
"Dua belas ditambah lima? Gini caranya,"
"Udah Ibu, jawabannya tujuh belas. Baron udah tau jawabannya, ngapain susah-susah diajarin gitu sih?" gemas sang bocah, yang kini duduk diatas karpet. Kedua tangan mungil bocah itu, menyangga kepalanya dengan wajah melas.
"Ya udah, soal selanjutnya." Arita hanya menganggukkan kepala, entah yang keberapa kalinya. "Tujuh belas dikurangi sembilan, berapa?" tanyanya dengan memandangi wajah tampan sang buah hati.
Lagi dan lagi, Baron hanya menepuk dahinya menggunakan tangan. Bocah laki-laki itu, menatap lekat manik mata sang ibu, yang nampak sangat teduh baginya.
"Jawabannya delapan ... Kenapa, Ibu mau kasih soal lagi?" jawab si tampan dengan menanyakan hal yang sama, untuk kesekian kalinya.
Sedangkan Arita, wanita itu justru terpingkal-pingkal begitu mendengar jawaban sang putra. Kedua tangannya, menarik pipi bulat bocah itu karena merasa gemas. Setelahnya, ia mengangkat tubuh Baron untuk dibawa ke atas pangkuannya.
"Kenapa anak Ibu pinter banget, sih?" gemas wanita tersebut sembari menggesekkan hidungnya dengan sang putra.
Terhitung, sudah satu jam keduanya duduk santai di depan televisi. Baron nampak asyik, dengan bersenandung ringan seperti biasa. Sedangkan Arita, wanita itu terus-terusan memberikan soal pada sang buah hati.
"Yo harusnya bersyukur to, Bu. Anaknya pinter kok malah gusur," jawab si bocah dengan logat jawanya. Dan jawaban itulah yang membuat Arita semakin terkekeh geli.
__ADS_1
"Pertambahan sama pengurangan itu, udah diajarin dari dulu. Mending kalau mau kasih soal, yang perkalian atau pembagian aja. Mau nggak, Bu?"
Mendengar sang putra yang tawar menawar, membuat si wanita pun menganggukkan kepalanya. Masih dengan posisi bersandar di sofa yang terletak di ruang tengah, wanita itu memangku tubuh Baron dan memeluknya erat.
"Eum ... Kalau tujuh dikalikan tiga, berapa?" tanyanya yang membuat si bocah langsung menatap ke arah plafon rumah.
"Dua puluh satu," sahut Baron dengan senyum tengilnya.
"Sembilan dikali dua?" tanya Arita dengan cepat. Begitupun dengan Baron yang menjawabnya dengan cepat. Berkali-kali, hingga sang ibu mulai lelah. Sedangkan si bocah, kini tertawa puas melihat ibunya yang mencubit kedua pipinya.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat, yang membuat wanita itu menatap mata si kecil. Tak ada tanda-tanda, jika bocah itu mulai mengantuk. Bahkan, kedua mata bulat itu masih menatapnya dengan segar.
"Tapi, Ibu rasanya sudah ngantuk. Baron mau tidur juga, nggak?"
Meskipun dirinya belum mengantuk sama sekali, Arita berusaha untuk meyakinkan bocah yang ada di pangkuannya ini. Setelah mengedipkan matanya berulang kali, Arita juga menutup bibirnya sembari menguap kecil.
"Ibu ngantuk? Okey, ayo kita meluncur!" seru sang putra dengan mengangkat kedua tangannya. Disertai tawa yang berderai, Arita mulai beranjak dari posisinya sembari menggendong Baron.
__ADS_1
Setelah menggosok gigi dan mencuci kaki mungil sang putra, Arita bergegas menuju kamar. Untuk jangka waktu dekat, mungkin putranya itu masih tidur menjadi satu dengannya. Tentu saja karena kamar untuk Baron belum siap ditempati.
"Ini hampir jam setengah sembilan loh, Nak. Kok tumben-tumbenan, kamu belum ngantuk?"
Setelah membantu sang putra menaiki ranjang, wanita itu segera mematikan lampu utama. Pencahayaan yang semula terang benderang, kini tergantikan oleh lampu tidur yang remang-remang.
Sebelum merebahkan tubuhnya, Arita melepaskan jepit dan merentangkan kedua tangannya ke arah Baron.
"Sini, Ibu puk-puk ..." Usai merebahkan tubuhnya, wanita itu mulai merengkuh tubuh mungil sang putra. Begitupun dengan lengan mungil, yang kini melingkar sempurna di punggung bagian bawahnya.
Secara perlahan, wanita itu menepuk pantat sang putra. Sesekali, Arita membisikan kalimat penenang di telinga sang buah hati. Namun bukannya terlelap, Baron justru mendongakkan kepalanya.
Ditengah-tengah cahaya yang minim, putranya itu mulai mengusap lembut punggung tangannya. Hal tersebut, sontak membuat Arita mengerutkan alisnya bingung.
"Ibu ..."
"Kenapa, hm?" tanya Arita dengan mengusap lembut surai lebat sang buah hati. Bukannya melanjutkan ucapannya, Baron justru menyembunyikan kepala di ceruk leher sang Ibu. Arita semakin dibuat penasaran oleh tingkah sang buah hati.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang? Coba kasih tau Ibu," pintanya dengan nada yang jauh lebih lembut. Setelah menjauhkan kepala si bocah, Arita mencoba menatap manik mata bulat itu.
"Kira-kira, Tuhan ngasih kesempatan Baron punya bapak lagi, nggak, ya?"