
"Biarkan aku yang mengantarmu kembali, Nona. Anggap saja sebagai permintaan maaf," ucap Gibran dengan mengepulkan asap rokoknya ke udara. Pria itu berbalik badan, sehingga dirinya menatap penuh ke arah sang kakak dan juga Arita yang sudah di ambang pintu.
Mona lantas terdiam, begitu mendengar tawaran sang adik yang ditujukan pada Arita. Matanya sontak menelisik wanita itu, dari atas hingga bawah. Kemudian ia mengulas senyum yang tak disadari oleh wanita itu maupun Gibran.
"Terima kasih atas kemurahan hatimu, Tuan. Tapi, saya sudah memaafkan ketidak sengajaanmu. Jadi, kau tak perlu mengantarku hanya untuk meminta maaf. Semua sudah clear, bukan?"
Mendengar penolakan halus dari wanita itu, lantas membuat Gibran sedikit tak menyangka. Untuk yang pertama kalinya, ia mendapatkan penolakan dari seorang wanita. Ah tidak, ia mendapatkan penolakan untuk yang ketiga kalinya dari wanita itu.
"Ada apa denganmu, Gib?" tanya sang kakak dengan pandangan yang sangat Gibran mengerti. Seutas senyum tipis, nampak menertawakan dirinya yang mendapatkan penolakan dari Arita.
"Kau yakin? Setidaknya biarkan adikku yang mengantarmu," bujuk Mona yang mulai berusaha untuk membantu Gibran. Melihat wajah masam pria itu, membuat Mona berusaha menahan tawanya. Sepertinya, akan menjadikan hal ini sebagai bahan bully-an untuk pria itu nantinya.
__ADS_1
Untuk yang kedua kalinya, Arita kembali menggelengkan kepala. Sebuah senyum tipis dengan mata teduh itu, menatap lembut ke arah Mona.
"Terima kasih sekali lagi, Bu. Saya tidak berniat untuk menolak rezeki, namun saya memang benar-benar bisa melakukannya sendiri. Tenanglah, jangan khawatirkan saya."
Setelah mendengar penolakan Arita untuk yang kesekian kalinya, akhirnya si pria pun menganggukkan kepalanya singkat. Ia berputar ke arah pembatas kaca, seolah kembali fokus dengan dunianya sendiri. Hal tersebut yang membuat Mona mengulas senyum canggung.
Ah, adiknya itu sangat terlihat agresif.
"Terima kasih banyak, Bu Mona. Saya permisi dulu," pamit si wanita yang disambut anggukkan kepala dan pelukan singkat dari sang atasan. Setelahnya, Arita benar-benar melangkahkan kakinya dengan mantap. Meninggalkan seorang pria, yang memandangi punggungnya dari dalam ruangan.
"Sepertinya akan sulit mendekatinya," gumam pria bertubuh kekar itu dengan menghisap kembali rokoknya.
__ADS_1
Ketika merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang, Gibran langsung menolehkan kepalanya. Mendapati sang kakak yang menatap remeh ke arahnya, membuat pria itu merotasikan kedua matanya.
"Duduklah, adik kecilku. Sepertinya kita perlu berbincang," ucapnya santai sembari mendudukkan tubuhnya di kursi khusus untuk menerima tamu. Meski merasa enggan dengan sikap menyebalkan sang kakak, Gibran tetap menurutinya.
Punggung kekar pria itu, bersandar nyaman dengan kepala yang mendongak.
Tangannya menggulung lengan kemeja hingga sebatas siku, sehingga menampakkan sebuah tatto yang tergambar jelas di lengan kanannya. Pria itu juga mengendurkan dasi hitamnya yang entah mengapa terasa begitu mencekik lehernya.
"Hei, lihatlah dirimu ini. Terlihat sangat kacau, hanya karena satu perempuan. Apakah ini benar-benar Gibran Daniswara yang kukenal?" sindir Mona dengan menatap remeh ke arah sang adik.
Entah mengapa, ucapan wanita itu terasa sangat menohok. Matanya terpejam dengan rapat, merasakan getaran aneh yang baru ia rasakan kali ini. Ia juga tak mengerti, bagaimana perasaannya yang sesungguhnya. Entah mengapa, dunianya terombang-ambing begitu dirinya bertemu dengan Arita.
__ADS_1
"Apakah kau memiliki rasa padanya?"