
"Tidak apa-apa, Nona. Justru suaramu sudah menjadi candu untukku," ucap Gibran yang membuat Arita langsung menoleh ke arahnya. Wanita itu menatap lekat si pria, yang nampak fokus dengan jalanan di depannya.
"Apa yang kau maksud? Apakah kau salah bicara?" tanya Arita dengan nada yang menuntut sebuah jawaban. Tubuh wanita itu menghadap sempurna ke arah samping, dimana Gibran berada.
Tak langsung menjawab, pria itu masih fokus mengendarai mobilnya. Hingga tak terasa, keduanya sudah tiba di halaman kantor notaris milik Mona.
"Tentu saja aku tak salah bicara. Adakah yang salah?" Masih dengan mesin mobil yang menyala, pria itu melipat kedua tangannya di depan dada. Setelah menyandarkan tubuhnya, Gibran menatap wajah cantik itu.
"Kurasa ... kau sedang mengigau Tuan," Arita menggelengkan kepalanya melihat sikap pria di sebelahnya ini. Namun, ucapan Gibran yang selanjutnya, justru membuat tubuh Arita membeku.
"Karena kau, berbeda dengan perempuan lain."
Bukannya merasa tersanjung akan ucapan pria itu, Arita malah terkekeh ringan. Jari telunjuk wanita itu menunjuk ke arah dadanya, dengan tatapan bingung. Dengan senyum kecil dibibirnya, Gibran menganggukkan kepala.
"Ya, kau benar-benar berbeda dari mereka."
__ADS_1
Untuk sejenak, Arita terdiam sembari mencerna perkataan pria itu. Sedangkan Gibran, lantas semakin menatap lekat sosok yang selama ini selalu berada dibenaknya. Pria itu benar-benar merasa beruntung, bisa menatap wajah sayu wanita itu dari jarak dekat.
"Tentu saja kita berbeda," sahut Arita setelah beberapa saat terdiam. Lantas, wanita itu mulai bergerak untuk membuka pintu mobil. "Bagaimana bisa, semua wanita disama ratakan?"
Begitu tersadar dari lamunannya, Gibran melihat si wanita yang sudah menuruni mobil. Dengan wajah kagum setelah menatap wajah Arita, pria itu masih terdiam di posisinya.
"Terima kasih atas tumpangannya, Tuan."
Pria itu sepenuhnya tersadar, dan menahan supaya pintu mobilnya tak tertutup. Dengan wajah yang menyiratkan keseriusan, ia menatap lekat manik mata si wanita yang sudah berdiri di luar.
"Kurasa ... Aku tertarik padamu, Nona." Arita yang semula berniat untuk beranjak itu pun, langsung membeku di tempatnya. Lututnya seketika melemas, begitu mendengar penuturan pria berkaca mata hitam itu.
"Sifatmu-lah, yang membuatku tertarik. Izinkan aku mengenalmu lebih jauh lagi, Arita ..."
Tanpa membuka suara, Arita langsung beranjak dari sana, meninggalkan Gibran yang menatap kepergiannya dengan tatapan nanar. Setelahnya, pria itu langsung memukul stir mobil dengan amarah.
__ADS_1
"Aargh! Kenapa ngomong gitu, sih?" geram si pria dengan memukul kemudinya. Kemudian, Gibran lantas turun dengan ponsel yang berada di genggamannya.
Melihat punggung wanita yang sudah membuatnya tertarik, membuat pria itu lantas melepaskan kaca mata yang bertengger manis di hidungnya. Kemudian, ia mendial nomor sang kakak untuk menyampaikan niatnya.
Sedangkan Arita, wanita itu langsung memasuki kantor dengan perasaan yang campur aduk. Tanpa sadar, kedua tangannya terkepal kuat dengan kepala yang tertunduk. Ketiga rekan kerjanya pun, lantas mengerutkan alis melihat raut wajahnya.
"Ar, kamu kenapa?" tanya salah seorang dari mereka.
Tanpa membuka suara, wanita itu menggelengkan kepala dengan seutas senyum yang terlihat sangat dipaksakan. Mengetahui hal itupun, ketiganya lantas memberikan ruang untuk Arita dengan beranjak ke ruangan lain.
"Apa yang dia ucapkan tadi," lirihnya dengan pikiran yang ragu. Pandangannya mulai kosong, dengan kaki yang terasa lemas.
Setelah mendudukkan tubuhnya di kursi kerja miliknya, Arita melipat kedua lengannya di atas meja. Kepalanya tertunduk, menghabiskan waktunya untuk termenung.
"Tuhan, aku tidak menginginkan semua ini ..." bisik sang wanita dengan menekan kuat dadanya. Tanpa sadar, wanita itu mulai merasakan cairan bening yang menetes hingga membasahi celana miliknya.
__ADS_1
Arita benar-benar tak menyangka, bahwa pria asing yang tak sengaja berjumpa dengannya, ternyata menyimpan rasa kepada dirinya. Selama ini, ia sangat menghindari seorang pria, demi sang suami. Tapi Gibran, pria itu sangat membuatnya terkejut.
Hingga pada akhirnya, wanita itu merasakan usapan lembut di kepalanya. "Jangan terlalu dipikirkan Nona."