Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 72


__ADS_3

"Itu semua tidak gratis, Nyonya. Ada yang harus kau bayarkan kepadaku," ucap Riko sembari menurunkan tubuh Arita di atas brankar yang sudah tersedia.


Sementara Riko membantunya untuk berbaring, wanita itu melepaskan lengannya yang mengalung dileher si pria. Setelah tubuhnya dirasa nyaman, Arita kembali mengucapkan terima kasih kepada si pria.


"Apa yang harus kubayarkan?" tanya Arita.


Tak berniat untuk menjawab pertanyaan wanita itu, Riko kembali menutup bibirnya seperti sedia kala. Tangannya membantu Arita untuk melepaskan tali sepatu yang masih dikenakan oleh wanita itu. Setelah terbuka, Riko meletakkannya di bawah brankar rumah sakit.


"Dokter akan datang sebentar lagi," Keduanya menoleh ke arah pintu masuk, ketika mendengar seseorang berucap demikian. Mendapati kedatangan dari seorang suster, membuat Riko menegakkan tubuhnya kembali.


"Lebih baik kau diam, sampai dokter datang untuk memeriksamu. Paham?" ucap Riko dengan menatap ke arah netra sayu milik Arita. Setelah menepuk punggung tangan wanita itu, Riko segera beranjak untuk keluar.


"Tolong bersihkan lukanya," titah pria itu kepada sang suster yang memandangnya tanpa berkedip sejak tadi. Ketika menyadari bahwa perempuan berseragam putih itu tak mendengarnya, membuat Riko berdecak sedikit lebih keras.


"Apakah kau tidak mendengarku?" sindirnya.


"E-eh, baiklah. Aku akan membersihkan lukanya," gagap si perempuan sembari berjalan mendekati brankar, lengkap dengan sebuah nampan stainless steel yang berisikan peralatan kerjanya.


Melalui ekor matanya, Riko kembali memastikan apakah suster itu benar-benar menjalankan perintahnya ataupun tidak. Setelah Arita mendapatkan penanganan, Riko beranjak dari posisinya berniat untuk menilik Baron yang masih berada di ruang IGD.


"Sus, kenapa grogi begitu?" tanya Arita tatkala mendapati tangan perempuan di sebelahnya itu terus-menerus bergetar ketika membersihkan luka di wajahnya.


"Suaminya serem, Bu. Saya aja takut," tutur perempuan itu dengan memandangi ke arah pintu yang beberapa saat lalu dilewati oleh Riko untuk keluar. Sontak, Arita yang mendengarnya pun terbelalak dibuatnya.


Tak lama setelah itu, Arita terkekeh ringan begitu mendengar pengakuan suster itu. Untuk menutupi kecanggungan antaranya dan perempuan itu, Arita mengajak perempuan itu untuk sedikit berbincang.


"Dia bukan suami saya, Sus ..." akunya singkat.


"Oalah, tadi tak kirain suaminya. Tapi sudah cocok jadi suaminya," sahut perempuan itu sehingga membuat Arita menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Ditatapnya luka di tangan miliknya yang sudah bersih, sehingga membuat Arita tersenyum singkat.


"Terima kasih ya, Sus," ucap Arita dengan tulus.


"Baik, saya tinggal dulu ya? Mungkin sepuluh menit lagi dokternya datang," setelah pamit kepada Arita, ia pun segera keluar dari ruangan yang ditempati oleh pasien baru tersebut. Meninggalkan Arita yang masih tidak percaya akan semuanya.


Sementara disisi lain, Riko memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Tepat di hadapannya kini, pria itu menatap ke arah kaca yang berada di pintu ruang IGD. Seorang dokter tengah menangani Baron dengan telaten.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja," gumam Riko sembari mengingat betul wajah Banu.


Setelah melihat Baron yang dipasangi selang oksigen di bibirnya, Riko mulai menghela napasnya. Ketika hendak mendudukan tubuhnya di atas bangku, sebuah panggilan masuk membuat ponselnya berdering.


"Halo, Om?" sapa si pria ketika Andre meneleponnya.


"Bagaimana keadaan disana? Apakah aku perlu mengirimkan bantuan?" tanya pria diseberang sana dengan nada yang terdengar khawatir.


"Semua sudah baik-baik saja, Om. Tenanglah, tidak perlu mengirimkan orang lagi untuk mengurus ini. Arita dan Baron sudah berada di rumah sakit," papar keponakannya sehingga membuat Andre dan Patricia yang mendengarnya pun merasa lega.


"Kerja bagus, boy. Bagaimana keadaan mereka?" tanya Patricia dengan mengambil alih ponsel milik suaminya.


"Baron tak sadarkan diri, dan sekarang masih di ruang ICU. Sementara Arita, dia mendapatkan beberapa luka gores dan lututnya yang cidera," jelasnya sehingga membuat tantenya menutup bibir dengan merasa syok.


"Berikan penanganan terbaik untuk mereka, oke? Kita harus menjaga mereka sebaik mungkin demi Gibran," pesan tantenya sebelum menutup panggilan keduanya.


Sementara Riko, pria itu seolah baru menyadari sesuatu sehingga membuatnya diam. Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, Riko mendudukkan tubuhnya dengan tenang. Tak lupa, pria itu mengeluarkan sebatang rokok dan juga pemantiknya.


"Don't be stupid, Riko ..." monolog si pria.


"Gibran?" monolognya dengan mengatap layar ponsel.


"Kenapa, Gib?" tanya si pria dengan menghirup batang rokoknya dalam-dalam. Dari ponselnya ia bisa mendengar, jika sepupunya itu tengah berada di keramaian entah dimana.


"Gimana keadaan Arita sama Baron? Mereka baik-baik aja, kan?" tanya sepupunya itu seolah menuntut jawaban dari dirinya. Setelah mengepulkan asap rokoknya, Riko berdehem singkat sebelum menjawab.


"Arita baik-baik saja, sementara Baron masih di IGD." Gibran menghembuskan napasnya berat, dan hal itu didengar jelas oleh Riko—sepupunya sendiri.


"Tidak usah khawatir, Gib. Selesaikan saja pekerjaanmu, aku akan menghandle nya sebaik mungkin," ucap Riko berusaha untuk menenangkan Gibran. Ia tahu betul, bahwasannya sepupunya itu tengah mengurus pekerjaan penting yang harus diurus.


"Selesai project ini, aku pulang secepatnya," putus pria itu dengan mantap. "Aku ambil flight besok pagi," imbuhnya setelah menatap layar ponselnya sendiri.


Mendengar itupun, membuat Riko mengangguk-anggukkan kepalanya singkat. "Tidak usah buru-buru, semuanya sudah aman."


"Arita dimana? Biar aku yang bicara padanya," tanya Gibran berharap bisa mendengar suara calon istrinya. Sementara ponsel milik wanita itu tidak dapat dihubungi sejak sore tadi.

__ADS_1


"Dia ada di ruangannya, sedangkan aku ada diluar," sahut Riko dengan menatap ke arah sekitarnya, dimana suasana lumayan sepi untuk seukuran rumah sakit besar seperti ini.


"Bisakah kau ke ruangannya?" pinta Gibran.


"Hei, kau ini sangat merepotkanku. Baiklah," meski merasa sedikit jengkel pada sepupunya, Riko tetap mengiyakan permintaan dari pria itu. Tanpa menunggu lama, ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Arita.


"Sebagai gantinya, aku akan memberikan apapun yang kau minta," ucap Gibran berusaha untuk bernegosiasi.


"Yah, tentu saja. Kau harus mencarikanku calon istri," sahut Riko dengan blak-blakan. Sontak, keduanya terkekeh singkat saling menertawakan satu sama lain. Komunikasi keduanya terbilang sangat jarang sebelum-sebelum ini.


Ceklek ...


Begitu Riko membuka pintunya, Arita nampak meringis kesakitan ketika tangan dokter itu menyentuh kakinya. Secara refleks, Riko langsung mendekat ke arah brankar dengan sedikit khawatir.


"Kau baik-baik saja?" tanya Riko dengan nada yang sarat akan kekhawatiran. Sementara Gibran yang mendengarnya pun, turut merasa khawatir akan keadaan Arita.


Wanita itu menatap Riko dengan tatapan yang sulit diartikan. Hanya karena dirinya meringis kesakitan, pria itu langsung menunjukkan sikap yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Pria yang identik dengan sifat dinginnya, kini terlihat lebih ekspresif.


"Tidak, tadi lukanya tersenggol sedikit," sahut Arita menjelaskan.


"Apakah kondisinya baik-baik saja, Dok?" tanya Riko beralih pada wanita dengan sneli yang menggantung dilehernya. Masih dengan ponsel yang menyambungkan panggilannya dengan Gibran, pria itu menanyakan keadaan Arita.


"Kondisinya baik, lain halnya dengan lutut pasien yang mengalami infeksi karena ada pecahan kaca dan beberapa batu kecil yang menempel. Tapi sudah kami bersihkan," jelasnya sehingga membuat Riko menatap singkat ke arah wajah Arita.


"Kami sarankan untuk mengonsumsi banyak air mineral," imbuhnya sehingga membuat Arita menganggukkan kepalanya singkat.


Sebenarnya wanita itu merasa baik-baik saja. Namun, Riko lah yang memaksa untuk membawanya ke rumah sakit ini. Padahal, ia bisa membersihkan lukanya sendiri di rumah.


"Saya tinggal dulu, ya? Permisi," ucap sang dokter.


Setelah kepergian dari wanita itu, kini Arita menatap heran ke arah Riko yang berdiri di sebelah brankarnya. Seakan paham akan tatapan wanita itu, Riko memberikan ponselnya pada Arita.


"Gibran ingin bicara denganmu," tuturnya sehingga membuat Arita menatap tak percaya ke arahnya. Tanpa ingin mengganggu privasi keduanya, Riko memilih untuk segera keluar dari ruangan itu.


Dalam diamnya, Arita menatap punggung Riko yang semakin menjauh. Kemudian, atensi wanita itu tertuju pada suara seorang pria yang memanggil namanya.

__ADS_1


"Arita? Maafkan aku,"


__ADS_2