
"Eh ada Om Gibran. Baron boleh minta tolong bantuin ibu?" ucap si kecil yang berhasil menarik perhatian kedua orang dewasa itu. Dengan mengerutkan keningnya, Gibran mulai mendekat ke arah meja bundar berukuran besar di tengah ruangan itu.
"Kau masuk?" tanya si wanita dengan nada yang terdengar penuh keraguan.
"Maaf, tapi aku hanya berniat untuk pamit. Apakah ada yang salah?" jawabnya sehingga membuat Arita menganggukkan kepala untuk kemudian. Pandangannya kembali fokus pada sebuah kardus besar yang berada di depannya.
"Ada yang bisa kubantu, Nona?" tawar si pria yang tak dihiraukan oleh Arita. Tangannya masih sibuk berusaha untuk membuka kardus kiriman dari Retno dan Dendi, yang entah kenapa seketika sangat sulit terbuka.
"Ibu memang terlalu gengsi, Om ..." sindir si kecil yang membuat Gibran menganggukkan kepala disertai kekehannya. Tak ingin membiarkan wanita itu mengalami kesulitan, Gibran langsung mengambil alih tugas tersebut.
"Beri tahu ibumu, boy. Meminta tolong bukanlah hal yang sulit," imbuh pria berpawakan kekar yang sangat identik dengan aroma maskulinnya. Tawa geli dari bocah kelas 1 SD itu terdengar sangat renyah baik ditelinga Gibran maupun sang ibu.
Arita benar-benar tak menyangka, bahwasannya sang putra kini nampak akrab dengan pria asing itu. Melihat keduanya yang asik bercengkrama usai menyindir dirinya, membuat Arita tak habis pikir. Terutama sang putra, yang nampak excited meladeni Gibran.
__ADS_1
"Kemarikan buku-bukunya, biar ibu yang tata."
"Oke, ibu!" Yang mengejutkan, keduanya menjawab dengan serentak sehingga membuat Arita mendelik tak percaya. Setelahnya, Baron dan Gibran tertawa lepas begitu merasa geli oleh tingkahnya masing-masing.
"Tidak usah bercanda, sudah malam," judesnya yang membuat Gibran langsung mengatupkan bibirnya rapat. Lain dengan Baron, yang kini menatap punggung sang ibu sembari menopang dagunya.
"Ibu," panggil si kecil.
"Om Gibran ini teman kerjanya ibu, ya?" tanya Baron yang berusaha memastikan. Melihat anggukkan kepala sang ibu, cukup membuatnya mengerti.
Dalam diamnya, Gibran memperhatikan setiap gerak-gerik ibu dan anak yang ada di dekatnya itu. Sebagai seorang pria, jujur saja Gibran merasa iri terhadap kehangatan yang tercipta antara Baron dan ibunya. Karena tentu saja, ia tak mendapatkan hal tersebut dari ibu kandungnya.
"Tugas sekolahnya sudah di cek lagi?" tanya Arita yang kembali teringat akan tugas putranya.
__ADS_1
"Ternyata udah tak kerjain, Bu. Baron lupa, padahal dikerjain bareng-bareng tadi siang," akunya dengan cengiran tanpa salah yang sangat khas. Arita hanya menggelengkan kepalanya saja, putra tunggalnya itu kerap kali heboh hanya karena hal kecil.
Lagi dan lagi, Gibran dibuat tertegun oleh sikap keduanya. Entah mengapa, hal seperti inilah yang ingin ia dapatkan dari sang ibu. Namun, setelah dilahirkan sejak 25 tahun silam, Gibran tak pernah sekalipun merasakan figur seorang ibu, meskipun mamanya masih hidup.
"Oh iya ... maaf aku memasuki rumahmu begitu saja. Aku tidak bermaksud lancang, hanya saja kau tidak menyahuti panggilanku," jelasnya yang membuat si wanita menghentikan gerakannya menata beberapa buku pada rak berwarna putih.
"Tidak apa-apa, aku tahu maksudmu," sahut Arita yang membuat Gibran mengulas senyumnya tipis.
"Aku pamit dulu, ya? Kakak iparku sudah menunggu," pamitnya yang disambut anggukkan kepala oleh tuan rumah tersebut. Sedangkan Baron, bocah laki-laki itu menundukkan kepala seakan tak menyetujui hal itu.
"Hei boy, Paman Edward sudah menungguku dirumah. Kita lanjut besok lagi, okey?" ucapnya dengan berjongkok tepat di depan bocah laki-laki itu. Sedangkan putra dari Arita pun, menganggukkan kepala dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bagaimana jika besok, aku saja yang menjemputmu sekolah?"
__ADS_1