
"Loh, ngapain kesini Gib?" tanya Arita dengan spontan tatkala merasakan seseorang berdiri tepat di belakang tubuhnya. Mendengar suara yang telah familiar ditelinganya, membuat Arita langsung mengetahuinya.
"Eits ... santai, Ar. Langsung ngegas gitu perasaan," sindir pria tersebut sehingga membuat Arita saling pandang dengan Tiffani. Kemudian, mereka berdua bubar dan kembali ke meja masing-masing.
"Lah, langsung bubar? Padahal baru mau join," ucap si pria dengan menatap kearah dua perempuan tersebut.
Sedangkan Arita dan Tiffani, keduanya langsung menyalakan komputer mereka masing-masing. Sontak, mendapati Arita yang mengacuhkan keberadaannya pun, membuat Gibran mendekat ke arah meja kerja si wanita.
"Tadi gosip apa, Ar?" tanya Gibran berusaha sok akrab.
Menyaksikan hal itupun, membuat Tiffani berusaha menahan tawanya mati-matian. Untuk yang pertama kalinya, Tiffani mengetahui sifat Gibran yang satu ini, setelah 2 tahun mengenal pria itu.
"Kamu laki-laki, kan? Kenapa ikutan ngegosip?" sarkas si wanita yang membuat Gibran langsung kicep. Sementara itu, Tiffani tidak bisa menahan tawanya lagi. Sehingga gadis itu terbahak-bahak mendengar sahutan dari Arita untuk Gibran.
"Nggak usah kepo," lanjutnya lagi.
Kedatangan kedua staff lainnya, membuat mereka heran begitu melihat Tiffani yang tertawa lepas. Begitu pula saat melihat keberadaan Gibran di kantor sepagi ini, membuat keduanya bertanya-tanya dalam hati.
"Eh, ada Mas Gibran ternyata. Selamat pagi, Mas ..." sapa kedua wanita yang merupakan staff lama kantor notaris tersebut.
Sebagai respon, adik Mona satu-satunya itu lantas mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu, yang letaknya berseberangan dengan meja kerja para staff kakaknya. Melalui ekor matanya, ia bisa melihat dengan jelas wajah Arita yang mulai sumringah.
"Gimana seharian kemarin, Ar? Semua lancar, kan?" tanya salah seorang rekan kerjanya, yang membuat sang empunya nama langsung menoleh ke arah samping.
Dalam hatinya, Gibran sempat menggerutu tatkala melihat ekspresi wajah Arita yang seketika berubah begitu komunikasi dengan yang lain. Sedangkan saat bersama dengannya, wanita itu selalu menunjukkan wajah judesnya.
__ADS_1
"Lancar dong, Mbak. Bisa dipastikan semua aman," sahutnya yang membuat kedua wanita berhijab itu turut tersenyum lega. Mereka pun mengakui kehebatan Arita yang bisa menaklukan klien unik sang atasan.
Seperti biasa, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 8, keempatnya mulai mengerjakan tugasnya masing-masing. Begitupun dengan Gibran, yang kini nampak sibuk oleh ponsel yang berada di tangannya.
Tak hanya Arita, ketiga staff Mona yang lain pun, tidak mengetahui alasan pria itu berada di kantor sang kakak. Meskipun tidak masalah dan sah-sah saja, namun ketiganya merasa heran lantaran sebelum-sebelumnya Gibran tidak pernah melakukan hal tersebut.
"Ar, boleh aku minta tolong?" pinta si pria.
Sontak, ibu satu anak itu mendelik dengan posisi kepala yang menatap ke arah layar komputer. Kemudian, Arita mengumpat dalam hati ketika Gibran harus meminta tolong padanya.
Dengan wajah sungkan, wanita itu menatap ke arah rekan kerjanya. Begitu mendapati anggukkan dari ketiganya, sehingga membuat Arita sedikit berdecak sebal oleh permintaan pria itu. Meski begitu, Arita segera beranjak dari duduknya.
Pikiran mereka langsung tertuju pada Arita, yang sepertinya berhasil menarik perhatian Gibran. Tak ada pemikiran aneh-aneh yang muncul di benak ketiganya. Justru mereka merasa lumrah, karena pada dasarnya, Arita memang memiliki paras yang paling rupawan.
"Apakah kau bisa membantuku untuk meneliti datanya?" tanya Gibran yang benar-benar membutuhkan bantuan wanita itu.
"Hei, aku masih berusia 25 tahun. Dan aku bukan bapakmu" sahut si pria dengan begitu sewot, sehingga mengundang tawa ketiga perempuan yang memperhatikan komunikasi mereka berdua.
Ketika Gibran menatap ke arah mereka dengan alis yang tertekuk, membuat ketiganya langsung menghentikan tawa disaat itu juga. Setelahnya, ia kembali menatap wajah Arita.
"Aku tidak peduli, dan aku tidak menanyakan hal itu," sarkas si wanita dengan merebut ponsel berlogo apel milik si pria. Sedangkan Gibran, pria itu tercengang oleh sikap dan perkataan dari wanita yang duduk di sebelahnya.
Sementara ketiga staff Mona yang lainnya, mereka dibuat takjub oleh perilaku Arita yang terlihat sangat berani. Namun, mereka juga bisa melihat dengan jelas wajah pasrah dari Gibran yang seolah manut-manut saja akan tindakan si wanita.
"Wah, cinlok ini ..." bisik wanita dengan hijab pashmina-nya pada kedua rekannya. Sebuah anggukkan mantap ia dapatkan, sehingga membuatnya berusaha untuk fokus. Namun sayang, gerak-gerik pasangan di depan mereka, justru membuat gagal fokus.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, justru seharusnya kita dukung," ucap Tiffani yang membuat keduanya terkikik geli. Namun tak berselang lama, mendapati tatapan dari Gibran, kembali membuat mereka langsung terdiam.
"Oh kalau ini, coba dibandingkan dengan data bulan sebelumnya. Setidaknya bisa diprediksi apakah bulan ini ada penaikan atau justru malah terjadi penurunan," paparnya dengan meletakkan ponsel milik Gibran di atas meja.
"Oke kalau begitu, nanti saya kirimkan data sebelumnya. Saya minta bantuan kamu untuk cek," ungkapnya sehingga membuat Arita melongo.
"Loh, saya disini sebagai staff dari Bu Mona. Bukan sekretaris Anda pak," sahutnya yang menyiratkan bahwa dirinya tidak terima akan hal tersebut. Mendengar hal tersebut, justru membuat Gibran mengetuk singkat dahi si wanita menggunakan jari telunjuknya.
"Justru aku disuruh Kak Mona," akunya berusaha membela dirinya sendiri.
Ketika mendapati alasan dari pria itupun, lantas membuat Arita seakan tidak percaya pada ucapan Gibran. Seolah mengerti jalan pikiran dari Arita, membuat Gibran lantas menunjukkan pesan dari sang kakak.
"Ya ya ya, sepertinya kau menggunakan kesempatan ini," ucapnya bernada rendah, sehingga Arita bisa pastikan bahwa hanya dirinya dan Gibran saja yang dapat mendengar ucapan tersebut. "Lihat saja nanti," ancam si wanita yang kemudian beranjak dari sana.
"Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Syukurlah jika Anda berkenan menunggu. Namun jika tidak, Anda bisa meminta tolong pada orang lain," ucap Arita setelah mendudukkan tubuhnya.
"Oh tenang saja ... Saya akan menunggu Anda selesai dengan senang hati, Ibu Arita."
Keduanya tak menyadari, bahwasannya ketiga perempuan yang disibukkan oleh setumpuk berkas itu, berusaha menahan senyum agar tidak mengembang. Sungguh, mereka tidak menyangka jika Gibran menunjukkan sisi lainnya ketika bertemu dengan Arita.
"Mbak, ini berkas kemarin aku antar ke ruangan Bu Mona, nggak papa?" tanya Arita dengan bahasa santainya.
"Nggak papa, Ta. Lagipula itu berkasnya harus ditandatangani ibu," sahut salah satunya sehingga membuat Arita lekas beranjak dari duduknya. Dengan membawa sebuah stopmap, wanita itu berjalan menuju ruangan Mona.
Mendapati sang atasan yang belum tiba di kantor, membuat Arita tak ingin berlama-lama di dalam ruangan pribadi milik Mona. Setelah meletakkan berkas tersebut, Arita berjalan keluar dan tak lupa menutup pintu berbahan kaca.
__ADS_1
Namun, jantungnya seakan terlepas, Arita dikejutkan oleh Gibran yang sudah berdiri dengan jarak 2 meter di depannya. Sontak, mendapati hal itu membuatnya mengelus dadanya dengan jantung berdebar hebat.
"Ar, Baron pulang sekolahnya jam berapa? Nanti biar aku yang jemput dia,"