Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 74


__ADS_3

"Sudah, ya? Sekarang waktunya Baron istirahat," ucap Arita berusaha untuk menidurkan putranya di atas dinginnya brankar rumah sakit.


Setelah dipindahkan di ruangan yang sama dengan sang ibu, anak itu nampak lebih manja dari pada sebelumnya. Kini, Baron masih belum memejamkan mata meskipun jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Bisakah aku minta tolong padamu? Tambahkan satu bantal disini," pinta Arita kepada Riko yang saat ini masih berada di ruangan yang sama dengannya. Disertai oleh kedua anak buahnya yang menjaga di luar ruangan, pria itu masih stand by menjaga Arita.


Melihat salah satu lengan Arita digunakan sebagai bantalan oleh Baron, membuat Riko menganggukkan kepalanya.


"Angkat sedikit kepalamu," titah si pria yang diikuti oleh Arita tanpa sedikitpun bantahan. Dibantu oleh Riko, wanita itu mengangkat kepalanya untuk menambahkan bantal di bawah lehernya.


"Terima kasih," ucap si wanita setelah merasa nyaman. Usai Riko menjauh dari ranjang, membuat Arita menatapnya sekilas hanya untuk memastikan saja.


"Kau tidak tidur? Sepertinya kalian butuh istirahat," tanya Arita mengingat kembali betapa kerasnya pria itu untuk membantunya menyelamatkan Baron sejak sore tadi. Sementara si kecil, kini turut menatapnya dengan wajah yang terlihat sangat mengantuk.


Sementara Riko, pria itu justru mendudukkan tubuhnya di atas sofa dengan begitu santainya. Hal itulah yang membuat Arita keheranan oleh sikap Riko yang seolah tak ada lelahnya. "Kau mendengarku?" tanya Arita sekali lagi.


"Jika kau mengantuk, tidurlah. Tidak usah banyak mengoceh," sahut si pria membuka suara. Mendapati nada judes dari pria itu, tentu saja membuat Arita merasa aneh.


"Ya sudah jika begitu, terserah padamu saja," ucap Arita berusaha untuk mengakhiri perbincangan dengan pria itu. Tak lama setelahnya, ia mulai memejamkan matanya dengan Baron yang tertidur di sebelahnya. Begitu pun dengan Riko yang sudah mulai fokus kembali dengan ponselnya.


Namun, Arita masih belum bisa memejamkan matanya dengan rapat. Mengingat bayang-bayang dari Danu yang masih terekam jelas di ingatannya, membuat Arita masih bergidik ngeri. Ditambah lagi, ia juga kepikiran dengan sosok pria yang sudah membantunya menyelamatkan Baron.


"Sekedar saran, bagaimana jika kalian mencari penginapan di dekat sini?" usul si wanita tanpa membuka mata. Sontak, Riko pun mengangkat kedua alisnya penuh pertanyaan. Begitu menolehkan kepalanya ke arah ranjang, ia mendapati Arita yang mulai membuka kelopak matanya.


"Aku tahu kalian pasti lelah, istirahatlah. Aku bisa menjaga Baron dan diriku sendiri dengan baik," lanjut si wanita dengan sangat pengertian kepada Riko dan anak-anak buahnya yang lain. Namun, ketulusan wanita itu tidak diterima baik oleh sepupu Gibran tersebut.


"Kau tidak perlu repot-repot memikirkan kami, karena kami sudah terbiasa dengan hal ini. SUdah, tidurlah, jangan terlalu banyak berpikir!" tegas si pria sehingga membuat Arita membuka matanya. Melalui ekor matanya, wanita itu mencibir Riko dengan menirukan ucapan pria itu.


"Jingin terlili binyik birpikir!" Riko mendelik tak percaya begitu mendengar penuturan Arita yang tak pernah ia duga sebelumnya.

__ADS_1


"Ya ya ya, kau sangat keras kepala seperti sepupumu itu. Lakukan apa yang kau mau, terserah," sahut Arita dengan memejamkan matanya kembali. Tak ingin membuat perdebatan dengan pria itu, akhirnya Arita benar-benar berniat untuk tidur.


Waktu terus berjalan, haya kesunyian yang menemani Riko di ruang tersebut. Selain Andre dan Patricia yang terus-terusan menghubunginya, Gibran dan Mona pun melakukan hal serupa hanya untuk menanyakan kabar dari Arita dan Baron.


"Apakah kau ingin kopi, Tuan?" tanya salah satu anak buahnya sembari membuka pintu. Mendapati hal itu, membuat Riko menganggukkan kepalanya. Ia rasa, mungkin satu cup kopi panas mampu membuatnya untuk mengusir rasa mengantuk yang mulai menyerangnya.


"Baik, saya akan kembali lima menit lagi, Tuan."


Usai pintu kembali tertutup, pria itu menatap ke arah jam dinding yang berada di atas brankar.


Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Namun, entah mengapa Riko merasakannya sangat lama. Ketika hendak keluar dari ruangan untuk menyusul anak buahnya, pria itu terhenti karena suara dari seseorang.


"Riko?" panggil suara yang ia kenali milik Arita, dengan nada seraknya.


"Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?" tanya pria itu sembari mendekat ke arahnya. Begitu berdiri di sebelah brankar rumah sakit, ia menatap Arita yang masih memejamkan matanya.


"Bisakah kau membantuku ke toilet?" pinta wanita itu sembari membuka matanya tanpa membuat pergerakan.


"Tolong angkatkan Baron terlebih dahulu," pinta wanita itu dengan suara yang begitu pelan, sehingga membuat Baron tetap tidak terganggu dari tidurnya.


Sesuai arahan dari Arita, Riko pun mengangkat tubuh si kecil supaya wanita itu dapat menarik lengannya. Dengan sangat hati-hati Arita pun mencoba untuk bangkit dari posisi berbaring nya sembari berpegangan pada pinggiran brankar. Usai Riko meletakkan tubuh Baron lagi, wanita itu segera turun dan berjalan ke arah toilet yang berada di sebelah ruangannya.


"Sstt ... sstt ... sstt ..." bisik pria itu sembari mengelus dahi milik si kecil agar kembali terlelap. Begitu mendengar rengekan kecil dari Baron membuat Riko sedikit panik untuk menenangkan kembali anak laki-laki itu.


"Arita, apakah kau masih lama?" tanya pria itu berusaha memanggil Arita dan berharap wanita itu dapat mendengarnya. Ia sangat takut jika Baron terbangun dari tidurnya, sehingga merepotkan Arita untuk menidurkannya kembali.


Namun, tak lama setelah itu Arita mulai membuka pintu toilet dan berjalan cepat ke arahnya. Sontak Riko pun merasa lega, setelah ibu satu anak itu kembali mendekat ke arah brankar untuk menenangkan Baron.


"Maafkan aku ... mungkin karena aku terlalu berisik sehingga membuatnya sedikit terganggu," ucap Riko meminta maaf lantaran Baron sedikit menggerakan tubuhnya seolah terganggu. Mendengar hal itu pun, Arita sontak menggelengkan kepala tidak setuju.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, dia memang sedikit sensitif seperti ini ketika tidur," sahut Arita sehingga membuat Riko pun menganggukkan kepalanya paham.


Memang, putra kecilnya itu selalu saja membuat pergerakan setiap kali tidur seolah mencari kenyamanan.


"Kau naiklah terlebih dahulu. Aku akan membopong tubuhnya supaya kau bisa berbaring," titah si pria yang dianggukki oleh wanita itu tanpa menunggu lama. Setelahnya, Riko membantu Baron untuk kembali di posisi semula dengan lengan Arita yang dijadikan sebagai bantalan si kecil.


"Terima kasih banyak dan maaf merepotkanmu terus-terusan," ucap Arita meminta maaf sehingga membuat laki-laki itu tersenyum tipis ke arahnya.


"Tidak apa-apa, santai saja. Jangan menganggap hal itu sebagai permintaan yang berat," sahut Riko dengan memasangkan selimut di tubuh keduanya.


Arita pun terdiam sejenak ketika mendapati perilaku refleks dari pria itu, yang memasangkan selimut di tubuhnya dan juga Baron. Ketika hendak membuka suaranya, mereka berdua langsung memandang ke arah pintu yang terbuka dari luar.


"Maafkan saya, Tuan. Ini satu cup kopi untukmu," ucap salah satu anak buahnya sembari menundukkan kepala lantaran merasa lancang dengan membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Tidak apa-apa, bawakan kemari," ucap Riko tanpa adanya emosi dalam ucapannya. Karena memang tidak terjadi apapun, tak lantas ia merasa terganggu dengan kehadiran pria itu di ruangan ini.


"Terima kasih," ucapnya usai menerima satu cup berisikan kopi panas yang ia percaya dari kantin rumah sakit.


Setelah kepergian anak buahnya, pintu ruangan kembali tertutup menyisakan Riko dan Arita yang masih belum mengantuk.


"Kau kembalilah tidur, ini sudah tengah malam," titah si pria yang kembali dianggukki oleh Arita.


Dalam diamnya, wanita itu merasa sangat beruntung usai mendapatkan musibah yang diterima oleh putranya. Meski awalnya ia akan mengurus masalah ini sendirian, namun nyatanya Riko hadir untuk membantunya.


"Aku menyuruhmu tidur, bukan melamun, Nyonya!" sindir si pria sehingga membuat lamunan Arita buyar olehnya. Wanita yang merupakan calon istri sepupunya itupun, menatap dengan raut wajah sadis.


"Kau persis seperti Gibran," cibirnya sehingga membuat Riko menggedikkan bahunya sebelah. Tak begitu mempermasalahkan ejekan dari Arita, pria itu lantas mulai menyeruput kopi panasnya.


Lagi dan lagi, Arita mengucapkan syukur karena keluarga dari calon suaminya sangatlah baik. Bahkan sepupu Gibran sekalipun, benar-benar membuatnya merasa aman. Arita berharap, semoga keluarga pria itu mendapatkan balasan atas kebaikan yang mereka berikan kepadanya.

__ADS_1


"Tidurlah. Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu,"


__ADS_2