
"Dia calon putraku juga," ucap Gibran sehingga membuat semua tatapan mengarah padanya. Terutama ketiga staff perempuan, yang sejak tadi mempertanyakan identitas Baron.
Begitupun dengan Arita, yang kini menatap lekat kearah netra gelap pria itu. Ketika pandangannya saling bersitatap, Arita seolah menyampaikan pesan bahwasannya ia mencegah Gibran untuk membicarakan hal ini.
"Dia putraku, Mbak. Namanya Baron," ungkap si wanita yang membuat ketiganya menatap antusias ke arah anak laki-laki tersebut.
"Ganteng banget," puji Tiffani dengan menyentuh pipi si kecil. Mendapati hal itu, Baron lantas mengucapkan terima kasih kepada perempuan yang berparas manis.
"Kemari, Boy ..." ucap Edward dengan merentangkan kedua tangannya ke arah Baron, sehingga membuat bocah tampan itu menatap ke arah sang ibu terlebih dahulu.
Seolah meminta izin dari ibunya, Baron menatap ke arah Mona dan Edward yang sudah menatapnya lekat sejak tadi. Begitu Arita menganggukkan kepalanya, Baron langsung berlari memutari meja ke arah pasangan harmonis itu.
"Hei, apakah disekolah menyenangkan?" tanya Edward begitu putra dari Arita itu mulai menyandarkan tubuhnya dengan senyuman lebarnya. Begitupun dengan Mona, yang menata rambut halus si kecil menggunakan kedua tangannya.
"Baron senang, tadi ada banyak pelajaran," sahutnya.
Mendengar hal itupun, justru membuat Gibran terkekeh geli. Ternyata Baron sangat persis dengannya, ketika usianya menginjak 10 tahun. Dimana dirinya justru sangat menikmati banyaknya pelajaran, tidak seperti teman-teman pada umumnya.
__ADS_1
"Makan siang dulu, yuk? Nanti keburu dingin ayam bakarnya," ajak Mona sembari membuka tempat makanan yang ia beli khusus untuk anak laki-laki itu.
"Ini nggak papa aku suapin, Ar?" tanya Mona meminta izin kepada Arita.
"Nggak apa-apa, Bu. Biasanya dia juga makan sendiri," sahutnya sehingga membuat Mona terkekeh kecil. Dengan posisi Baron yang berada di pangkuan Edward, Mona mulai menyuapkan makanannya pada si bocah.
Sementara itu, ketiga perempuan yang masih terkejut itupun, benar-benar tak menyangka akan kedekatan antara Arita dan keluarga Mona. Meski begitu, ketiganya juga turut bahagia begitu melihat raut wajah Arita yang terlihat legowo.
"Mau nambah?" tawar Gibran dengan menatap Arita.
"Tambahin aja ke piringmu itu," jengkel si wanita sembari menjauhkan piringnya dari jangkauan pria tersebut.
Semua gerak-gerik mereka disaksikan jelas oleh Mona dan Edward. Keduanya saling bersitatap dan mengulas senyum tipis, lantaran turut merasa gemas akan interaksi mereka berdua.
"Kalau begitu, kan, malah enak dilihatnya. Daripada Mas Gibran sama Arita judes-judesan," celetuk wanita yang mengenakan jilbab berwarna hitamnya.
Sontak, Arita langsung menegakkan tubuhnya dengan kaku, lantaran merasa sedikit malu akan kecerobohannya. Sedangkan Gibran, pria itu menatap ke arah wajah pias si wanita dengan terkekeh geli.
__ADS_1
"Kamu nahan buang air? Pucet gitu mukanya," canda si pria yang dihadiahi tatapan sadis dari Arita.
"Paman tahu Tom and Jerry?" tanya Baron sembari menongakkan kepala berusaha menatap ke arah wajah blasteran milik Edward. Begitu suami Mona tersebut menganggukkan kepalanya, Baron menunjuk ke arah ibunya dan Gibran.
"Ibu dan Om Gibran seperti Tom and Jerry, kan?" tuturnya dengan polos, sehingga membuat semua orang tertawa kecuali Arita. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya seraya menatap heran ke arah sang putra.
Dikarenakan pekerjaan kantor yang tidak begitu banyak, membuat Mona memutuskan untuk menutup kantor lebih awal. Lagipula ini sudah menuju weekend, sehingga Mona memberikan waktu lebih banyak untuk staffnya menikmati akhir pekan.
Usai ketiga staff lamanya meninggalkan kantor, kini tersisa sepasang suami istri tersebut, lengkap dengan Gibran serta Arita dan Baron. Karena ada suatu alasan, Mona meminta wanita itu untuk tetap berada di kantor.
"Hari ini mama dan papaku akan datang kemari," ucapnya yang mengejutkan Arita.
"Aku dan Edward sudah menceritakan niat Gibran sejak kemarin. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk langsung datang kemari," imbuhnya yang semakin membuat Arita tak bisa berkata-kata. Karena sejauh ini, ia hanya menganggap semua omongan Gibran adalah guyonan semata.
"Nanti kamu temui mereka, ya?" pinta Mona dengan raut wajah memohonnya. "Tidak apa-apa, kami akan menemanimu. Jangan khawatir," tenangnya yang tidak cukup membuat Arita merasa lega.
"Mungkin sore nanti mereka akan kami bawa kerumah mu,"
__ADS_1