
"Arita, bagaimana dengan suasana disini? Apakah kau nyaman?" Suara tegas namun terdengar lembut itu, membuyarkan lamunannya. Arita sontak mengerjapkan mata berulang kali, dengan menyadarkan pikirannya kembali.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Mona yang saat ini tengah berhadapan dengannya.
Tanpa menunggu lama, Arita langsung menggelengkan kepalanya. Ibu satu orang anak itu nampak anggun dengan balutan celana bahan berwarna hitam, lengkap dengan kemeja berwarna krem. Rambutnya yang sepunggung, diikat menjadi satu sehingga menampakkan leher jenjangnya.
Sembari menyisipkan rambutnya ke belakang, Arita menundukkan kepala lantaran merasa bersalah. Dihari pertama kerjanya, wanita itu sudah tidak fokus sejak pagi karena memikirkan sesuatu. Dan hal itu pun, disadari oleh Monalisa.
"Maafkan saya, Bu ..." tutur si wanita dengan menundukkan kepalanya sejenak. Begitu netranya bersitatap dengan sang atasan, Arita dapat melihat senyum tulus dari wanita yang berdiri anggun di hadapannya.
"Tidak apa-apa, santai saja, Arita. Jika ada problem, kau bisa berbagi cerita denganku. Tidak perlu sungkan," sahutnya dengan mengusap lembut pundak staff barunya itu. Entah mengapa, Mona ingin mengenal lebih jauh mengenai sosok Arita.
Selain membalas senyuman tulus itu, Arita juga menganggukkan kepalanya singkat.
"Ini adalah tempat kerjamu. Di sebelah sana, ada beberapa meja untuk staff lain." Wanita dengan setelan jas serta celana formal itu, mendekat ke arah meja dan kursi yang masih kosong. Kemudian telunjuknya mengarah pada beberapa meja, yang tertata di seberang sana.
__ADS_1
"Sebelumya, di sini ada tiga staff notaris. Karena kau juga staff di notaris ini, total sekarang adalah empat staff. Aku berharap, kedepannya kita akan lebih baik lagi." Arita menganggukkan kepalanya, sembari mengulas senyum ramah ke arah rekan kerjanya.
"Baiklah, sepertinya sudah jelas. Mulai hari ini, kau boleh bekerja. Jangan ragu untuk menanyakan hal-hal yang masih asing bagimu," tandasnya dengan menepuk bahu Arita dua kali.
Setelah memastikan keempat karyawannya sudah berada di kantor, Mona mulai beranjak menuju ruangan pribadinya. Meninggalkan Arita yang kini menatap ke arah rekan-rekan kerjanya.
"Selamat datang, Arita. Semoga betah bareng kita, ya ..." ucap salah seorang staff yang ia perkirakan memiliki usia paling matang. Diikuti anggukkan kepala oleh wanita yang berusia sepantaran dengannya, serta gadis yang nampak segar dengan kacamatanya.
"Jangan sungkan-sungkan begitu, kita kerja santai aja." Wanita yang memiliki usia sepadan dengan Arita itu pun, mencoba untuk mengakrabkan diri dengan pegawai baru di kantor notaris tersebut.
"Salam kenal dari aku, ya. Aku yang masih gadis di sini," kelakar si gadis yang terdengar sangat menggemaskan di telinga mereka semua.
Rasanya, ia sudah sangat merindukan data-data dan berkas yang harus dikerjakannya.
"Ini Mbak, teh angetnya ..." ujar si gadis sembari menurunkan secangkir teh hangat dengan dua toples kue kering. Begitu juga dengan kedua staff lainnya, gadis itu menyerahkan cangkir yang berisikan teh hangat pula.
__ADS_1
"Terima kasih, ya. Maaf merepotkan," ucap Arita yang tak enak hati. Sedangkan si gadis justru terkekeh kecil sembari mengacungkan ibu jarinya ke arah Arita.
"Santai aja, Mbak," sahutnya ringan.
Terlepas dari semua itu, Arita kembali terdiam begitu memori kejadian semalam kembali melintas dibenaknya. Sembari menatap kosong ke arah pintu masuk yang berada di depannya, wanita itu teringat kembali akan sang buah hati.
'Kira-kira, Tuhan ngasih kesempatan Baron untuk punya bapak lagi, nggak, ya?'
Pertanyaan Baron terus saja berputar di benaknya. Bocah laki-laki itu, semalam menanyakan hal yang tak pernah ia duga sebelumnya. Dengan sebisa mungkin, akhirnya Arita menjawab sekenannya.
'Tuhan maha tahu, mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Baron berdoa saja, semoga Tuhan berikan yang terbaik.'
Lain halnya dengan Arita yang tengah melamun, Mona justru menyandarkan tubuhnya dengan berat. Tatapan wanita itu masih mengarah pada berkas, yang terbuka di atas mejanya.
"Ternyata, Arita sudah pernah berkeluarga?" tanyanya pada diri sendiri. Dengan keadaan ruangannya yang sepi, membuat wanita itu terus berpikir keras. Di hadapannya kini, terpampang jelas identitas milik staff barunya itu.
__ADS_1
"Apakah aku harus memberitahunya pada Gibran? Tapi, aku tak mau adikku putus asa ..." timang si wanita sembari menutup wajahnya dengan frustasi.
"Atau kubiarkan saja, Gibran mengetahuinya sendiri? Setidaknya, dia bisa menentukan bagaimana kedepannya."