah pantry kantor, menuju ruang tengah.
"Aduh-aduh ... makin kompak ya," seru salah satu dari mereka yang membuat Arita mengerutkan kening.
Dijam istirahat, semua staff diminta oleh Mona untuk berkumpul diruang tengah, yang biasanya digunakan untuk ruang tunggu klien. Begitupun dengan sang atasan, yang kini duduk bersebelahan bersama suaminya–Edward.
"Kompak gimana, Mbak? Dia sendiri yang nyusul aku ke pantry, terus bawain nampannya. Cuma bantuin aku, nggak lebih ..." alibinya yang tidak ingin terlalu berlebihan. Toh memang benar, jika Gibran hanya membantunya saja.
Setelah tadi pagi dihebohkan oleh ucapan Gibran yang ia anggap melantur, Arita tidak lagi membuka suaranya hingga siang hari menjelang. Hal itulah yang membuat ketiga rekan kerjanya terheran-heran. Terutama Gibran, yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"Letakkan disini saja, Gib," titah sang kakak ipar yang dianggukki oleh Gibran. Dengan pakaian santainya, suami dari Mona itupun menyempatkan waktu untuk menyusul sang istri ke kantor notaris milik wanitanya.
"Tumben banget ada agenda dadakan begini. Ada acara apa, Pak, Bu?" tanya Tiffani dengan raut wajah penasarannya sejak tadi. Begitupun dengan ketiga staffnya yang lain, kini pun menatap ke arah Mona dan Edward usai mendudukkan tubuhnya di sofa yang berjajar di sekeliling meja besar.
"Nggak ada acara apa-apa. Pingin ngumpul aja sama kalian," respon Mona yang sangat santai justru membuat ketiga staff lamanya melongo tidak percaya. Iseng, katanya. Ah ya, mungkin saja karena hari ini tidak ada klien tambahan, sehingga membuat Mona ingin menikmati waktu senggangnya.
"Lagipula mumpung suami saya masih free, makanya saya ajak ngumpul bareng kalian." Alasan dari wanita sukses itu, mampu membuat mereka semua masih tidak percaya, staff wanita itu lebih tepatnya. "Kalian juga salah satu faktor yang melatarbelakangi kantor notaris dan PPAT milik saya bisa berkembang se-pesat ini."
__ADS_1
Tak ada maksud lain dari wanita itu. Karena Mona baru menyadari, bahwasannya memperhatikan staffnya lebih detil, ternyata tidak seburuk itu. Bahkan dari hak tersebutlah ia belajar, bahwasannya kesuksesan yang ia raih, tidak akan terwujud jika para staffnya tidak ambil alih.
"Apalagi sekarang ada Arita, yang sudah bergabung dengan kita semua. Berharap, semoga tidak ada jarak antara saya dan kalian semua. Jangan anggap saya sebagai atasan. Tapi, anggap saya sebagai rekan kerja kalian juga," pesannya dengan menatap keempat perempuan di hadapannya.
Dalam diamnya, Arita bisa merasakan sifat hangat Mona yang baru saja ia ketahui. Sejauh ini, Arita hanya mengetahui sifat dewasa nan tegas dari sang atasan.
"Udah ah, sekarang makan siang dulu," ajak Mona.
"Enjoy your lunch," ucap Edward sembari mendekatkan makanan miliknya. Setelah itu, mereka semua mulai menyantap beberapa makanan yang telah dipesankan oleh Mona. Dan kebetulan, waktu istirahat kali ini dihabiskan oleh mereka untuk saling berbincang santai.
Sementara itu, Gibran mengalihkan pandangannya ke arah Arita. Melihat wanita itu masih menikmati makanannya, membuat si pria memanggilnya sejenak. Melalui matanya, Gibran menanyakan sesuatu pada wanita itu.
"Nggak usah, Baron dijemput sekalian sama Mbak Arum," cegahnya seraya berbisik. Dengan bertutupkan tangannya, Arita berbicara pelan ke arah Gibran supaya yang lainnya tidak mendengar percakapan mereka.
Sontak, Arita mendelik tak percaya oleh tindakan pria itu. Setelah mengetahui jika Baron pulang siang, membuat Gibran tetap kekeuh untuk menjemput putranya. Seperti saat ini, Gibran sudah lebih dulu keluar dari kantor hanya dengan membawa kunci mobilnya, meninggalkan ponsel miliknya di atas meja.
"Mau kemana dia?" tanya Edward bingung. Begitu sang istri menggelengkan kepala serta menggedikkan bahu, membuat pria itu menatap sejenak kepergian mobil sang adik ipar dari parkiran kantor.
"Oh iya, ngomong-ngomong nih, Bu ... sebentar lagi saya menikah. Kalau saya undang bapak dan ibu, apakah tidak apa-apa? Tapi jika ibu keberatan, tidak us–"
"Nggak apa-apa, dong. Nanti saya dan suami saya pasti datang," tukas si wanita dengan cepat. Mau bagaimanapun, Mona sudah menganggap ketiga staffnya sebagai keluarga. Pun hal tersebut berlaku pada Arita, yang sudah Mona anggap sebagai adik sendiri.
__ADS_1
"Kita-kita nggak diundang, Tif?" tanya seniornya yang membuat si gadis terkekeh sejenak. Seolah teringat sesuatu, Tiffani bangkit dari duduknya menuju ke arah meja kerja yang biasa ia tempati. Ketika kembali, ditangan gadis itu terdapat 5 buah undangan berwarna broken white.
"Ini undangan untuk bapak dan ibu," ucapnya memberikan pada Mona.
"Yang ini untuk Mas Gibran," susulnya lagi dengan memberikan sebuah undangan milik Gibran. Dengan senyumnya, Mona menerima kedua undangan itu seraya menganggukkan kepala. Begitupun pada Arita dan kefua seniornya, Tiffani memberikan hal yang sama.
"Loh, besok minggu? Kok mepet banget, Tif?" tanya Arita.
"Aku lupa setiap kali mau bawa ke kantor, Mbak. Maklum, banyak pikiran," si gadis mengeles dengan candaannya sehingga membuat mereka semua terkekeh geli. Tak berselang lama, suara mobil milik Gibran mulai memasuki area kantor, sehingga membuat Arita melipat bibirnya kedalam dengan cemas.
"Di luar panas banget, boy ..." keluh si pria dengan menggendong seorang anak laki-laki dengan begitu mudahnya. Menggunakan sebelah tangannya saja, pria itu nampaknya tidak keberatan oleh sosok kecil tersebut.
"Ibu," sapa si kecil dengan girang.
Sontak, ketiga perempuan yang merupakan rekan kerja Arita pun merasa terkejut. Mereka sama sekali tidak mengerti, bahwasannya Arita memiliki seorang anak. Dan yang mengejutkan, ketika Baron diturunkan dari gendongan Gibran, anak itu langsung mencium punggung tangan semua orang.
Tiba ketika ia menyalami sang ibu, Arita tersenyum kecil melihat kebiasaan manis dari putra kecilnya.
"How's your day? Are you happy?" pertanyaan rutin yang selalu Arita ajukan, setiap kali putranya pulang dari sekolah. Dan hal itulah yang membuat semua orang merasa kagum oleh interaksi ibu dan anak tersebut.
"Apakah ini putramu, Ta?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Dia calon putraku juga,"