Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 35


__ADS_3

"Banyak gadis yang pantas untukmu, Tuan. Lupakan aku, dan alihkan atensimu dariku," tegas si wanita yang tak ingin ada keterlibatan lebih jauh dengan sosok tegap di sebelahnya itu.


"Sepertinya itu akan sangat sulit," jawabnya tanpa berpikir panjang. Arita benar-benar tak habis pikir oleh pria asing itu. Bahkan sudah jelas Gibran mengetahui statusnya, namun hal itu nampaknya tak membuat pria bermata kelam itu menyerah.


Dalam kondisi yang saling bungkam, keduanya saling bertatap dengan pandangan yang tersirat akan keraguan.


"Dari pada semuanya sia-sia, lebih baik kau jangan terlalu mengusik diriku dan putraku. Aku tak ingin kau terlibat semakin jauh," larangnya yang membuat Gibran melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya kembali melayang jauh ke depan sana.


"Bukankah larangan adalah sebuah perintah?" tuturnya dengan sangat keras kepala sehingga membuat Arita menghembuskan napasnya kasar.


"Jangan terlalu mengeyel, Gib ... Kau yang akan menanggung resikonya sendiri," tegasnya sekali lagi dengan menyebutkan nama dari pria itu. Dan tentu saja Gibran terkejut, saat mendengar Arita pertama kalinya menyebutkan namanya.


"Apakah kau pikir aku akan menyerah, hanya karena kau mengatakan semua hal ini? Sepertinya kau salah besar, Nona Arita. Aku akan mengejar tujuanku sejak awal,"

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, membuat Arita mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Kemudian dielusnya lengan bagian atas yang terbalut oleh sebuah cardigan, sehingga membuat Gibran menyadari rasa cemas yang melanda si wanita.


"Jangan berekspektasi terlalu tinggi, Gib. Kau hanya tertarik padaku ... dan aku yakin, itu hanya sementara," sanggahnya begitu yakin, seakan tak ingin menanggung perasaan pria itu di pundaknya.


Mengetahui sifat Arita yang ternyata sangat keras kepala, membuat Gibran menghela napasnya panjang. Entah kenapa, ia pun merasa heran saat dirinya memiliki rasa yang tak bisa ia jelaskan. Tentunya pada Arita, ibu satu anak yang ia kira seorang gadis polos.


"Kau berani taruhan denganku, Ar?" tawarnya iseng.


"Jika kau benar, maka kau berhak meminta satu hal padaku. Apapun itu," sanggupnya yang membuat Arita hanya menganggukkan kepalanya singkat. "Tapi jika aku yang benar, kau harus menjadi istriku. Bagaimana, adil bukan?"


Arita yang merasa dibodohi pun, mendelik tak percaya akan ucapan konyol dari pria tersebut. Ketika akan membantah, Gibran justru menyelonong santai ke arah meja kecil, dimana sebuah cangkir tergeletak di atasnya.


"Tidak ada tawar-menawar, ini bukan pasar. Paham, Ibu Arita?" sindir si pria yang membuat ia tak habis pikir.

__ADS_1


"Aku yang akan menang, lihat saja nanti ..." ucapnya sadis lantaran tak menyukai cara Gibran membodohi dirinya tadi. Namun tak munafik, Arita mulai terbiasa akan kehadiran pria asing yang kini selalu membuntuti kemanapun dirinya pergi.


"Jangan terlalu percaya diri, Nona. Kau yang akan malu jika tebakanmu salah," sindirnya yang lagi dan lagi membuat Arita tertawa meremehkan. Belum sempat wanita itu menyahuti, sebuah suara memanggil dirinya dari dalam rumah.


"Aku tinggal dulu," ucapnya singkat memasuki rumah.


Sedangkan Gibran yang kebetulan melihat jam tangan miliknya telah menunjukkan pukul tujuh kurang, membuat pria itu teringat akan janjinya dengan sang kakak ipar di rumah. Berulang kali Gibran memanggil Arita untuk pamit, tak kunjung wanita itu keluar menghampiri.


"Ah sudahlah, aku akan masuk sebentar saja ..."


Tak lupa membawa cangkir tadi, Gibran memasuki rumah sederhana itu dengan niatan baik. Namun ketika dirinya tiba di ruang tengah, dengan jelas ia bisa menyaksikan betapa sabarnya Arita membantu Baron menyelesaikan tugasnya.


"Eh ada Om Gibran, Baron boleh minta tolong bantuin ibu?"

__ADS_1


__ADS_2